Sunday, July 8, 2012

Enjoy Life VII (Aku dan LDK 11)


By Bintun Nahl
Senja itu harusnya indah, seindah warnanya yang lembayung kekuning-kuningan disudut musholla sederhana Fakultas Teknik. Tapi, suasana hatiku seolah menutupinya menjadi mendung, kelabu. Bagaimana tidak, aku baru menyesali perbuatanku, terburu-buru dalam bersikap sangat tidak baik, apalagi dalam ucapan, meskipun itu lewat tulisan.
“Yaudah, jangan Aisy kalo gitu yang jadi kaput. Nurul aja.” Sent. Sms terkirim, tidak ada balasan hingga lusa esoknya.
“Jangan pernah ngomong seperti itu lagi ya, Aisy. Apalagi didpn staf, bagaimanapun Aisy adalah kaputnya. Semuanya bsa dijelaskan. Ba’da shalat dhuhur, ana terburu-buru untuk menyampaikan amanah, karena akh Arif tidak ada, mungkin ukh Lisa ada, karena amanahnya uang infak itu harus segera disalurkan oleh DKM. Ba’da ashar, pas kita rapat bertiga, ana kira Aisy udah ga mau berpendapat lagi, bukankah sblmnya ana nanya, ada yang mau disampaikan, Aisy?” itu balasan sms yang harusnya dijawab kemaren lusa. Sambil menyesali, ada saja alasan bahwa tetap aja aku yang benar.
***
“Anak Ummi kok cemberut aja, mana senyum manisnya sayang?”Tanya Ummi saat melaksanakan jadwal rutinnya menjengukku sebelum tidur, mengajak berbincang-bincang tentang jadwal harianku, khususnya selama di kampus.
“Aisy, nggak kenapa-napa, Mi.” jawabku nyengir. Ummi, balas tersenyum sambil membelai sayang kepalaku, mengerti bahwa putrinya belum siap untuk bercerita.
“Ummi, Aisy kok egois ya? Masih belum dewasa.” Tiba-tiba aku mulai berbicara, sebelum ummi beranjak pergi meninggalkan kamarku. Setelah Allah, ummi adalah pendengar dan pemberi nasehat yang bijak. Mungkin aku bisa menemukan jawaban atas rasa kesalku beberapa hari ini dari Allah lewat perantara ummi, kataku dalam hati.
Ummi, masih tersenyum, diam. Menunggu aku melanjutkan ceritaku, “Dulu Ummi bukankah seorang kaput?” tanyaku, kemudian ummi mengangguk mengiyakan.
“Mi, Aisy belum beradaptasi menjadi seorang kaput yang keren kaya Ummi. Sedikit-sedikit, Aisy berburuk sangka dengan partner Aisy, kesal, marah, terus dianya malah nggak ngerti, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Kan sebel, miiii, berasa Aisy nggak dianggap.” Ceritaku panjang lebar, ummi masih setia mendengarkan dengan senyum hangatnya.”Menurut Ummi, Aisy harusnya gimana?”
“Aisy, tunggu sebentar ya, Ummi ada sesuatu buat Aisy baca. Insya Allah itu bermanfaat buat bekal setahun kedepan.” Kemudian Ummi bergegas mengambil sesuatu dari kamarnya. Setelah beberapa menit kemudian, sambil tersenyum, ummi menyerahkan sebuah buku biru, manis dengan pita warna ungu.
“Dulu, Ummi pun sama, diawal kepengurusan di lembaga dakwah fakultas MIPA, banyak sekali cerita saat mengalami adaptasi. Ummi merasa, kaput itu harus keren, dan terus berusaha berubah lebih baik, karena ummi merasa menjadi seorang “Qudwah” untuk muslimah lainnya. Sejak itu, ummi bertekad untuk menuliskan semua hikmah, apapun yang dapat dibaca untuk evaluasi dan mengenang puzzle-puzzle kehidupan selama menjadi seorang kaput. Ini buat Aisy.”
“Catatan Seorang KAPUT.” Bacaku pelan, “Aisy baca ya, Mi.”
“Iya, Nak. Bacalah sebelum tidur, semoga itu bisa menjadi sarana refleksi untuk tazkiyatun nafs buat Aisy, lailatus sa’iidah sayang.”
***
Aku mulai membaca halaman demi halaman buku ummi, ternyata ummi benar-benar menuliskan hampir semua perjalanannya menjadi seorang kaput lembaga dakwah FMIPA Universitas Indonesia Satu dulu. Dari mulai terpilihnya ummi, tanggal 31 Desember 1988, curhatan semua perilaku BPH, khususnya kader akhwatnya, hingga tentang partner-nya si Ketua Umum LDF-nya, sekilas aku jadi terbayang Gilang Ramadhan, partner kerjaku sekarang, astaghfirullah.
8 maret 1988
Sudah tiga hari ini aku diam. Aku mendiamkan semua teman-teman BPH akhwatku, dan meminta semua perintah dan jarkom langsung terpusat kepada ketua umum saja. Beginilah sikapku jika marah, diam. Padahal baru bulan ketiga aku mengemban amanah sebagai seorang Kaput, amanah yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, apalagi aku sangat mengagumi kaput-kaput sebelumku, aku merasa setiap dari mereka setiap tahunnya punya karakter khasnya yang berbeda-beda, ka Reta dengan ketegasannya, ka Avi dengan kelemah-lembutannya, ka Nani dengan cerewetnya, ka widya dengan cerianya, lalu aku? Baru menghadapi sikap BPH akhwat begini saja aku ngambek, marah, padahal jika mereka mengkomunikasikan itu secara baik, insya Allah aku akan terima, bukan izin pas ketemu, kalau tidak ketemu, ya nggak izin.
Tok…tok..tok..sepertinya ada yang mengetuk hijab kayu yang memisahkan kesekretariatan ikhwan dan akhwat.
“Assalamu’alaikum, ada Icha?” aku hafal betul itu suara Yusuf, partner-ku, Ketua Umum LDF Nurul Fikri. “Iya, ada apa Yusuf?” jawabku.”Tolong kopi file di Flash Disk ana ya, nama filenya buat Icha.”Lalu aku mengambil FD-nya dan segera mengopi file yang disebutkan tadi ke laptopku. Malam sebelum tidur, aku mencoba membaca tulisan dari Yusuf tadi.
Assalamu’alaikum
Gimana rasanya jadi koorwat LD Nurul Fikri, Cha? Manis asam asin ramai rasanya! (Nano-Nano)
Bukan kita yang inginkan posisi ini. Qadarullah wa ma sha fa'al. Perjalanan kita masih panjang, tapi (mungkin) kita merasa banyak sekali ujian/cobaan. Sebut saja ilangnya dana abadi. Miskomunikasi. AFC (akhwat fighting club) minim partisipasi. BPH susah konfirmasi (kalo diminta konfirmasi kehadiran). Kantong menipis. Waktu luang ngempis. Apa lagi? Kalo harus dituliskan satu per satu, dengan selembar kertas ini saja kayaknya ga bakal cukup. Dan bukan seperti itulah yang seharusnya kita lakukan untuk mempersiapkan bekal untuk perjalanan kedepan.
Cha, melalui tulisan ini, an hanya ingin melaksanakan kewajiban an sekaligus menunaikan hak ant sebagai saudari an dalam Islam untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. An mencoba menunaikan tuntutan surat Al-Ashr.
Pertama, Fitri boleh mengeluh, Nurfa boleh mengeluh, Nunu boleh mengeluh, Mimi, Ani, Fika, Dw, & smua teman-teman BPH boleh mengeluh. Tapi kita jangan (mudah) mengeluh. Apalagi mengumbarnya. Kita harus tampil sebagai orang yang paling kokoh, yang dengannya seblum itu kita telah (selalu) memohon kepada Allah untuk menguatkan pundak, bahu, dan kaki-kaki kita.

Sebagaimana nabi Ya’qub ‘alaihissalam berkata "Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,…" (Yusuf: 86). Beliau mengadu yang dengannya ia akan mendapakan kesabaran.

Jika pada kondisi tertentu ternyata kondisi kita memang bener-bener ‘rapuh’, meskipun demikian setidaknya kita harus tetap bisa menampilkan (menampakkan dalam bentuk sapaan, raut muka, senyuman) bahwa kita kuat, kita tegar. Ini adalah upaya kita. Bukan kedustaan. Bukan untuk unjuk ke-gagah-an di depan teman-teman. Menurut an, ini pun bentuk kesabaran.
Kedua, agaknya kita sama-sama sepakat bahwa setiap mereka yang aktif di LD Nurul Fikri, mau atau tidak mau, dengan senang hati atau terpaksa, harus meningkatkan kadar ke-sabar-annya. Jika para staff harus 100% sabar, maka teman-teman BPH harus punya sabar 200%. Kita? 1000%. Karena tidak semua staf bisa punya 100%. Tidak semua BPH punya 200%. Kalau bukan kita yang backup, siapa lagi? Karena sabar adalah kata kerja sekaligus predikat yang Allah berikan kepada hamba-Nya (teruji kesabarannya), maka sabar harus kita lakukan (karena Allah). Sabar harus kita pinta dari Allah ta’ala. "Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaramnu itu melainkan dengan pertolongan Allah." (An-Nahl: 127).

"Dan, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45).
Sabar menurut pengertian bahasa adalah menahan atau bertahan. Jika dikatakan, "Qutila Fulan Shabran", artinya Fulan terbunuh karena hanya bertahan. Jadi sabar artinya menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan. (Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah) "Dan, janganlah kalian bersikap lemah dan janganlah (pula) kalian bersedih hati." (Ali Imran: 139).

 "Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 146).
"Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda." (Ali Imran:125). "Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran."
Dan yang ketiga, Bisa jadi yang selama ini menjadikan kita, BPH Nurul Fikri, agak susah komunikasi—koordinasi, teman2 BPH susah respon jika diminta konfirmasi, AFC-TOM minim partisipasi, bukan karena kita smua sedikit dalam interaksi. Bisa jadi, ‘afwan, karena kita yang kurang pandai dalam memelihara habluminallah. Mungkin karena do’a kita kurang kuat. Atau kerena dosa yang belum kita taubati, yang karena hal ini semuanya kebagian ‘apes’nya. Na’udzubillah min dzalik. Karena ketaatan kita, ketaatan seorang pemimpin, akan linier terhadap kebaikan, kelancaran langkah kerjanya. Pun kalo misalnya ada hambatan, tentulah hambatan tersebut seharusnya berbuah pahala karena kesabaran yang dipelihara.
Satu hal yang seharusnya ada pada setiap pemimpin adalah pengaruh. Jujur saja, an sering merasa tidak punya modal apa-apa untuk menjadikan diri an mempunyai pengaruh bagi temen-temen BPH juga para staf. Dari segi usia, usia an lebih muda dibanding kebanyakan BPH. Usia “tarbiyah”? usianya lebih muda juga dibanding kebanyakan mereka. Wawasan dan ilmu pengetahuan umum an pun tidak luas. Prestasi kering. Akademik tidak bisa dibilang memuaskan. Track Record agak menghawatirkan. Kalo bukan karena pertolongan Allah serta al-fahmu temen2 BPH-staf bahwa dalam organisasi ini harus ada kepatuhan/ketaatan terhadap seorang Qiyadah, tentulah an, qt, akan lebih banyak menemukan kesulitan. oleh karena itu, karena topik utama yang sedang an bahas di paragraph ini adalah tentang pengaruh, an bermaksud mengingatkan diri an sendiri dan juga ra bahwa daya pengaruh bisa terbangun dengan Qiyamullail + Qur’an, serta segala bentuk sikap kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah yang senyumannya saja menggerakkan hati orang yang melihatnya. Semoga kita bisa menjadi ahlinya, kita bisa senantiasa menegakkan Qiyamullail dan menjadi Ahlul Qur’an.
Hmmm, itu saja dari an Cha. sebagai bentuk pengingat untuk kita. An mohon, jangan ragu untuk menegur an jika memang an ada dalam kesalahan. Serta, sebagaimana Imam Syafi’I, an pun lebih senang jika dinasihati tidak didepan umum publik. Semoga kita bisa menjalankan amanah ini dengan baik dan benar.   
Dalam kantuk.. Al-Fakir Ilallah_Yusuf
***
“Ummiii, Aisyah pamit dulu ya.”
“Eh, kok berangkat pagi-pagi sekali, Aisy. Kamu belum sarapan, Nak. Makan dulu ya, baru pergi.” Bujuk ummi.
“Tapi, Aisy buru-buru, Mi. ada syuro BPH pagi ini.”
“Sudah baikan, Aisy?”Tanya ummi sambil tersenyum menggodaku.
“Ummiii, Aisy kan nggak apa-apa. Hmm, Mi. makasih ya buat bukunya. Aisy juga mau menulis mulai sekarang, biar punya kenang-kenangan kaya ummi, cerita ummi, cerita Aisy akan berbeda kan? Hehe,,,” Terangku sambil nyengir.
“Kalo begitu makanannya Ummi bekalkan aja ya, biar bisa berbagi dengan teman-teman yang mungkin belum sarapan.”
“Iya, Mi.” kataku masih tersenyum pada ummi.
“Aisy, satu hal yang ingin Ummi pesan ke Aisy, selelah apapun kita, sepenat apapun kita, akan semakin lelah jika kita bersandar pada manusia, mengharapakan simpati dan empati manusia akan menjadikan hati kita lelah, apalagi jika tidak sesuai dengan keinginan hati kita. Tapi, jika kita bersandarkan hanya pada Allah, insya Allah semua yang terasa lelah dan berat dalam menjalankan amanah, akan terasa ringan, karena Allah.”
“Ummiii,,,yupz, insya Allah Mi, Aisyah akan selalu ceria dijalan dakwah ini, dan Allah adalah sandaran utama Aisy. Hm, oya Mi, dikalimat terakhir ketua umum pas zamannya Ummi, seperti pernah Aisy lihat. Dimana ya?” tanyaku sambil berusaha mengingat sesuatu.
“Iya, Aisy sering lihat tanda tangan itu kan milik Abi. Oh ya, Aisy. Kadang Allah menguji hamba-Nya lewat perkataan hamba-Nya.” Jelas ummi tersenyum menunduk, malu.
“Ummiiii,,,,?”Tanyaku kaget. Selama ini aku tahu ummi pernah jadi kaput pas dikampus dulu, tapi aku tidak tahu kalo ketua umumnya abi.
“Aiisy, mau berangkat bareng Abi nggak?” teriak abi dari luar rumah.
“Sudahlah, Aisy mau berangkat bareng Abi nggak, tuh udah dipanggil. Syuronya mulai jam 7 kan?” Ummi tersenyum dan aku pun mengangguk tersenyum pada ummi. Perkataan ummi tidak semuanya kumengerti, yang jelas aku harus pandai bersyukur, tidak mudah untuk mengeluh, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Karena seperti kalimat orang bijak, “Amanah itu selalu menuntun dan menuntut. Menuntun untuk semakin dekat kepada Allah, dan banyak menuntut untuk ber-tadhiyah (berkorban).

Keterangan: an= kepanjangan dari ana yang berarti “saya” dari bahasa Arab
                        Ant= kepanjangan dari anti yang berarti kamu perempuan

nama: Rasih
fak/jur/ang: FMIPA/Fisika/2008
universitas: UI
Fb: Rasih Rara (rasih.biru@gmail.com),
amanah : kadept. Mar-ah (kemuslimahan) Salam UI i5

No comments:

Post a Comment