Friday, March 28, 2014

ITALY PART TWO

 Bulqis Vellaya Arlem



Bei ricordi quando prende stage a Siena
Beautiful clerkship memories in Siena

Being an exchange student in europe country was unbelievable memory...!!
Everything was awesome moment..
Especially in my hospital which my clinical clerkship was done for one month..
**********************************************************************************

Siena merupakan salah satu kota di Italia. Siena memang tidak  terlalu famous di Indonesia, barangkali karena klub sepak bola Siena FC nya tidak terkenal, terutama untuk saya yang awam bola.. hehe

Tidak seperti kota Torino dengan klub Juventusnya, atau Milan dengan AC Milan dan Intermilan serta pusat mode yaitu galeria vittorianya, atau  Venice  dengan keromantisan gondolanya. Meskipun begitu, Siena adalah kota yang sangat nyaman bagi para pelajar, disini terletak salah satu Universitas tertua di Eropa, yaitu Universitas di Siena. Siena itu kota pelajarnya Italy, seperti Jogja-nya Indonesia.

Siena termasuk kedalam grup toscana (Tuscany) , kalau pembaca mengetahui sedikit geografi dan sejarah Italia, maka pasti bisa membayangkan keindahan kota Siena sama seperti kota dari grup toscana lainnya. Siena dengan perkebunan anggur, perkebunan gandum, bunga matahari  dan jajaran pohon cemara. Persis seperti gambaran film Under the Tuscan Sun. Maka, seterusnya biarkan foto yang berbicara. Karena keindahan kata- kata saya, tetap tidak akan mampu mewakili kemolekan kota ini.

Dikota tua Siena yang telah dibangun sejak 900 SM ini, saya mendapati bangunan tua berupa museum, gereja dan peninggalan sejarah lainnya dalam kondisi apik dan sangat terjaga. Seperti  Piazza del Campo tempat diselenggarakannya pacuan kuda tahunan yang dikenal dengan Palio. Palio di Siena merupakan palio yang paling meriah di Italy. Bahkan karena Piazza del Campo adalah salah satu world heritage PBB , untuk mencapainya harus berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit dari pusat kota.  Selain piazza del Campo terdapat bangunan lain yang bersejarah seperti Duomo yang juga tak kalah cantiknya.


Baiklah deskripsi tentang siena dicukupkan disini dahulu, mari beranjak kepada pengalaman ngo-ass di Azienda ospedaliera Universitaria Sanese.

 It is Azienda ospedaliera Universitaria Sanese.

Ya inilah rumah sakit tempat saya menjalani clerkship selama 1 bulan. Terletak di atas bukit di pinggir kota Siena. Rumah sakit ini memiliki view yang sangat indah terutama di bangsal general internal medicinenya... Pemandangan pusat kota Siena beserta Tower Piazza del Campo dan diselingi puncak pohon cemara yang mengelilingi pusat kota sungguh pemandangan yang menyehatkan mata.

Saya lupa berapa lantai tepatnya Rumah Sakit ini, tapi yang pasti bangunan RS ini sukses membuat saya naik turun lift dan tangga selama kurang lebih 1,5 jam  pada hari kedua, karena saya kehilangan bangsal general internal medicine saya. Hehe. Sistem penamaan lift yang menggunakan minus dan plus serta serupanya semua lorong dan pintu, benar- benar membuat saya seperti anak ayam kehilangan induknya.

Hari pertama clerkship, saya di tunggu oleh ketua Scoph CIMSA Universitas Siena bernama Laura. Selanjutnya ia menjelaskan denah rs, dan ruangan- ruangan yang ada, sekaligus memberikan tanda pengenal dan kartu voucher makan di kantin RS tersebut. Seterusnya ia membawa saya ke bangsal general internal medicine. Disini saya diperkenalkan dengan salah seorang professor, yaitu Profesor Piere Leopoldo Capecchi.

Profesor Piere Leopoldo Capecchi inilah yang akan membimbing saya selama sebulan kedepan.  Seperti yang sudah saya dengar dari Laura, professor yang akan membimbing saya adalah professor terbaik di bagian penyakit dalam di RS ini, ia sangat ramah dan ia guru yang sangat hebat dan berkarakter. Dia menghargai murid-muridnya, tidak hanya mengajak muridnya untuk mencintai ilmu, tapi ia juga guru yang selalu menumbuhkan kepercayaan diri muridnya. Saya rasa dengan umur beliau yang lebih dari 60 tahun , cara beliau menghargai muridnya patut diacungi jempol. Cerita lain dari Laura menjelaskan, bahwa masa mudanya  dihabiskan untuk belajar di banyak negara, mengambil berbagai macam beasiswa sehingga ia menguasai sekitar 6 bahasa, yaitu Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Rusia , Latin, dan Itali tentunya. 

Selanjutnya saya ditinggal bersama dengan Prof Capecchi, karena Laura ada kelas yang harus di ambil. Prof Capecchi dengan senang hati mengenalkan saya kepada seluruh staf di bangsal, termasuk kepada perawat, fisioterapis, petugas lab, koas, residen dan professor lain di bagian tersebut. Saya merasa sangat beruntung karena memiliki kesempatan belajar dari konsulen yang satu ini.

Pada hari- hari berikutnya aktivitas clerkship saya akan selalu dimulai pada pukul 09.00 pagi dan berakhir pada pukul 12.00 siang.Untuk mencapai RS pukul 09 saya harus berangkat dari apartemen saya pukul 07.55, karena jadwal keberangkatan bus selalu teratur sekali 1 jam. Mulai dari pukul 07.05 , 08.05, 09.05 dan seterusnya. Transportasi di Eropa tentu sangat on time, terlambat 1 menit, maka bersiaplah untuk ditinggal oleh bus atau kereta. Dan saya merasakan hal ini di hari pertama, padahal saya tertinggal bus sekitar 10 detik saja. Hehe.

Untuk mencapai RS, saya harus naik bus 2 kali , selama lebih kurang 35 menit .Hal ini karena Siena memiliki kontur perbukitan, apalagi RS terletak dipuncak bukit sedangkan apartemen saya berada dipinggir kota Siena. Akan tetapi, hal ini justru nikmat tersendiri, karena pemandangan selama perjalanan, adalah pengalaman lain yang tak terlupakan.

Kegiatan di bangsal selalu dimulai setelah semua residen selesai menyiapkan status pasien berikut hasil labor terbarunya. Para residen akan menjelaskan perkembangan pasiennya kepada professor, untuk selanjutnya akan di klarifikasi oleh professor. Maka pada setiap pasien, professor akan senang hati menjelaskan kepada saya mengenai kondisi pasien dalam bahasa Inggris. Apabila ada pasien baru, biasanya setelah anamnesis prof Capecchi akan mentranslate hasil percakapannya dalam bahasa inggris. Sejujurnya saya merasa menyesal, kenapa saya tidak belajar bahasa Italy lebih banyak dan matang. Padahal dengan begitu kesempatan saya untuk belajar tentu lebih banyak.

Ada sebuah kisah lucu, ketika prof Capecchi menganamnesis salah satu pasien. Dalam suatu kesempatan, saya berhadapan dengan seorang pasien kanker paru yang telah mengalami metastasis ke otak. Sehingga ia memiliki gangguan memori. Lalu professor mulai bertanya, tahun berapakah ini, lalu pasien pun menjawab dengan salah. Prof bertanya lagi, siapakah presiden Italy saat ini, maka dijawab salah lagi oleh si pasien. Akan tetapi pada pertanyaan terakhir professor, siapakah juara liga Italy tahun ini, si pasien mampu menjawab dengan benar sambil tersenyum. Dan pecahlah tawa semua orang di ruangan tersebut termasuk pasien lainnya. Sehingga pasien ini meyakinkan saya atas satu fakta, yaitu bola adalah segala- galanya bagi pria Italy. Yup, itu kenyataan yang saya dapatkan. Hehe.

Setelah anamnesis, prof akan melakukan pemeriksaan fisik. Dan saya selalu diberi kesempatan untuk melakukan PF setelah beliau. Terkadang beliau meminta saya memeriksa terlebih dahulu, selenjutnya menanyakan data apa yang saya dapatkan dari pasien tersebut.  Kemudian beliau akan mengcrosscheck hasil pemeriksaan saya, apakah benar atau salah.

Setelah selesai memeriksa, dokter akan menuliskan terapi pasien. Prof akan menjelaskan lagi, rasionalitas atas semua terapi yang beliau berikan. Mengapa di beri obat ini, mengapa di beri obat itu, dst. Terkadang ada beberapa obat yang sangat jarang digunakan di Indonesia, atau yang belum saya pahami betul cara kerjanya, maka beliau akan dengan senang hati menjelaskan hal tersebut. Satu hal yang membuat saya merasa sangat nyaman, karena beliau sama sekali tidak pernah menjustifikasi saya dan  para murid- muridnya. Apabila ada yang kurang dipahami, maka ia akan menerangkan dan menggambarkan di catatan murid- muridnya bahkan hingga proses imunologinya!!! Sehingga proses diskusi berjalan sangat lancar dan baik.  Jikalau ia merasa pertanyaan salah satu koas, bisa dijawab oleh para residen maka ia akan mempersilahkan residen menjawab. Selanjutnya ia akan mengklarifikasi hal tersebut.
         
Selesai visite biasanya beliau akan mengajak saya ke ruang diskusi dokter-perawat. Jadi semua pasien di bangsal, ditulis dalam papan tulis. Selanjutnya dokter menjelaskan kepada perawat rencana tindakan terdekat terhadap pasien. Semua di terangkan oleh simbol- simbol tertentu. Misalkan simbol rencana pasien pulang segitiga merah, kata EKG untuk rencana EKG, dst. Sehingga hubungan dokter dan paramedis terjalin harmonis, dan memperkecil kemungkinan misskomunikasi antara dokter dan perawat karena dokter melihat apa yang ditulis oleh perawat.

Selesai visite, apabila beliau tidak sibuk, beliau akan membuka rekam medis pasien secara online, dan mendiskusikan mengenai hasil radiodiagnostiknya seperti hasil X-Ray dan CT Scan salah satu pasien kepada saya. Begitu seterusnya dari senin hingga jumat.

Pasien terbanyak yang saya temui di bangsal general internal medicinenya yaitu penyakit degenerative seperti diabetes mellitus, gagal ginjal dan keganasan seperti kanker paru, leukemia. Penyakit infeksi sangat jarang ditemui, dan yang paling sering muncul adalah pneumonia dan HIV/AIDS. Penyakit lain yang tidak pernah saya temui di Indonesia adalah pasien post transplantasi jantung (kontrol) , Behcet Syndrome, Cadasyl, dan Fabry’s Disease. Pasien post transplantasi jantung, sangat menarik perhatian saya. Karena memang di Indonesia, saya tidak pernah menemukan pasien ini.

Setelah pukul 12.00 biasanya saya akan diziinkan untuk makan siang dan pulang. Saya akan makan siang di kantin RS , sambil memanfaatkan voucher makan siang gratisnya. Biasanya saya makan siang bersama teman- teman exchange yang lain , dari Serbia, Polandia, dan Rumania. Sekali- kali kami pergi ke tengah kota untuk makan siang disana. Saat makan sianglah kami berdiskusi  banyak hal, seputar negara, makanan khas, kuliah dan agama. Materi diskusi tentang agama lah yang paling banyak menjadi topic pembicaraan kami, karena mereka masih penasaran dengan saya sebagai muslim. Akan tetapi bahasan mengenai pengalaman  religious di Italy akan saya jelaskan di catatan berikutnya. 

Demikian, review singkat mengenai aktivitas exchange saya di bagian general internal medicine, di Azienda ospedaliera Universitaria Sanese. Banyak hikmah dan pelajaran yang saya petik selama disana, diantaranya bagaimana menjadi dokter yang totalitas sebagai dokter, guru dan partner kerja yang baik. Motivasi lain yang saya dapat yaitu motivasi untuk belajar lebih banyak bahasa asing.
Hal ini dikarenakan suatu waktu , masuklah pasien kewarganegaraan Rusia di bangsal kami, akan tetapi tidak ada satu orang dokterpun yang mampu berkomunikasi dengan pasien tersebut, kecuali professor Capecchi. Dan sesaat setelah beliau memeriksa pasien tersebut, beliau berkata, pelajarilah banyak bahasa, sehingga kamu akan mampu membantu lebih banyak orang lain. Dan pesan beliau itu selalu saya ingat.

Ada satu hikmah lain yang selalu saya ingat sekembalinya dari Italy, hikmah ini baru saya sadari setelah dari Italy. Hikmahnya yaitu betapa besar pengorbanan dan cinta guru- guru saya kepada saya dan muridnya yang lain.  Mengapa saya berkata demikian?

Karena, Prof Capecchi bisa saja selalu stay di RS mendampingi pasien dan mahasiswanya, karena memang beliau hanya diperbolehkan bekerja di satu RS, dan telah mendapatkan penghasilan yang layak untuk itu. Sedangkan para dokter dan konsulen saya di Indonesia, barangkali praktek di Rumah Sakit Umum hanya sebagai ladang amal, yang kadang kala jasa mereka tidak dihargai selayaknya. Akan tetapi mereka masih mau menyediakan waktu untuk membimbing kami para mahasiswanya, sehingga saya rasa pengorbanan dan kasih sayang mereka lebih patut diacungi jempol dan mendapatkan standing applause. Dan ini membuat saya merasa bersalah, saya belum melakukan yang terbaik dalam proses pembelajaran saya, sedangkan para guru saya telah meluangkan waktunya untuk mendidik saya.  

Jadi melalui tulisan ini, saya ingin berterima kasih untuk semua ilmu dan pelajaran dari para guru- guru saya. Untuk semua jasa yang mungkin tidak akan pernah mampu untuk saya balas. Terima kasih dok.

Sekali lagi terima kasih untuk CIMSA FK UR yang memberikan saya kesempatan berharga ini. Sehingga saya berkesempatan mereguk ilmu yang lebih luas dan mengecap hikmah hidup lainnya.
Mohon maaf untuk kekhilafan dalam tulisan ini,
Assalamualaikum. 

pemandangan dari jendela bangsal
pemandangan dari jendela bangsal
bersama prof capecchi, residen, dan nidia
bersama prof capecchi, residen, dan nidia
duomo, siena
duomo, siena
menikmati coklat di piazza del campo
menikmati coklat di piazza del campo
bersama residen dan koas di bangsal
bersama residen dan koas di bangsal
international food day
international food day
Azienda ospedaliera Universitaria Sanese, Policlinico Santa Maria Alle Scotte
Azienda ospedaliera Universitaria Sanese, Policlinico Santa Maria Alle Scotte
toscana
toscana
milica, saya, nidia di depan tower piazza del campo
milica, saya, nidia di depan tower piazza del campo
siena, toscana
siena, toscana

No comments:

Post a Comment