Wednesday, June 20, 2012

Enjoy Life VII (Aku dan LDK 2)


 “Gimana kalau kita ngundang Ustadz Jenifer Almari! Pasti yang datang ke acara tablig akbar kita bakal banyak banget.” Cetus Wahyu optimis.
“Itu nama ustadz atau artis Hollywood?” Daffa garuk-garuk kepala, bingung. Kayaknya Jenifer Lopez gak punya sodara yang namanya Jenifer Almari deh!
“Dari literatur yang saya baca, gak ada tuh nama ustadz Jenifer Almari.”
“Masa sih? Itu sering nongol di tivi kok! Masa gak tau sih?” Wahyu ngotot.
“Yang loe liat itu acara ceramah atau film box office, Yu?!” Daffa ikut-ikutan ngotot kalau Wahyu salah.
 “Heh, yang serius sedikit kenapa?! Denger yah Wahyu, ustadz yang sering ngisi ceramah di tivi itu namanya Jeffry Al Bukhori.” Airin yang dari tadi berusaha sabar akhirnya meledak. Semua terdiam, kecuali.. “Tuh kan Yu! Loe salah, gue bilang apa!” pekik Daffa merasa menang karena ternyata yang salah adalah Wahyu, sesuai perkiraannya.
“Daffa! Jangan bercanda terus!”
Wahyu nahan ketawa melihat Daffa yang tiba-tiba bungkam mendengar omelan Airin. “Semuanya harap tenang.” Fian akhirnya angkat bicara untuk menetralkan suasana yang mulai memanas. “Untuk mengundang pembicara terkenal memang ide yang bagus, tapi seperti yang kita semua ketahui. Dana kita sangat terbatas, ada baiknya kita manfaatkan dana itu untuk yang lain. Sebenarnya, ada aspek penting dalam sebuah acara selain pembicara. Yaitu pengemasan acara serta publikasinya.”
“Maksudnya pengemasan bagaimana?” Airin mulai melupakan amarahnya dan sangat tertarik dengan apa yang disampaikan Fian.
 “Seperti yang kita tahu, selama ini acara-acara LDF begitu monoton. Kita harus mengemas acara kita dengan cara yang berbeda dari biasanya, jika biasanya kita hanya duduk-duduk mendengarkan ceramah mungkin bisa kita ganti dengan drama yang temanya bisa kita sesuaikan dengan targetan kita.”
“Drama?” Airin dan Maya saling tatap, brilliant!
“Airin, Maya dan Rio, saya butuh bantuan kalian untuk memikirkan konsep acara dan targetan acara kita. Daffa, coba kamu pikirkan publikasi yang heboh dan dapat menarik perhatian peserta. Wahyu dan Aldi, coba kalian buat survey kecil-kecilan untuk mendapatkan informasi minat mahasiswa terhadap acara LDF. Saya harap lusa sudah ada progress report dari masing-masing, kita rapat lagi lusa pada jam yang sama.” Fian memberikan instruksi. “Oh iya, Daffa kamu dapat tugas ekstra untuk mengadakan close recruitmen bagi yang ingin bergabung di kepanitiaan kita, ok?”
“Siap boss!” Daffa tersenyum lebar, cincailah!
***
            “Fian itu tegas banget yah, Rin? Dulu di SMA dia ikutan Rohis juga ya?” tanya Maya setelah meneguk habis es cendolnya. Airin menggeleng. “Anak MPK ya?” tebak Maya. Airin kembali menggeleng. “OSIS? Paskibra?” cecar Maya semakin penasaran.Airin menggeleng, “Bukan, dia anak basket.”
            “Hah? Serius? Terus kenapa dia jadi pindah haluan ke LDF?”
            Airin mengangkat bahu. Mana ia tahu! Sebenarnya itu juga pertanyaan yang pertama kali mampir di otaknya ketika melihat nama Alfian Pratama terpampang di pengumuman pengurus LDF. Saat SMA bahkan Airin tidak melihat tanda-tanda kalau Fian berminat mengikuti berbagai acara yang diadakan oleh Rohis. Fian akan ada di garda terdepan saat acara seperti pentas seni, promnite, tapi Airin tidak pernah menemukannya di acara tablig akbar, tarhib ramadhan apalagi pengajian rutinan.
             “Mungkin udah dapet hidayah kali ya, Rin? Ya udah kita doain aja semoga dia sama yang lainnya istiqomah.”
            Airin tersenyum getir, tapi akhirnya mengangguk juga.
***
            “Cuma ini? Jadi setelah saya beri waktu tiga hari, konsep yang kamu buat cuma itu? Saya harap teman-teman yang ada disini sudah mengerti, tujuan kita mengadakan acara launcing LDF ini adalah untuk meningkatkan bergining position LDF di mata mahasiswa lain. Mencitrakan LDF yang menarik. Kalau kita mengcreate acara sama seperti acara pengajian di kelurahan, jangan harap LDF akan tetap bertahan sampai tahun depan! Buat sesuatu yang luar biasa! Out of the box” Suara Fian saat rapat sore tadi kembali terngiang di telinga Airin. Ikh! Tau apa coba dia tentang acara LDF? Dateng aja belum pernah, sekarang sok ngomentarin acara LDF basilah, monoton, biasa, gak menarik. Airin mencak-mencak di depan cermin. Rapat tadi sore benar-benar merusak moodnya hingga malam hari.            
            “Mungkin apa yang dibilang Fian bener, Rin. Coba deh kamu inget-inget, berapa kali sih targetan peserta acara rohis waktu SMA tercapai atau membludak? Jarang kan? Yang ada kita maksa temen-temen biar ikut, ini bisa dijadikan evaluasi, mungkin pada kenyataannya selama ini kita memang kurang kreatif mengemas acara kita sehingga kurang menarik di mata temen-temen.” Lagi, Kak Nad membela Fian setelah ia mencurahkan semua kegalauannya via telpon. Tapi kali ia Airin tidak bisa membantah lagi, pada kenyataannya apa yang dikatakan Fian sore tadi memang benar. Ia terlalu terpaku pada ‘kebiasaan’ seakan itu menjadi patokan dalam membuat suatu acara.
            “Coba buat hal yang baru, Rin. Kakak yakin kamu bisa, keluarkan semua potensi yang kamu punya.” Kak Nad, Airin makin rindu pada kakak perempuannya yang sangat bijaksana itu. Dulu saat kakaknya masih tinggal bersama di rumah, mereka selalu bertengkar layaknya kucing dan anjing. Kini setelah mereka terpisah jarak, mereka malah semakin dekat.
            Out of the box. Acara apa yang disukai teman-temannya yang rata-rata hedonis itu? Nonton film. Jazz festival. Gelar Jepang. Karokean. Airin melist minat teman-temannya yang biasanya terdengar di kelas ketika akan akhir pekan. Acara apa yang bisa mengalihkan kesukaan teman-temannya itu? Muhasabah. Seminar. Kajian keislaman. Tarhib. Tabligh Akbar. Kini ia melist acara yang sering diadakan kelembagaan keislaman. Hey! Ia menemukan benang merahnya; hampir semua konten acara-acara itu serupa. Pantas saja semakin lama, peminat acara keislaman berkurang. Karena dari tahun ke tahun acaranya sangat monoton.
            Tiba-tiba saja terbesit satu ide di kepalanya, segera ia sambar hape di meja belajarnya. Menekan satu tombol untuk menyambungkannya dengan Fian, ketua panitia launching LDF-nya. “Ok. Saya sepakat dengan ide kamu, Rin. Besok kita sampaikan ke seluruh panitia, jika mereka sepakat. Kita bisa langsung menjalankannya.” Airin tidak menyangka akan mendapat tanggapan positif dari Fian secepat ini. Tapi ia sekarang jadi senyum-senyum sendiri memikirkan idenya.
***
            Tiket should out! Itu laporan Maya yang menjadi penanggung jawab penjualan tiket acara launcing LDF bertema “Dakwahpucinno; Racikan nikmat secangkir manfaat.” Ternyata itu bukan hanya isapan jempol, kini Airin berdiri di belakang panggung, memastikan semua pengisi acara sudah siap. Semua kursi terisi penuh, bahkan harus menambah beberapa kursi untuk menampung peserta yang datang.
            Wahyu yang hari ini bertindak sebagai MC tengah membuka acara yang dimulai pukul 09.00 pagi itu, membukanya dengan bacaan basmallah dan tilawah. Setelah itu, grup nasyid dadakan bentukan Fian cs muncul ke tengah panggung. Suasana peserta di bagian perempuan mulai grasak-grusuk. Acara dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter besutan Daffa,
            “Menurut loe, LDF itu gimana??” sebuah tulisan muncul di layar sebagai pembuka.
            “LDF itu isinya orang-orang sholeh dan sholehah, kayak gue.”
            Wahyu cengar-cengir melihat wajahnya nampang duluan di film itu sebagai pembuka, diiringi teriakan protes dari peserta yang sebagian besar adalah teman sekelasnya.
            “Disini, saya bisa belajar leadership, attitude, solidarity, dan yang pasti bisa belajar gimana caranya masuk syurga!”
            Kacamata Aldi bergerak-gerak, ia jadi salah tingkah melihat wajahnya terpampang begitu besar di layar. Setting perpustakaan menjadi identitas yang melekat di dirinya selain buku tebal sebesar bantal sebagai kutu buku.
            “LDF itu kayak hantu!” semua orang melotot mendengar pernyataan Daffa di layar. “Hahaha…jangan pada serius gitu dong! Gue bercanda.” Fiuh… semua menghela nafas, terutama Airin yang baru pertama kali melihat rekaman video ini. “Sini, sini!” Daffa mengajak penonton untuk mengikutinya. “Di sini, gue belajar banyak, salah satunya adalah kalo di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat!” Kamera mengarah pada dua orang wanita berjilbab yang sedang gotong royong ngangkat meja. Airin melotot. Itu kan dia sama Maya! Semua penonton tertawa geli.
            “Terus, tahu yang mana yang bener,” kamera memfokuskan ke arah seorang gadis berjilbab yang sedang menangkupkan tangannya sebagai ganti salaman dengan lawan jenisnya; itu Airin lagi! Layar berganti dengan gambar Rio yang sedang bermain futsal menggunakan training panjang. Lalu tiba-tiba gambar bergoyang seperti diterjang gempa. Layar buram, perlahan fokus dan terlihat jelaslah ada sepasang muda-mudi yang sedang duduk berduaan di pojok kelas sambil berpegangan tangan.
            “UPS! Ini dia nih yang gak boleh ditiru! Haram boy!” tampang Daffa dilayar sangat menggelikan dengan mata membulat yang dibuat galak, persis dosen killer. Sebagian ikut tertawa, sebagian lagi menunduk malu; merasa tersindir. Gambar berganti dengan segerombolan anak bola yang sedang tanding menggunakan celana di atas lutut. “Nah, sebenernya ini juga gak boleh, bro!” tambah Daffa. “Apalagi yang ini.” Seorang gadis mengenakan rok mini sedang berjalan santai; khusus gambar yang satu ini hanya ditayangkan secepat kilat.
            “Gue juga jadi lebih suka nongkrong kayak gini setelah masuk LDF.” Terpampang gambar Fian sedang duduk di taman sambil membaca Al-Qur’an, para peserta perempuan histeris. “Karena gak ada yang tahu, kapan nyawa kita dicabut malaikat Izrail.” Gambar berubah menjadi gundukan tanah yang ditaburi bunga, “Dan saat itu, amal kita gak lagi diterima.” Tutup Daffa.
            Sebutir bening menetes di pipi salah seorang peserta, ia menoleh kanan kiri. Ternyata disekelilingnya atmosfer berubah hening, semua hanyut dengan pikiran masing-masing. Wahyu muncul dengan tepuk tangan, diikuti semua peserta yang tadi sempat tersihir dengan film buatan Daffa.
            Fian mengacungkan dua jempol untuk sahabatnya, menepuk-nepuk punggungnya. “Loe emang berbakat, Daf! Keren.”
Daffa meringis, “Rin, gak marah kan?” Arin mengangkat bahu, “Awalnya saya pengen lempar kamu pake pot bunga, tapi… filmnya bagus kok, menginspirasi.”
            “Jadi gak jadi kan lempar potnya? Kalo gitu, lempar saya pake bunganya aja gimana? Hehe..” Daffa ngibrit setelah menggoda Airin.
            “DAFFA….!”
***
            Acara ditutup dengan beberapa lagu karya Maher Zein, Yusuf Islam, dan Michael Heart yang dibawakan oleh Fire Band, dua vokalis cewek yang biasanya menggunakan hotpans dan kaos ketat itu kini menggunakan jilbab sesuai request Fian. Lagu terakhir dibawakan kolaborasi antara Fian dan Fire Band. Applause penonton begitu meriah. Beberapa mengucapkan selamat atas suksesnya acara launcing LDF kali ini. Beberapa mengucapkan terimakasih atas pengingatannya. Mengangkat dua jempolnya. Mengatakan salut kepada panitia. Airin tersenyum, ada sebuncah rasa syukur di dadanya.*** [*DeztiAdzkia; diBawahLangit, 24 Juli 2011]
            *Desti Adzkia merupakan nama lengkap dari Desti Astuti, sarjana peternakan IPB angkatan 2007. Pernah diamanahkan sebagai ketua keputrian LDF Famm Al An’aam Fak Peternakan IPB tahun 2009/2010. Dapat dihubungi via twitter @onlydesti, blog aliyaadzkia.blogspot.com, facebook Desti Adzkia (ukh_deztie88@yahoo.com) dan 085717126337.

No comments:

Post a Comment