Tuesday, September 17, 2019

Mengenal PM10 dan Efeknya Bagi Kesehatan Yang Saat Ini Mencemari Udara Pekanbaru

Mengenal PM10 dan Efeknya Bagi Kesehatan Yang Saat Ini Mencemari Udara Pekanbaru
Kondisi Udara di Sekitar Kampus Universitas Riau

Sampai pada hari ini kualitas udara di Pekanbaru dan sekitarnya belum ada tanda-tanda akan membaik. Sekolah masih diliburkan, kampus juga akhirnya hari ini diliburkan lagi setelah kemaren sempat aktif. Kondisi Asap akibat karhutla yang tidak kunjung membaik ini sangat mempengaruhi kondisi produktfitas masyarakat.

Pada kesempatan kali ini Birulangit akan mencoba mengajak sobat untuk memahami lebih lanjut apa sih itu PM10 dan apa saja efek yang akan ditimbulkan dari berlebihnya kedua partikel tersebut di udara yang kita hirup ini. ok langsung saja ya guys.

Menurut BMKG Partikulat (PM10) adalah Partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer). Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien. NAB PM10 = 150 µgram/m3. Maka jika lebih dari NAB PM10 = 150 µgram/m3 statusnya sudah tercemar.

Menurut BMKG 0-50 ugram/m3 udara masih baik, 50-100 µgram/m3 Sedang. Sementara untuk tingkat tidak sehat adalah diatas 150 ugram/m3.

Kalau menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) membuat buku petunjuk mengenai kualitas udara pertamanya bernama air quality guidelines (AQGs). Edisi terakhir AQGs mengenai polutan udara terbit pada 2006 lalu. Di dalamnya ada batas ambang aman PM 10. Menurut WHO, ambang batas aman paparan PM 10dalam durasi waktu 24 jam adalah 50 ugram/m3.
 
Mengenal PM10 dan Efeknya Bagi Kesehatan Yang Saat Ini Mencemari Udara Pekanbaru
Konsentrasi PM10 pada siang ini di kota Pekanbaru yang terus meningkat
Dampak yang ditimbulkan PM10 biasanya bersifat akut pada saluran pernafasan bagian bawah seperti pneumonia dan bronchitis baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. Dampak lain ialah terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan terjadinya:

1.   Iritasi pada saluran pernafasan. Hal ini dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan dapat terhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan.
2.      Peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar.
3.      Produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernafasan.
4.      Rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan.
5.     Pembengkakan saluran pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel, sehingga saluran pernafasan menjadi menyempit.
6.      Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir.

Pada saat ini sumber terbesar PM 10 yang mencemari udara di Pekanbaru dan sekitarnya adalah berasal dari pembakaran hutan.

Untuk pemantauan PM 10dapat dilakukan dengan melihat di BMKG.

No comments:

Post a Comment