Sunday, June 24, 2012

Enjoy Life VII (Aku dan LDK 6)



Aku adalah seorang yang study oriented.
Aku adalah seorang yang sangat akademisi.
Aku adalah seorang yang pernah memandang sebelah mata, merendahkan bahkan mencibir  para aktivis sekolah.
Aku adalah seorang yang cuek, tak peduli dengan kondisi sekitar. Hanya memikirkan kesholihan diri sendiri. Yang penting sholat dan  puasa ku jalan, yang penting sudah menutup aurat, yang penting gak pacaran, tanpa memikirkan bagaimana pentingnya mengajak orang lain dalam kebaikan.
…………….
Ahhh…itulah aku! Aku di masa SMA. Mengingat masa-masa itu, ada gurat sedih di hati ini. Aku masih ingat betapa seorang akhwat berusaha mendekatiku. Kalo istilah kerennya, “dakwah fardhiyah”.
Ya, kosa kata yang begitu asing di telinga ku dahulu, tapi kini selalu terngiang-ngiang dan menjadi sebuah keharusan dalam strategi dakwah. Aku tak pernah sedikitpun mencurigai pendekatan yang dilakukannya. Yang ku ingat adalah betapa ia mencoba mengenalkan ku kepada dakwah, mengajakku masuk rohis, mengajakku untuk bergabung bersamanya dalam ta’lim pekanan. Semua ku tolak dengan banyak alasan. Selain memang waktu ku habis digunakan untuk sekolah, les, belajar, sisa waktu ku pun dihabiskan untuk membantu ibu. Masak, ke pasar, beresin rumah, maklum aku adalah anak perempuan pertama, kakakku adalah seorang laki2 yang gak banyak bisa diajak kerja sama untuk urusan dapur. Ditambah lagi cara pandang ku terhadap seorang aktivis  yang amat buruk. Di mata ku, aktivis itu adalah sekumpulan orang yang punya prestasi jelek dibidang akademis. Lihat saja teman2 sekelasku. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari dipanggil karena belum mengerjakan PR (tugas rumah.red), nilai ulangan harian rendah, atau karena seringnya bolos pengayaan, dan prestasi-prestasi buruk lainnya. Itu semua menjadikan ku ‘alergi’ & ilfil (ilang filing.red) terhadap aktivis, bahkan aku menolak tanpa berpikir panjang ketika ada tawaran dari seorang sahabat untuk mendaftar di rohis.. Ya, aku ilfil terhadap lembaga dakwah, meski bukan lembaga dakwah yg bersalah.
Sekarang, dibangku kuliah, aku merasa seperti seorang bayi. Terlahir dengan pemikiran dan paradigma baru tentang dakwah. Komitmen untuk berubah pasca sekolah begitu kuat, meski sebelumnya pun banyak keraguan yang menggelayut hati ini. Ragu karena cita-cita ku menjadi seorang dokter. Tentu saja aku akan kuliah di fakultas kedokteran yang katanya tiada hari tanpa belajar. “Anak kedokteran itu paling sibuk, sibuk praktikum, sibuk belajar”, kata seorang teman. “Waktu yg ada saja gak cukup buat belajar, apalagi kalo kamu sibuk dengan urusan organisasi”, tambahnya lagi. Tapi Alhamdulillah, meski suara-suara sumbang itu terdengar nyaring, toh Allah Sang Pembolak-balik hati masih memberikan hidayahNya kepada ku.
………..
Selamat datang di Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia. Tulisan itu menyadarkan ku bahwa cita-cita ku tuk menjadi seorang dokter akan segera terwujud. Ya, aku berhasil diterima di fakultas ini. FK, boleh dibilang tempat aku menerima hidayah. Di sinilah aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, yang mampu membuatku memahami makna tentang kewajiban berkontribusi, kewajiban mengajak dan menyeru pada kebaikan, bahwa di dalam diri ini ada hak orang lain yang harus diberikan. Sampaikanlah walau satu ayat. Begitulah ajakan mereka.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk aktif di lembaga dakwah Fakultas kedokteran, yang bernama CMIA (Center of Medical Islamic Activities). Mulai dari sinilah aku mengenal Lembaga Dakwah Kampus (LDK) itu sendiri.
Kodisia, Korps Dakwah Universitas Islam Indonesia, adalah nama LDK di kampusku. Lahir tahun 1993 dengan berkali-kali berganti nama, membuat LDK ini tampil sebagai sebuah lembaga dakwah yang cukup mapan, sekaligus membawahi sembilan lembaga dakwah yang berdiri di masing-masing fakultas. Namun, keberadaan kodisia di bawah DPPAI (Dewan pembimbing dan Pembina agama Islam) membuatnya tidak mampu berkembang sesuai usia. Banyak kerikil-kerikil kecil yang membumbui perjalanan LDK kodisia. Puncaknya adalah saat kepengurusan ku, tahun 2011. Isu besar yang berkembang di kalangan DPPAI (pihak kampus) adalah bahwa kodisia sudah tidak murni lagi sebagai lembaga dakwah mahasiswa, karena sudah tercemari oleh partai politik tertentu yang membawa misi kekuasaan partainya. Salah satu buktinya adalah baik alumni LDK maupun pengurus saa itu, merupakan orang-orang yang bekecimpung di kepartaian tertentu, meskipun itu belum bisa dikatakan bukti yang kuat, tetapi setidaknya mampu mengguncangkan dunia kampus bahkan menjadi bahan perbincangan khusus di kalangan mahasiswa terutama mahasiswa pergerakan.
Tepat di Bulan Oktober 2011, kodisia resmi dibubarkan. Keputusan yang sangat berat, namun kami tak ingin menunggu lama lagi. Walau bagaimana pun, alur dakwah kampus harus tetap berjalan, dan telah banyak kerja-kerja dakwah yang terlewatkan akibat masalah ini.
Semua di awali dg pengunduran diri mas’ul kodisia periode 2011-2012, akhina Uman Miftah Sajidin. Kami tak tahu tau persis alasan pengunduran diri tersebut, mungkin saja berkaitan dengan ketidakjelasan status LDK, sebab sejak 5 bulan yang lalu dinyatakan resmi sebagai ketua dalam musyawarah besar, kemudian terbentuk calon pengurus, namun belum juga dilantik secara lembaga oleh pihak kampus, dalam hal ini adalah DPPAI.
Beberapa hari pasca kemunduran diri sang ketua, ternyata juga diikuti oleh beberapa calon pengurus yang lain. Tinggalah kami bertiga yang bertahan untuk melanjutkan perjuangan dakwah ini. Setelah melewati perjuangan panjang, akhirnya kami menyerah. Ya kami menyerah untuk tidak memperjuangkan kodisia lagi, tetapi sesungguhnya perjuangan dakwah kami tidak berhenti sampai di sini. Melalui musyawarah istimewa, kodisia resmi kami tinggalkan. Lalu bersama teman-teman aktivis lainnya, kami membentuk sebuah forum, sebut saja  FSLDF (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas). FSLDF dibentuk untuk mengambil fungsi kodisia yang dulu, agar tetap bisa berkoordinasi dengan lembaga dakwah di fakultas.
Hingga sekarang, masih banyak pihak yang mengklaim bahwa terlalu dini untuk memutuskan kodisia keluar dari DPPAI, walau bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang memiliki visi misi besar, yang tak jauh berbeda dengan LDK, yakni mewujudkan UII sebagai rahmatan lil ‘alamin. Orang-orang yang tidak membersamai kami di lapangan boleh berkomentar seperti itu, tetapi sesungguhnya kami yang di lapanganlah yang lebih paham betpa kami berusaha untuk bersilaturrahim, mengajak berdiskusi dengan cara yang baik dan sopan, betpa kami ‘mengemis-ngemis’ ke pihak DPPAI agar bersedia meluangkan waktunya untuk duduk bersama dengan kami, guna memecahkan permasalahan ini. Kami tak digubrisnya kawan. Kami dicuekin. lalu, apalagi yang ingin dipertimbangkan untuk tetap bertahan di bawah DPPAI?? It’s enough for us!!
Itulah sejarah LDK ku, yang dahulu berdiri kokoh, kini tumbang tak bernama lagi. Kawan, kami tak berhenti sampai di sini. Kini kami sedang berjuang untuk mendirikan sebuah LDK baru yang secara struktural berada di Keluarga Mahasiswa (KM), bersama LEM dan lembaga kemahasiswaan yang lain. Sesungguhnya dakwah itu tak akan berhenti meskipun wajihah/ washilahnya dibubarkan. Pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Ya, sangat banyak cara untuk memperjuangkan syurga. Salam semangat dari kami, aktivis UII. Allahu Akbar!!



Nama               : Fahnida Nazliah
Amanah           : - DPO LDF kedokteran
-          Koord. Kaderisasi FSLDF
FB                   : Nida nidaa

No comments:

Post a Comment