Wednesday, July 4, 2012

Enjoy Life (penasehat yang selalu bungkam “antara IGD dan forensik”)



penasehat yang selalu bungkam “antara IGD dan forensik”
setelah hampir 1 bulan lebih menjalani dunia lain mahasiswa kedokteran alias dunia per-ko-as-an„ ada satu hal yang sekarang sangat sering ditemui bahkan nyaris setiap hari menjumpainya…
ya..kematian…
bukan bermaksud lebay tapi jujur saja dulu kata-kata itu tidak terlalu membuat bulu kuduk vela bergidik„ bahkan saat berjumpa dengan rombongan pengantar jenazah pun hanya sedikit rasa takut yang menyergap…
(naudzubillah min zalik, akhirnya menyadari masih terdapat sisi jahiliyah di diri vela)
mungkin juga karena hingga sesaat sebelum masuk IGD vela belum pernah melihat proses sakratul maut seperti apa…
tetapi kemudian bersyukur kepada Allah yang menempatkan vela di tempat yang tepat„ di kedokteran..
karena lagi-lagi medicine teach me about everything….
satu bulan pertama di IGD cukup menampar vela..
hampir setiap vela jaga, selalu ada pasien yang meninggal dunia..
dan biasanya vela selalu melihat bagaimana pasien tersebut perginya karena pasien gawat akan dapat observasi khusus setiap 10 menit… dan vela sangat tidak ingin jauh-jauh dari pasien seperti ini, karena akan sangat merasa bersalah tidak memantau keadaan mereka.
tapi ajal tetap saja ketentuanNya Allah, yang sudah sampai di garis finish, tidak bisa mundur walau selangkah saja.
pembelajarannya adalah ketika vela menyaksikan bagaimana seseorang dengan cedera kepala sedang kemudian memburuk dan jatuh ke cedera kepala berat (ckb), mulai dari pintu masuk igd hingga akhir ajalnya hanya menyebut isi kebun binatang dan carut marut…
beberapa hari setelahnya vela juga dapat pasien ckb, dan sama seperti pasien ckb lainnya, biasanya pasien akan meracau dan bicaranya tidak jelas… (tapi vela mencoba menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh pasien ini, dan ternyata subhanallah, meskipun hanya terdengar suara lirih tapi vela yakin, vela mendengarkan pasien itu sedang menyebut Allahu Akbar dan subhanallah secara bergantian…)
mungkin bagaimana mereka menjalani kehidupan di dunia dulu, menentukan sikap dan tingkah mereka saat menghadapi kematian….
dan akhirnya vela menjadi teringat pada bait- bait firman Allah:
“Hai orang-orang yg beriman bertakwalah kamu kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

dan pada bait lainnya :
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (Q.S Al An’am: 93)
itu baru saja kejadian di igd,di forensik lain lagi ceritanya…
jikalau di igd vela bisa melihat bagaimana proses sakratul maut.
di forensik vela melihat dengan nyata bahwa manusia itu tidak ada artinya jika telah melewati pintu kematian…
raga semuanya akan mengalami decomposition„ syukur-syukur kalo tinggal dinegara yang iklimnya panas mungkin proses mumifikasinya bisa lebih cepar dan jasadnya bisa lebih awet, tapi yang pasti di Indonesia susah euy, secara iklimnya tropis gtu….
intinya sih,gak ada yang perlu disombongin semasa jadi manusia…. semuanya bakal jadi seonggok daging yang penuh belatung ataupun sebatang tulang femur yang dalamnya juga berbelatung…
sekali lagi bersyukur karena penasehat yang selalu bungkam alias kematian selalu vela jumpai selama koas,
semoga mata dan telinga terus menangkap tanda-tanda kebesaran Allah dan
semoga hati semakin lembut dan tunduk pada Rabb yang telah teramat sangat sayang pada vela….
—silahkan dipetik sendiri ibroh,dari pengalaman vela ini—
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (neraka) Jahanam mayoritas dari jin dan manusia. Mereka punya hati tapi tak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah ), dan mereka memiliki telinga (tapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak. Bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ” Q.S Al-A’raf 179 “

No comments:

Post a Comment