Tuesday, June 19, 2012

Enjoy Life VII (Aku dan LDK I)


Tanpa basa-basi dan tanpa memberi tanda sore itu hujan turun. Deras! Deras sekali. langit menjatuhkan butiran air yang membuat tubuhku lepek. Basah! Huuh! Aku terus berlari menebas tiap air yang mengguyur. Aku terpaksa bermandikan air hujan dan rela basah kuyub seperti ini agar cepat sampai ke kos ku. Ini salahku. Karena musim hujan seperti ini memang harus membawa payung kemanapun aku pergi. Apalagi cuaca tak menentu, Hujan sering datang tiba-tiba.
Buku kuliahku tidak bisa di selamatkan. Air hujan lebih dulu menyentuhnya dan membasahi setiap lembar bukuku. Padahal isi buku itu adalah materi untuk ujian tengah semester beberapa minggu lagi. Sial!
Aku bergegas membuka bajuku yang basah lalu meraih handuk dan segera membersihkan seluruh tubuhku di kamar mandi. Lekas itu, ku intip dari sela jendela kamarku ternyata hujan masih saja lebat sedangkan adzan magrib sudah berkumandang. Memanggill jiwa-jiwa yang haus akan kenikmatan. Nikmat Allah yang tiada tanding.
Hape-ku berdering. Ku tahu betul itu telepon dari Fuad. Dalam satu minggu ini, selama aku menghilang dan tak menampakan diri dihadapannya, sudah berpuluh-puluh kali Fuad menelpon tapi tidak ada satupun teleponnya yang ku angkat. Sms-nya pun tidak ku balas.
Selang beberapa menit dan lagi-lagi hapeku bordering. Ada sms masuk. Dari Fuad! Rupanya sahabatku itu tidak pantang menyerah. Dahsyat! Ku percepat gerakanku untuk membaca sms itu,
“Assalamu’alaikum. Saudaraku, ana dan teman-teman semua menunggu kabar dari ente. Banyak tugas yang harus kita selesaikan bersama. Kalau ada waktu tolong balas sms ana. Syukran.”
Ku jatuhkan hape ke atas tempat tidurku. Ku ambil air wudhu lalu sholat magrib. Lepas sholat, hapeku berdering. Terdengar suara Maher Zain dengan lagunya Insyaallah mengalun indah lewat hapeku. “Huuh! Pasti telepon dari Fuad.” kesalku dalam hati. Tapi ternyata dugaanku salah. Itu telepon dari Umi di kampung sana.
“Assalamualaykum, Umi.” Aku membuka pembicaraan.
“Alaykumsalam, Nak,” balas Umi
“Ada apa, Mi?” tanyaku, padahal dengan jelas aku sudah tahu dan bisa menebak apa yang akan Umi katakan. Pasti soal itu lagi. Soal ajaran sesat lagi. Soal agama sesat lagi. Soal…..
“Kamu masih aktif di Organisasi Rohani Kampusmu itu, Nak?”
Tuh kan benar dugaanku. Aku heran, kenapa Umi tidak bosan hampir tiap hari menelponku. Cuma mau bilang ini? Tapi aku Aku tak bicara sepatah katapun. Aku diam saja. Aku tak menjawab pertanyaan Umi. Karena Aku yakin Umi pasti sudah tahu jawabannya.
“Nak, Umi tidak mau kamu ikut yang begituan. Umi takut kamu masuk ke ajaran sesat. Agama sesat. Apa tuh namanya? Hheemm…”
“NII, Umi….”
“Iya.. NII. Sudah! Umi tidak mau tahu pokoknya kamu jangan deh ikut yang begituan. Oh ya, Uang jajanmu masih ada, Nak?” di seberang sana Umi masih semangat menasehatiku.
“Masih, Umi,”
“Ya sudah… Jangan lupa belajar ya, Nak. Wassalamualaykum.”
“Wa’alaykumsalam, Umi,” Ku tutup telepon Umi.
Sudah berapa kali aku jelaskan pada Umi kalau Lembaga Dakwah di Kampusku tuh bukan ajaran sesat. Sudah berapa kali aku menjelaskan bahwa tidak semua yang ia lihat di televisi sesuai dengan kenyataan. Sudah berapa kali aku tegaskan bahwa aku tidak terlibat dan tidak akan terlibat dengan yang namanya NII, Ahmadiyah dan lain sebagainya. Sudah berapa kali aku… Heuh! Umi Menyebalkan.
Dan sekarang, aku pusing sendiri. Sudah seminggu ini aku tidak pernah datang ke secretariat di masjid kampus. Sebenarnya aku mau. Mau banget. Tapi… tapi Umi melarang untuk aku ikut organisasi keagamaan itu. Takut masuk ajaran sesat katanya. Padahal tidak seperti itu, kan?
Aku yakin sekali lembaga dakwah di kampus-kampus seluruh Indonesia bersih dengan yang namanya ajaran sesat. Mungkin! Soalnya aku belum pernah  mendengar ada anak Rohis yang terjerumus ke ajaran sesat. Justru anak-anak yang biasa-biasa saja yang terjerumus. Anak-anak yang ikut organisasi di luar organisasi Dakwah kampus lah yang justru terjun kedalam ajaran sesat macam NII itu. Kesal!
Dalam hati ada getar yang begitu abstrak. Seperti terguncang sebuah gempa dahsyat tapi hanya dalam mimpi. Seperti getaran ketika naik kereta. Tapi… ini begitu asing dan sulit untuk aku jelaskan.
Allah, inilah aku dengan wajah seadanya menatap-Mu penuh harap. Sesungguhnya Engkaulah maha tahu dari segala yang diketahui dan tidak diketahui.
Diluar hujan masih saja deras. Bau tanah basah yang menyeruak kepermukaan semakin kuat terhirup hidung. Bulan, jelas dia masih enggan menampakkan diri. Mungkin nanti. Selepas hujan reda. Atau malah malam ini ia berniat tidak menampakkan diri? Entahlah…
Ku sandarkan tubuh kurusku pada punggung tempat tidur kamar kosku. Ku pakai kembali kacamata yang sempat kubuka ketika sholat tadi. Pikiranku melayang jauh mengabur. “Apa aku harus mengikuti kemauan Umi  ya untuk tidak mengikuti organisasi Islam karena takut terjerumus ajaran sesat. Karena sepertinya lebih baik aku seperti ini, ibadah saja sudah cukup dan fokus kuliah agar Umi bangga.” Dialog batinku dalam hati yang membuat diri ini semakin bimbang, resah dan…. Galau.
Akhirnya kuputuskan. Detik itu juga langsung kuraih hapeku dan ku telepon Umi. Namun ketika umi mengangkat teleponku, tak ada kata yang keluar, Aku tak bisa bicara sepatah katapun. Semuanya seperti tertahan karena….
“Assalamualaykum. Nak. Assalamualaykum. Hallo.. Hallo.. Nak..” berkali kali Umi memberi salam tetapi aku diam. Mulutku diam. Mungkin karena bimbang, karena belum yakin dengan keputusanku atau karena takut? Entahlah… tapi semua harus di akhiri. Tekad ku
Dengan suara gemetar ku coba bicara. Sedikit mengeluarkan kata-kata. Setelah itu… setelah memaksa mulutku agar mengeluarkan kata dan bicara pada Umi kalau aku bersedia untuk menuruti kemauan beliau supaya aku tidak lagi aktif di organisasi kerohanian,  beliau terkejut, tapi ada yang aneh, sangat aneh. Detik itu juga, dengan alasan yang tak jelas beliau malah mengizinkan aku untuk mengikuti organisasi lembaga dakwah di kampusku.
“Yeah!” teriakku.
“Eits… tapi dengan satu syarat!”
“Apa itu Umi?” tanyaku penasaran dengan syarat yang diajukan Umi.
“Hhhem.. kamu harus berjanji untuk total dalam berdakwah. Jangan setengah-setengah! Itu pesan almarhum Abimu, Nak.”
“SIAP, Umi!”
Allah, belum mampu aku bangkit saat malam-Mu menyapa ruang terdalamku. Kau dimana? Akulah insan sederhana yang rindu dengan segala kemegahan-Mu. Maafkan. Maafkan aku jikalau mungkin aku belum sepenuh hati membela agama-Mu. Maafkan. jikalau aku masih begitu terbuai oleh nafsu dunia-Mu. Maafkan. Maafkan.
Oh ya, Fuad! Aku harus menghubungi Fuad. Harus…
“Assalamualaykum. Saudara terbaikku.” Aku memulai percakapan
“Wa’alaykumsalam, Masyaallah, Akhi, Apa kabar? Kemana saja Ente?”
Dan…………………………. Ukhuwah itu.. Perjuangan itu.. Subhanallah..
Allah, Aku malu. Malu! Jika malaikat datang pada malam-Mu sedangkan aku alpa. Apakah pantas surat kasihku pada-Mu aku titipkan? Layakkah aku yang menjijikan ikut berjuang? Allah, aku malu. Malu! Sungguh, Kalau orang-orang itu ikut berjuang sedangkan aku tidur dalam kandang. Malu!
Allah, masukkan aku dalam syuhada-Mu. Jadikan aku prajurit-Mu, terjunkan aku bersama para pejuang-Mu. Demi Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi.


Angkatan : 2008
Jurusan : Fisioterapi
Facebook : Syafroni Agustik
Twitter : ony89
Blog : Kakofini.Multiply.com
Amanah : Dep. Syiar

2 comments:

  1. Ketemu Juga,,, :) Disini Toh Muhammad Rokhim Uchiha Ternyata Orang RIAU Juga... Salam Kenal mas..

    Dari Dodol Blog

    ReplyDelete