Friday, March 28, 2014

ITALY -PART ONE

Bulqis Vellaya Arlem



Bismillahirrahmanirrahim….

Let’s start with alhamdulillahirrabbila’lamin, karena tanpa kasih sayang Allah tabaroka wata’ala belum tentu saya dapat menuliskan lembaran pengalaman selama di Italy…

Let I say it “galau/confusion”

Maka semua perjalanan ini diawali dengan kegalauan, sebelumnya saya meminta maaf, jika ada yang kurang setuju dan berkenan dengan kegalauan saya berikut ini..
Apa yang dikatakan Rasul kepadaMu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.
    (q.s al-hasyr: 7)
    dan
“ Janganlah  wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.”

            (Hadist shahih Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7 dan Abu Dawud 1727)

Brangkali akan banyak perbedaan pendapat diantara pembaca,
“ kan untuk menuntut ilmu, gak ada salahnya dong??” atau
“ santai ajalah, itu kan Cuma hadist dan kesempatan Cuma datang sekali”

Maka sebelumnya saya memohon maaf, karena saya pribadi sangat percaya, sesuatu tujuan yang baik harus dikerjakan dengan cara yang baik dan sesuai syar’i.

Maka biarkanlah saya sesaat memohon ampun, jika perjalanan saya ke Italy masih jauh dari keridhoan Allah…Pertanyaannya,mengapa saya harus berlelah-lelah mengawali cerita perjalanan ini dengan menjelaskan kegalauan saya??


Pertama, saya takut jika Allah semakin berang karena saya dinilai olehNya menyembunyikan ayat-ayatNya semata2 hanya sebagai pembenaran atas pilihan saya mengikuti program ke Italy ini..

“ Sesungguhnya orang- orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan- keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam AlKitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat melaknati. Kecuali mereka yang telah tobat dan melakukan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
(q.s Al-Baqarah: 159-160)

Kedua, saya takut menjadi inspirator keburukan bagi wanita lain, apalagi saya punya junior akhwat2 yang mungkin menjadikan tindakan saya sebagai pembenaran atas safar tanpa mahrom mereka di kemudian hari. Mereka bisa saja berkata “ wah kakak itu saja ke luar negri tanpa mahrom, berarti gak ada masalah donk?”

“ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (jalan petunjuk dan kebaikan), maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikuti atau mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang mengikuti (mengerjakan)nya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”

     (H.R Muslim no 6750)


Lalu pertanyaan lain muncul, nah sudah tau seperti itu,  kenapa masih pergi?? Saya yakin pertanyaan itu yang muncul di benak kawan- kawan sekalian…

Setiap kita pasti punya mimpi, untuk keluar negri.. apakah untuk sekolah, bekerja atau bahkan sekedar liburan..

Ya, saya juga punya mimpi yang sama…terutama menuntut ilmu,,melihat dunia baru, orang-orang baru, dan lingkungan yang baru merupakan tantangan tersendiri buat saya.

Dan saat saya memutuskan untuk mengikuti program ini, saya masih tergila-gila dengan mimpi saya tersebut…

Singkat cerita, setelah persiapan saya berjalan 2/3 nya, saya membaca dengan rinci syarah hadist tentang larangan safar tersebut dan itu membuat saya bergidik, serta dilema. Apalagi persiapan sudah hampir fix dan  ini semacam ujian buat saya, apakah saya akan mengikuti kemauan saya lantas pergi atau mengundurkan diri…

Akan tetapi, setelah pertimbangan bahwa saya adalah pserta pertama dari fakultas dalam program ini, dan sejujurnya saya takut mengacaukan program ini kedepan, serta pertimbangan2 lain setelah diskusi dengan orang- orang yang cukup arif dalam memahami masalah ini sesuai konteks syariat maka akhirnya saya putuskan untuk pergi dengan senantiasa mohon ampun dan mendapat petunjuk selama disana.

Ya sejujurnya saya pergi dengan rasa takut dan was- was, karena saya takut Allah berang karena saya nyata2 mengabaikan pesan kekasihNya..

Jadi jika ada teman- teman yang bertanya how was your feeling, saat detik-detik keberangkatan saya, maka saya katakan sejujurnya sekarang, saya takut dan terbebani!!!

Ya, memang ketika kita mengingkari dalil atau nash yang jelas, maka akan timbul rasa penyesalan dan ketakutan, itu semacam akibat atau teguran dari Allah.

Jadi, part pertama ini sengaja saya awali dengan kegalauan agar menjadi pertimbangan bagi teman- teman khususnya wanita untuk tidak bersafar tanpa mahrom..

Saya sungguh tdak ingin, di akhirat kelak, tindakan saya di anggap sebagai pembenaran untuk sebuah pelanggaran syariat. Tapi semua berpulang kepada teman- teman, tugas saya hanya menyampaikan sedikit yang telah saya ketahui.

The last, saya tetap berterima kasih untuk orang-orang yang telah membantu saya dalam program ini, mewujudkan salah satu mimpi saya, dan memberi warna baru dalam catatan perjalanan hidup saya..

Karena yang salah ya tetap saya, kenapa sewaktu mengikuti programnya belum punya pasangan.. hehe

bagaimanapun saya memetik hikmah dan manfaat dari perjalananan singkat ke itali ini, jadi sekali lagi terimakasih untuk teman-teman yang telah membantu saya …

terima kasih juga untuk teman-teman satu kajian, yang senantiasa  menguatkan dan mengingatkan saya selama di italy, agar ttp istiqomah..

 Lalu, bagaimana kehidupan saya di itali, apakah masih di iringi ketakutan atau saya menikmatiny,, bagaimana kehidupan islam di itali yang notabene pusat katolik, bagaimana dunia kedokteran disana, nantikan sambungan ceritanya…
( haha, sok penting)
Afwan jika ada yang kurang berkenan..

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

No comments:

Post a Comment