Malam Ke-23: Bukan Sembarang Kesaksian


https://www.birulangit.id/?m=1

Oleh Dr Afrianto Daud

---
Birulangitid-Apa yang mengubah kepribadian seorang sahabat bernama Bilal Bin Rabbah dari seorang hamba sahaya yang biasanya tidak bisa bilang ‘tidak’ kepada tuannya, kemudian menjadi berani menentang perintah tuannya? Apa rahasia yang membuatnya menjadi manusia merdeka, tak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, Tuhan sang Pencipta?

Perubahan revolusioner pada diri Bilal dan juga banyak sahabat lain di masa awal mereka memeluk Islam tidak bisa dipisahkan dari kesaksian mereka dengan melapalkan dua kalimat tauhid saat bersyahadat membenarkan ajaran Muhammad SAW, mengikrarkan diri memeluk agama Islam. Itulah syahadatain, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, penggalan kalimat yang tentu hapal oleh mayoritas ummat Islam.

Begitulah memang seharusnya efek dari pemahaman syahadat yang benar. Dia tidak hanya berfungsi sebagai kalimat ‘inaugrasi’ seseorang memeluk agama Islam. Dia juga berfungsi sebagai starting point, titik awal bermula perubahan dahsyat pada diri seseorang. Dari kegelapan menuju cahaya. Dari keragu-raguan menuju keyakinan. Dari kelemahan menjadi kekuatan. Dari permusuhan menjadi pembelaan.

Sebagai sebuah kalimat kesaksian, syhadatain juga dipahami sebagai sebuah kalimat janji dan sumpah. Perjanjian yang bukan sembarang janji. Karena langsung dilakukan dengan Allah SWT. Bahwa dengan membaca kalimat ini, seorang muslim berjanji, bersaksi, dan bersumpah bahwa ‘tidak ada ilah kecuali Allah SWT’. 

Impilkasinya, dengan syhadat seorang muslim sesungguhnya sedang memproklamirkan diri bahwa tidak ada zat lain di dunia yang dia dipertuhankan (yang dia ikuti, takuti, harapkan, cintai, sembah, dan sejenisnya), kecuali hanya Allah SWT. Dari sinilah tauhid itu bermula. Keyakinan akan keesaan Allah. Kepatuhan untuk menjalankan semua perintah-Nya. Sami’na wa atha’na. Kami dengar dan kami patuh.

Iman yang kuat adalah hasil dari pemahaman yang syahadat yang benar. Itulah yang kemudian dicontohkan dengan sempurna oleh Bilal bin Rabbah itu. Bahwa dia tak takut lagi kepada tuannya. Dia tak mau kembali pada agamanya sebelumnya. Dia tak mau lagi murtad setelah menjadi muslim. Walau nyawa taruhannya. Seorang ‘neo bilal’ telah lahir pasca syahadatnya kepada Rasulullah SAW.

Syahadat adalah memang kalimat yang memerdekakan seseorang hamba dari jajahan apapun. Dia tak lagi silau, misalnya, dengan kemilau materialistis dunia. Dia tak akan lagi diperbudak pangkat dan jabatan. Dia tak lagi rendah diri berhadapan dengan orang-orang kaya. Dia tak lagi merasa inferior karena perbedaan warna kulit. Perbedaan fisik. Ganteng atau cantik. Sama sekali tidak. 

Syhadat itu telah menempatkan seseorang pada kodratnya sebagai manusia pada tempat yang sehormat-hormatnya. Bahwa semua manusia sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakan mereka hanyalah takwa. Sesungguhnya orang yang mulia di hadapan Allah adalah orang yang bertakwa (Q.S. Al-hujarat:13). 

Konsep Islam tentang kesetaraan manusia di hadapan Tuhan adalah konsep kesetaraan paling progresif yang pernah ada. Dia telah membebaskan manusia sejak lama, jauh sebelum declaration of human right dilakukan. Sekali lagi, Islam telah membebaskan manusia dari perbudakan, misalnya. Islam juga telah membebaskan manusia dari dominasi warna kulit tertentu atau dari keturunan tertentu, atau dari bangsa tertentu. 

Perhatikanlah, misalnya, sabda Rasulullah SAW berikut:

“Tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atas bangsa Ajam (non-Arab), dan tidak ada keutamaan bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit merah kecuali dengan takwa.”

Sekali lagi, ini adalah konsep kesetaraan yang seadil-adilnya. Karena kita tak bisa memilih mau terlahir dari keturunan siapa. Kita tak pernah tahu mau lahir dengan warna kulit apa. Kita juga tak pernah punya pilihan mau lahir sebagai bangsa apa. Tapi, kita bisa memilih mau menjadi orang baik-baik atau orang jahat. Orang bertakwa atau bukan. Inilah diantara pengejawantahan makna syahadat itu dalam kehidupan seorang muslim.

Dengan kemerdekaan yang dimilikinya, seorang muslim yang benar akan melenggang tanpa beban di dunia. Hidupnya lempeng. Karena dia tak pernah berharap terlalu banyak kepada manusia. Dia tak takut siapapun, kecuali pada Rabb-nya.

Dia tak takut menyatakan yang hak, walaupun pahit. Dia berani mengatakan yang benar, walau berat resikonya. Dia bertahan dengan idealisme aqidahnya, walau badai menerpa. Dia tak takut kehilangan pangkat dan jabatan demi mempertahankan agama. Dia tak takut kehilangan pekerjaan karena dia yakin Allahlah sebaik-baik pemberi rezeki.

Lebih jauh dia senantiasa berkomitmen menjalankan syari’at agama Allah dalam kehidupannya. Mulai dari perintah-perintah kecil dalam lingkungan keluarga, sampai pada tataran negara. Dia telah berikrar bahwa semua gerak hidupnya, ibadahnya, matinya hanya untuk Allah SWT.

Sahabat Bilal bin Rabbah dan banyak sahabat lain telah mencontohkan dengan sangat baik tentang bagaimana menjadi muslim yang benar pasca syhadat mereka. Bagaimana dengan kita, yang juga telah mengucapkan dua kalimat yang sama setiap hari dalam hidup kita?

Sudahkah kita menjalani puasa dengan riang gembira, misalnya? Sudah kita menikmati waktu-waktu sholat kita? Sudah kita membayar zakat dengan ikhlas dan suka rela? Sudahkah bibir kita lancar membaca ayat-ayatnya? Sudah kita mau meninggalkan riba? atau malah kita lebih khawatir kena Corona daripada takut dengan neraka-Nya?

Pegang dada masing-masing. Tundukkan kepala. Tanya Diri. Adakah kita minimal agak separuh kualitas sahabat seperti Bilal itu? 

Wallahu a’lam.

---
Demikian serial #semacamkultum malam ini.