Thursday, September 12, 2019

Sosok Sahabat Rosulullah yang Penuh Pesona


Sosok Sahabat Rosulullah yang Penuh Pesona
Sosok Sahabat Rosulullah yang Penuh Pesona
Abu Darda’ Pribadi Penuh Pesona.

Setiap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai keistimewaan tersendiri. Begitu pula dengan beliau, tak kenal lelah mengejar ketertinggalannya untuk belajar Islam, seakan-akan masa mudanya yang kelabu terus memacu semangatnya untuk menjadi pribadi yang meraup banyak kebaikan. Kehidupannya sehari-hari sangat sederhana. Ketika ada orang bertanya,

Dimana perabot dan hartamu ?”, beliau mengatakan,  “Dirumah kami yang disana (di akhirat). Kami kirimkan semua harta dan perabot yang kami punya, kalaupun masih ada yang tersisa disini, tentu sudah aku berikan untuk kalian”.

Hati beliau telah dipenuhi perasaan cinta pada akhirat, hari-harinya sarat dengan dzikir, mengajarkan Kitabullah dan Sunnah Nabinya, dan mengimami sholat jama’ah. Abu Darda’ berkeliling ke pasar-pasar, membuka majlis-majlis taklim dan bermu’amalat dengan manusia dengan akhlak mulia.

Diantara nasehat Abu Darda’ kepada seorang laki-laki adalah : “ Ingatlah Allah saat engkau lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau sempit, jadilah seorang ‘alim atau seorang pengajar, atau seorang pendengar (kebenaran). Jangan menjadi orang keempat ( seorang jahil dan bodoh ), niscaya engkau akan binasa. Jadikan masjid sebagai rumahmu”.

Beliau juga sangat peduli pada orang lain, selalu mendo’akan mereka, Abu Darda’ berkata, Sesungguhnya aku benar-benar mendo’akan 70 orang dalam satu sujudku, aku sebut nama mereka satu persatu”. Betapa indah dan mengagumkan akhlak beliau hingga Ummu Darda’ mengatakan “ Sebagaimana engkau melamarku di dunia, akupun akan melamarmu di akhirat”.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah mengirim utusan untuk melamar Darda’ yang ingin dijodohkan dengan Yazid, namun beliau menolak karena ingin putri tercinta menikah dengan pria yang paling baik agamanya, dan beliau takut anaknya terfitnah oleh gemerlap dunia.

Kisah Keislaman beliau

Sahabat yang mulia ini bernama Uwaimir bin Malik Al-Khozraji. Sebelum hidayah Islam menembus hatinya Abu Darda’ memiliki berhala yang senantiasa diagungkan serta dilumuri dengan minyak wangi yang termahal dan diberi baju dari kain sutera.

Beliau memiliki sahabat bernama Abdullah bin Rawahah yang terlebih dahulu memeluk Islam. Tanpa kenal lelah lelaki ini berupaya mengentaskan Abu Darda’ dari lembah kesyirikan. Ketika Abu Darda’ sibuk berdagang ditokonya, Abdullah bin Rawahah berkunjung ke rumah dan ditemui Ummu Darda’. Setelah dipersilakan masuk lantas istri Abu Darda’ meninggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Saat itu ia masuk kamar di mana berhala itu diletakkan, dibawanya keluar kemudian dirusaknya hingga hancur berantakan, seraya mengatakan,

Sungguh segala yang disembah selain Allah adalah batil….sungguh sesembahan yang disembah selain Allah adalah batil”.

Ketika istri Abu Darda’ melihat tragedi itu ia pun marah dan menangis, tak lama berselang, sang suami tiba, seketika itu pula api kemarahan menyala dan berkobar, namun akhirnya tersadar menyaksikan berhala yang dipujanya telah hancur lantas berkata,

Kalau berhala tersebut memiliki kebaikan tentu ia bisa membela dirinya dari kejelekan”.

Saat itulah benih-benih keimanan kepada Allah mulai tumbuh. Akhirnya bersama sahabat terbaiknya, beliau menyatakan keislamannya di hadapan Rasul mulia. Abu Darda’ adalah penduduk terakhir dari desanya yang menyambut seruan Islam.  
 
Sosok Sahabat Rosulullah yang Penuh Pesona
Sosok Sahabat Rosulullah yang Penuh Pesona
Pribadi Yang Tidak Mau Menghakimi Orang Lain

Latar belakang Abu Darda’ adalah seorang saudagar yang kaya raya. Pada saat menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi, beliau merupakan pedagang yang sukses di antara penduduk Madinah. Tapi kemudian beliau meninggalkan kesibukan berbisnis dengan alasan tidak dapat menjalankan secara bersamaan antara urusan bisnis dengan urusan ibadah.

“Apa yang dapat membuatku bahagia dengan keutungan perhari 300 dinar, sementara hatiku selalu terpaut ingin masuk pintu masjid?” Demikian alasan utama kenapa Abul Darda’ memilih meninggalkan urusan bisnis.

Sebagai mantan pebisnis Abu Darda’ tak pernah menyerang pesaingnya dengan menjelek-jelekkan kebiasaan riba yang berlaku di antara koleganya. “Saya tak bermaksud mengolok-olok praktek riba. Hanya saja saya tak ingin termasuk orang-orang yang tenggelam dalam urusan bisnis sehingga melupakan ingat kepada Allah,” katanya dengan sangat bijak.

Abu Darda’ merupakan sosok sahabat yang dikenal luas sangat bijaksana. “Hijrahnya” secara totalitas untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan bukan sesembari menyerang kejelekan orang lain. Beliau benar-benar ingin mengaca untuk dirinya, bukan untuk orang lain. Oleh sebab itu ketika disinggung bahwa di antara sahabat Nabi banyak yang berprofesi sebagai pedagang sukses dan saleh, Abu Darda’ berkomentar, “inilah jalan yang saya pilih!”

Demikian halnya ketika sahabat yang lain dengan penuh semangat berjuang mengangkat senjata dan pulang dengan membawa hasil rampasan perang dari Siprus, Abu Darda’ justru menangis. Kejadian aneh ini sempat ditanyakan oleh Jubair b. Nafir: “Kenapa engkau menangis pada saat Allah memberikan kejayaan bagi umat Islam?” Abu Darda’ menjawab: “Betul demikian adanya, tapi jika saya ikut serta dikhawatir diri ini terlalu uforia sehingga melanggar perintah Allah.”

Abu Darda’ diketahui memiliki pandangan, bahwa “seburuk apapun pasti masih terdapat buliran kebaikan padanya”. Dalam riwayat Abu Qulabah disebutkan bahwa suatu hari Abul Darda’ ketemu dengan seorang pemuda berlumuran dosa yang dihina oleh orang-orang sekitarnya.

Beliau justru membelanya, “Apabila orang ini terperosok dalam lubang, maka apa kalian diamkan? Semoga Allah memaafkan kalian,” tanya Abul Darda’ kepada orang-orang yang membenci pemuda itu. “Kenapa kamu tidak murka dengan pemuda itu, wahai Abul Darda’?” Beliau menjawab, “Kita boleh marah karena kelakuan dia, bukan kepada dirinya.”

Pribadi bijaksana Abu Darda’ yang tak ingin menghakimi orang lain patut kita contoh. Beliau tidak mau memberikan beban kepada orang lain yang tak mampu. Beliau tidak mau menjustifikasi orang lain karena urusan itu tidak ada yang berwenang terkecuali hanya Allah. Beliau tak ingin dianggap paling taat beragama semata-mata hanya dalam sudut pandang manusia biasa.

Abu Darda’ pernah berkata, “Berkacalah untuk diri kalian. Sebab banyak orang yang mengikuti arus pujian orang lain namun nyatanya justru menyesal untuk selama-lamanya.”

Wafatnya Abu Darda’

Ketika ajal  menjemput, teman-temannya menjenguk, mereka menanyakan,
Apa yang engkau keluhkan ?” , “Dosa-dosaku!”, jawab Abu Darda’. “ Apa yang engkau inginkan ?  , “Maaf dan ampunan Rabb-ku!”. Lalu beliau mengatakan, “Tolong talqin aku Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah”. Diulang dan diulanglah kalimat tersebut hingga ia meninggal dunia!

Demikian luar biasa kisah hidup Abu Darda’ yang penuh hikmah, ilmu, dan senantiasa menjadi teladan bagi generasi sesudahnya yang selalu setia pada jalan Islam. Al-Muhaqqiq Al- Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya I’lamul Muwaqqiin mengatakan.

Para sahabat adalah orang yang paling baik hatinya, dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya, dibanding dengan yang lain, mereka paling dekat dengan kebenaran, sebab Allah telah memberi keutamaan bagi mereka  hingga mereka memiliki kecerdasan luar biasa, kefasihan berbicara, keluasan ilmu, serta mudah dan cepat dalam memahami persoalan. Bagi mereka hanya sedikit musuh atau bahkan tak ada sama sekali. Mereka senantiasa punya maksud baik dan bertaqwa kepada Allah”.




No comments:

Post a Comment