Tuesday, May 12, 2020

Malam Ke-19: Iman Yang Menembus Langit

0 comments

https://www.birulangit.id/

 

Oleh Dr Afrianto Daud

---

Birulangitid-Mereka yang memiliki intelegensi quotient (IQ) yang tinggi, seperti mereka yang memiliki IQ lebih 160, belum tentu sanggup dan belum tentu mau bepuasa. Karena, syarat utama untuk bisa berpuasa bukanlah tentang seberapa cerdas seorang hamba. Tapi, lebih tentang seberapa beriman yang bersangkutan kepada Allah dan Rasulnya. Karenanya, sangat tepat jika yang dipanggil Allah dalam Q.S. 2:183 yang terkenal itu adalah ‘wahai orang-orang yang beriman’, bukan ‘wahai orang-orang yang pintar’.

 

Penekanan pada iman dalam melaksanakan puasa, dan juga pada banyak amal lainya, dalam Islam tentu bukan berarti bahwa mereka yang beriman adalah orang yang tidak cerdas. Atau tak bisa pula dipahami bahwa kecerdasan akal menjadi tak penting. Akal dan atau kecerdasan juga mendapat posisi penting dalam beragama. Seorang yang beriman seharusnya juga seorang yang cerdas akalnya, tajam pikirannya. Namun, dia tak boleh berhenti sampai di sana saja. Cerdas intelektual saja tidak cukup!

 

Sebagaimana kecenderungan dalam banyak agama, iman dan atau keyakinan pada ajaran agama mendahuli segala aspek lain dalam diri kita. Berbeda dengan filsafat yang dimulai dengan ‘keraguan tentang sesuatu’, agama mesti dimulai dengan keyakinan (iman) pada setiap ajaran dan dogmanya. Iman adalah dasar seseorang dalam berislam. Akal, hati, nafsu, dan potensi manusia lainnya mestilah tunduk dan mengikuti iman. Iman adalah ordinat, sementara yang lain adalah subordinat saja.

 

Konsekwensi syahadat seorang muslim akan membawa dia mengimani keberadaan Allah dan kebenaran Rasul-Nya. Bahwa Allah adalah hak. Rasululullah SAW adalah hak. Segala sesuatu yang terverifikasi disandarikan kepada Rasulullah SAW adalah hak. Mereka meyakini kebenaran kitab suci. Mereka meyakini keberadaan malaikat. Mereka yakin dengan akan datangnya hari kiamat. Termasuk membenarkan adanya ketentuan Allah SWT dalam bentuk tadir (baca: rukum iman).

 

Adalah sahabat Abu Bakar yang kemudian digelari ‘As-Shiddiq’ (yang membenarkan) telah memberikan satu contoh tentang praktek iman ini dengan sempurna. Yaitu ketika beliau menjadi orang pertama yang meyakini dan membenarkan berita tentang perjalanan Rasulullah SAW pada suatu malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa kemudian naik ke langit, bertemu Allah di sidratul muntaha. Sebuah berita yang ‘tak masuk akal’ manusia. Beyond logic. Tapi, karena berita itu datang dari baginda, dia tanpa ragu membenarkan. Karena, Abu Bakar RA meyakini bahwa Rasulullah SAW tidak menyampaikan sesuatu kecuali berbasis wahyu yang disampaikan kepadanya (Q.S. 53:3).

 

Hanya dengan perspektif iman jugalah kemudian kita bisa memahami dan bisa membenarkan banyak kisah lain yang Allah sebut di dalam Al-Quran. Kisah perintah penyembelihan Ismail terhadap nabiyullah Ibrahim AS, misalnya. Atau tentang kisah tertidurnya tujuh pemuda di dalam gua selama 309 tahun itu (ashabul kahfi). Sekali lagi, ini semua adalah kisah-kisah yang tak bisa hanya dicerna akal atau kecerdasan manusia biasa. Ini hanya bisa dipahami dengan sudut pandang iman itu.

 

Ketundukan akal pada iman juga terlihat saat kita menjalankan ibadah haji. Kalau kita hanya memakai perspektif akal standar saja, maka bisa saja kita kemudia bertanya atau malah mempertanyakan. Mengapa jutaan muslim mesti datang ke Makkah ‘hanya’ untuk menyembah Allah. Bukankah Allah itu ada di mana saja. Tak dibatasi ruang dan waktu. Kemudian mengapa kaum muslimin berlomba untuk mencium batu hitam itu, padahal bentuknya ‘hanyalah’ seperti batu hitam biasa?

 

Ada banyak pertanyaan lain yang bisa kedengaran logis atau masuk akal untuk dipertanyakan. Namun, dari kacamata iman, jawabannya pendek saja. Kita berangkat ke tanah suci dari berbagai sudut dunia, kita mengitari ka’abah dalam thawaf kita, kita berusaha mencium hajarul aswad (walau tak wajib), kita melempar batu di jamarat, bukan karena itu ilmiah dan masuk akal, tetapi lebih karena itu yang disuruh Allah dan dicontohkan Rasulullah SAW.

 

Mereka yang imannya benar pada akhirnya menyadari bahwa logika manusia adalah sesuatu yang terbatas. Maka, sesuatu yang terbatas itu tak akan pernah bisa sepenuhnya memahami sesuatu yang tanpa batas. Di sinilah kemudian iman bekerja dan mendapatkan tempatnya.

Mengingat pentingnya menempatkan iman di atas segalanya, maka di tengah usaha kita untuk mengasah kecerdasan pikiran kita, jangan lupa untuk juga terus mengasah ketajaman iman kita, keyakinan kita.

 

Pendidikan yang ideal dalam konteks pendidikan Islam kemudian adalah yang bisa mengasah kedua aspek ini. Tarbiyah fikriyah (pendidikan akal) haruslah sejalan dengan tabiyah ruhiyyah (pendidikan jiwa).

 

Kecerdasan akal seseorang mungkin bisa membawanya pada penemuan hebat, seperti teknologi yang bisa mengantar mereka ke bulan. Namun, hanya dengan kecerdasan spiritual sebagai hasil dari pendidikan jiwa itu yang akan membuat seseorang bisa memahami siapa yang mencipta bulan, bumi, dan matahari.

 

Hanya kecerdasan ruhiyyah yang membuat seseorang bisa memahami sesuatu yang menembus tingginya lahit, melewati batas kedalaman samudera, melampaui jauhnya bulan dan matahari. Keyakinan akan adanya hidup setelah mati, misalnya, adalah contoh dari hasil pendidikan ruh yang benar. Keyakinan ini tak bisa didapatkan dari hanya mempelajari ilmu sains yang kering dari sentuhan nilai-nilai ilahi.

 

Jika seorang yang berpendidikan tinggi, begitu bersemangat menulis, berkarya, mengumpulkan angka kredit untuk karir di dunia, adalah waktu yang tepat untuk bertanya, sudahkah semangat dan keseriusan kita sama untuk menulis catatan-catatan kebaikan dalam bentuk amal baik lain sebagai bekal kita di akherat kelak?

 

Jika kita bisa membaca dua tiga jurnal dalam sehari, bisakah kita juga menyelesaikan satu dua juz Al-Quran dalam sehari?

---

Demikian serial #semacamkultum malam ini

 

No comments:

Post a Comment