Tuesday, July 10, 2012

Enjoy Life VII ( Aku dan LDK 12)


Matahari pagi bersinar dengan sepenuh ketegarannya, disertai kesejukkan udara pagi yang sangat lembut.Sebuah panorama alam yang sangat berlawanan, namun dapat bersatu memberikan keharmonisan yang menentramkan setiap jiwa di negeri ini. Di kanan dan kiri jalan terlihat pepohonan melambaikan pelan daunnya yang sudah mulai terkena sinar sang mentari seakan sudah siap mulai melakukan reaksi terang fotosintesis. Beberapa langkah dari jalan terdapat jalan setapak menuju ke sawah, dari sawah pun tak kalah indah pemandangannya, beberapa tanaman tembakau yang sudah mulai menguning pada daun bagian bawah.Sungguh indah negeri ini, berbagai macam tanaman dapat tumbuh subur dengan mudahnya.
Pagi itu terakhir kali akuberada di desa kecil ini, Siang ini akan kumulai menjelajahi kehidupan yang lebih luas dan mandiri di kota Surabaya. Pengumuman seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2 minggu lalu telah memberikan jawaban yang sangat memuaskan.Aku atu-satunya siswa yang diterima diterima di Universitas Airlangga (Unair) saat itu, bahkan tidak ada kakak kelas dari sekolah masuk Unair sebelumku.
“kalo disana hati-hati mbak, jangan bergaul sembarangan” kata Ibu. Tidak tau kenapa kebanyakan orang di desa dan teman-teman sekolah memanggil saya “mbak”, termasuk Ibu.
“Iya, Buk” kata ku
“Jangan lupa sms mbak yang membantumu cari kos kalau sudah sampai sana” kata Ibu.Sambil membantu mempersiapkan barang-barang yang mau kubawa.
Hari sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB.Aku beranjak keluar dari pintu rumah dengan barang bawaan yang cukup banyak. Sebelum keluar kusempatkan mencium tangan Ibu sambil meminta do’a restu, kulihat kekhawatiran serta harapan mendalam akan keselamatan anak semata wayangnya di kota dari wajah Ibuku. Ibu orang yang tau betul tentang diriku. Ibu sangat faham kota besar begitu asing bagiku jangankan Surabaya, Bojonegogo yang menjadi kota kelahiranku saja hanya 2 kali aku kesana. Pertama saat aku berusia 3 tahun melepaskan jama’ah haji di alun-alun, dan yang ke 2 saat menjenguk saudara jauh yang sedang dirawat di RSUS Sosodoro husodo.Ibu juga mungkin sangat faham kalau aku tidak punya satupun teman dari sekolah.Tapi bagi Ibu cita-cita yang kuinginkan sejak kecil untuk menimba ilmu di Airlangga harus tetap ku kejar.
Siang itu aku diantar Bapak sampai tempat kos, sepanjang jalan di kereta kuterima nasehat dari beliau.
“Kalau berteman jangan sembarangan Nduk, orang itu dipandang baik atau buruk karena temannya” kata Bapak
Sesampainya di kos aku di sambut oleh seorang wanita berusia sekitar 27 tahun yang mengantarku dan Bapak masuk.
“ Panggil saya mbak Sri, mbak. Saya yang membantu di kos-kosan ini” kata wanita itu
“ Iya mbak, saya Adia.” Jawabku
Di depan pintu Mbak Sri membuka sedikit pintu kos dan berhenti sejenak,  sembari berteriak. “ Mbaak… ada Bapak-Bapak mau masuk” katanya memberi intruksi pada setiap orang yang ada di dalam rumah. Seketika kulihat semua pintu kamar di tutup dan beberapa saat kemudaian aku masuk ke kamar yang ada di lantai 3.Alhamdulillah, di tempat ini orang yang berjilbab dihargai dengan baik.
Kulihat mbak Sri langsung meninggalkanku dan Bapak di kamar yang luas itu.
“Jangan lupa sholat Nduk, saya dan Ibu mendo’kan.Jangan bergaul dengan sembarangan orang, kalau sudah di kampus dan merasa kesepian cari anak Bojonegoro pasti nanti senang bertemu saudara. Saya pulang dulu Nduk hati-hati” pesan Bapak sebelum meninggalkan kos
“mari saya antar sampai ke depan”  kataku
Tidak lupa ku cium tangn Bapak sebelum meninggalkanku.Aku melihat harapan yang sangat mendalam di wajah Bapak, harapan untuk melihat anak semata wayangnya sukses, berhasil dalam hidup, dan dapat membahagiakan orang tua. Kulihat Bapak dari gerbang kos sampai beliau tidak terlihat ladi dari pelupuk mataku. Tak terasa aku meneteskan air mata kesepian saat itu.Lalu aku segera kembali ke kamar karena tidak ingin terlena.
Di tengah sepinya sore itu aku mulai terbawa dengan kesendirianku.Aku mulai teringat bahwa aku tidak punya siapapun yang ku kenal di sini. Kemudian aku mengeluarkan beberapa barang di tasku sebagai pengusir kesepian, barang itu adalah sebuah majalah mini yang berisi profil sebuah organisasi, stiker berisi taujih, satu lembar HVS yang dilipat 4 berisi artikel, serta satu buah undangan welcome party yang bertuliskan namaku. Aku teringat seminggu lalu saat daftar ulang seorang senior satu fakultas denganku memberikan barang-barang itu untukku.Bukan itu saja mbak itu juga membantu mencarikan kos-kosan untukku, yang paling membekas di hati keramahan dan keikhlasannya begitu terpancar seolah aku sudah mengenalnya sangat lama. Aku sempat berfikir dalam hati ”bagaimana mungkin mbak ini bisa begitu baik padaku, padahal baru pertama kali aku mengenalnya”
“Nama saya Aini, saya angkatan 2007.Adik kalau ada yang ingin di tanyakan silahkan” kata mbak itu, sambil menjabat tanganku dengan penuh kelembutan.
“Saya Adiia mbak, saya dari Bojonegoro” jawabku “saya hanya ingin tahu tentang ospek dan info kos mbak”
Kulihat mbak itu menjelaskan dengan sangat antusias dan tutur katanya sangat lembut.Aku seolah merasa sangat nyaman di dekatnya, dan ingin mengikuti jejaknya di kampus kelak.Mbak Aini mengantarkanku mengelilingi Mulyorejo untuk mencari kos-kosan dan akhirnya mendapatkan yang cocok.Kemudian kami kembali ke kampus lagi sebelum aku kembali pulang kerumah.
“Kalau ada yang masih ingin ditanyakan silahkan Dik.” Kata mbak Aini menawarkan kembali
“sudah cukup mbak, terima kasih banyak sudah dibantu” jawabku
“Ini buat Adik, datang ya tanggal 16 agustus nanti, kalau gak tau tempatnya sms mbak aja” kata Mbak Aini sambil menyodorkan majalah keci, kertas HVS yang berisi artikel, stiker, dan undangan yang bertuliskan namaku.
“Insya Allah, saya usahakan mbak” jawabku dan berpamitan
Aku mulai tersadar dari lamunanku, tak terasa rasa sepi yang menyelimuti diriku sudah sedikit reda. Harus kuakui aku datang ke Surabaya hari ini karena ingin mengikuti acara welcome party besok. Aku sangat ingin bertemu lagi dengan mbak Aini dan berkenalan dengan beberapa orang di acara itu, ya Alhamdulillah kalau ada yang sedaerah denganku.Padahal sebenarnya aku masih bisa berangkat ke Surabaya 2 hari lagi untuk langsung mengikuti pengukuhan. Tapi berkenalan dengan mbak Aini rasanya aku seperti memiliki saudara kandung, sayang sekali kalau kesempatan ini kelewatkan, mungkin di acara ini aku akan menemukan sosok mbak Aini- mbak Aini yang lainnya.
Pagi yang dinanti pun tiba, acara welcome party  tidak berlangsung cukup menarik bagiku. Acara itu hanya berlangsung sekitar 3 jam dengan acara inti perkenalan SKI setiap fakultas. Sangat berbeda dengan harapan yang ingin kudapatkan di acara itu,aku sama sekali tidak tertarik dengan perkenalan profile SKI yang mereka berikan. Tapiada satu hal yang tidak akan kulupakan waktu itu, di tempat itu titik awal perkenalanku dengan mbak Fitri yang satu jurusan denganku. Di awal jumpa mbak fitri sempat memberi banyak nasehat dan motivasi untukku.
“Tidak ada yang tidak mungkin kita kejar disini dek, Allah tidak pernah melihat hasil tapi proses yang telah kita lalui yang akan dinilai” kata mbak fitri. “adik berminat ngaji setiap pekan dengan mbak? Nanti bisa Tanya apa saja di sana termasuk masalah kuliah”
“iya mbak, saya mau” jawabku tanpa curiga. Yang terfikir dalam benakku saat itu hanyalah mengaji menimba ilmu agama. Dimanapun aku berada tidak akan boleh kutinggalkan meskipun hanya satu pekan sekali.
Sejak saat itu aku mulai diajak masuk ke SKI fakultas secara perlahan oleh seniorku. Memang agak berbeda dengan SKI di sekolah yang pernah kuikuti, di kampus terasa lebih ringan karena setiap kajian dan pembinaan pekanan materi yang disampaikan langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan materi di sekolah sangat berat karena berhubungan dengan problematika umat beserta seluruh permasalahan kompleks umat islam se dunia dengan kemasan yang kurang cantik dalam mengenalkan Islam sehingga tidak heran kalau banyak teman-teman yang keluar dari SKI.
Fleksibel dan cantiknya kemasan SKI kampus yang membuatku selalu ingin berjuang dan memperbaiki diri di tempat ini. Mungkin awal yang kurang baik karena doktrinisasi senior yang sama sekali tidak kusadari aku jadi masuk lingkaran orang-orang hebat ini. Tapi secara perlahan akhirnya kusadari urgensinya aku ada di tempat ini.Terkadang kufikirkan kembali pertemuanku dengan mbak Aini seakan langsung terjalin ikatan hati yang sangat kuat, aku mulai sadar ini bukan kebetulan tapi adalah sebuah skenario Allah SWT untuk membawaku ke lingkaran islami ini.Aku di tempat ini karena Allah menunjukku berada di sini.


No comments:

Post a Comment