Monday, July 16, 2012

Enjoy Life VII (Aku dan LDK 14)


           
            Cerita ini dimulai saat saya akan memasuki dunia kuliah. Ketika itu saya kelas 3 SMA, saya mendaftar salah satu beasiswa kuliah yang seleksinya dimulai sejak SMA. Beasiswa tersebut bernama Beastudi Etos. Setelah melalui beberapa seleksi, akhirnya saya lolos dan dinyatakan diterima di beasiswa tersebut. Disusul kemudian berita kelolosan saya di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Betapa rasanya seperti mimpi, ketika semua hal yang saya inginkan bisa tercapai. Allahu Akbar! Saya tahu Allah senantiasa hidup, Allah tak pernah tidur untuk mengabulkan doa-doa hambaNya.
            Beberapa minggu kemudian saya ditelpon oleh salah satu panitia beasiswa tersebut untuk tinggal di asrama yang telah disediakan. Berat rasanya harus meninggalkan keluarga demi menempa diri di asrama. Setiba di asrama, saya disambut oleh beberapa kakak angkatan yang ramah dan baik hati. Saya pun diajak untuk buka bersama dan shalat berjamaah. Suasana kekeluargaan pun sangat kental terasa di asrama. Keesokan paginya setelah shalat shubuh, seluruh penghuni asrama dikumpulkan untuk diberi pengumuman terkait peraturan asrama. Wow! Subhanallah, peraturannya beraneka ragam, mulai dari adanya jam malam di asrama pukul 9 malam, sampai kewajiban harus memakai rok. Hampir seluruh peraturan asrama susah untuk saya terima, karena berbeda sekali dengan kehidupan saya semasa SMA, utamanya kewajiban tentang memakai rok.
            Semasa SMA, saya tergolong siswa yang nakal. Mulai dari hobi nongkrong sampai gonta ganti pacar. Bahkan saya dan teman-teman se-genk sering memusuhi teman-teman rohis (organisasi kerohanian islam) di SMA. Bisa dibilang kehidupan SMA saya dulu sangat jahiliyah. Banyak waktu, pikiran, dan energy yang saya buang begitu saja. Sungguh tidak bermanfaat. Astaghfiruloh, ingin rasanya memohon ampun sebanyak-banyaknya atas dosa di masa lampau. Entah apa yang membuat saya seperti itu, mungkin lingkungan yang membentuknya. Ditambah kondisi psikologis saya yang masih labil. Mungkin kehidupan saya semasa SMA adalah hal lumrah bagi pelajar di kota kelahiran saya, Surabaya. Saya baru sadar semua hal yang saya lakukan adalah kesalahan besar, ketika saya memasuki dunia kampus.
            Rasanya seperti sebuah kilas balik dari semua kehidupan yang pernah saya rasakan ketika menginjak bangku kuliah. Disitu saya mulai mengerti apa itu dakwah. Kemudian saya mulai memberanikan mengikuti organisasi kerohanian islam di kampus yang lebih familiar dikenal dengan sebutan lembaga dakwah kampus. Sedikit demi sedikit saya mulai belajar untuk menjadi muslimah yang kaffah, tentunya dengan bantuan dari senior-senior di asrama, yang hampir seluruhnya adalah aktivis dakwah di kampus. Subhanallah sungguh tidak menyangka bahwa ternyata selama ini banyak hal yang saya lewatkan. Banyak hal tentang agama ini yang harusnya saya pelajari lebih dalam. Semua kejadian masa lampau, yang saya alami, pahit memang. Namun kesalahan tersebut akan selalu saya jadikan pelajaran yang berharga. Jangan sampai hal tersebut terulang kembali. Dan yang terpenting dari semua ini adalah proses saya untuk belajar, untuk lebih mengenal, bahkan berjuang untuk agama ini. Istiqomah lebih penting daripada saya melakukan perubahan lebih cepat, namun di tengah jalan saya berhenti di jalan dakwah ini.
            Perlahan tapi pasti saya mulai belajar untuk mengenakan kerudung, karena semasa SMA saya belum mengenakan kerudung. Lalu saya dikenalkan oleh senior tentang halaqah. Pertama megikuti sejuk rasanya. Hati yang tandus ini rasanya seperti disiram air pegunungan yang dingin. Begitu juga dengan teman-teman seperjuangan di LDK yang begitu baik, selalu mengingatkan akan kebaikan. Mereka juga mengajari saya tentang banyak hal, seputar agama yang tidak saya ketahui. Adalah Mbak Karimah yang selalu mengajari saya dengan sabar. Beliau adalah teman sekamar saya sekaligus mas’ulah Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI), yang notabene adalah induk dari lembaga dakwah yang ada di fakultas. Teman-teman lain pun sering mengatakan bahwa kondisi saya ibarat botol yang kosong, kemudian diisi air. Saya berharap air itu akan memenuhi botol, namun jangan sampai tumpah, karena air itulah ilmu yang nantinya akan saya amalkan.
            Semakin sering saya bergaul dengan teman-teman aktivis dakwah makin banyak hal yang berubah dari saya. Saya pun mulai memakai kerudung double luar dalam dan mulai melebarkan jilbab, juga menarik jilbab sampai menutupi dada. Saya pun mulai istiqomah untuk memakai rok kemanapun saya pergi. Dari beberapa sumber yang saya pelajari, hal tersebut memang dianjurkan dalam islam untuk melindungi wanita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Lama kelamaan saya makin nyaman dengan model baju sekarang, dibanding jaman dulu ketika masih jahiliyah, ketika masih suka memakai celana jeans dan baju ketat. Saya pun makin merasa aman ketika saya berada dimanapun, ketika memakai jilbab lebar dan rok saya jadi tidak mudah diganggu oleh laki-laki yang bertemu dengan saya. Sementara itu saya terus beristighfar dan memohon ampun ketika mengingat kejahiliyahan masa lampau. Naudzubillah, semoga apa yang saya alami di masa lampau tidak terulang kembali dan semoga saya bisa istiqomah.  Amin.
            Tak hanya soal penampilan yang berubah dari saya, masalah pemikiran juga. Lambat laun saya makin mengerti apa itu dakwah, dan saya mulai menikmatinya. Padahal dulu saya sangat asing dengan dakwah, bahkan mendengar nama dakwah saya takut. Dulu, di mindset saya, dakwah berhubungan dengan teroris. Sungguh ironi, ketika seorang muslim seperti saya tidak paham bahkan takut dengan kata “dakwah”. Sekarang setelah saya mengetahuinya, selanjutnya adalah tugas saya untuk berdakwah dan mendakwahkan ke orang-orang yang belum tahu apa itu dakwah.
            Mulai dari Ghazwul Fikr sampai Ghadul Basr saya ketahui. Dan lagi-lagi hanya Subhanallah yang bisa saya lantunkan. Maha Suci Allah, betapa naifnya saya tidak mengerti tentang hal tersebut. Sungguh luar biasa ternyata Islam mengajarkan hal-hal detail. Bahkan hubungan ikhwan-akhwat pun diatur dalam Islam. Sungguh luar biasa agama ini, tidak ada yang lain, yang bisa menandingi Islam, rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesata alam. Tak kalah juga Pembinaan pagi di asrama setelah salat subuh juga membantu saya untuk semakin mengenal islam. Mulai dari sirah nabawiyah, tazkiyatun nafs, sampai Fiqih Wanita. Dan semuanya semakin menarik perhatian saya untuk lebih mengenal agama ini.
            Suatu hari saya mendapat sms dari mas’ul lembaga dakwah di fakultas saya. Beliau bernama akh Saiful. Beliau sekarang menjadi Ketua untuk Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Veteriner (FSLDKV). Isi sms beliau adalah undangan untuk mengikuti rapat. Awalnya saya tidak mengerti tentang rapat tersebut. saya bertanya ke teman-teman saya yang lain mereka tidak mendapat sms serupa. Akhirnya saya pun datang memenuhi panggilan rapat dari mas’ul. Setibanya saya kaget, karena ternyata rapat tersebut untuk badan pengurus harian lembaga dakwah di fakultas saya, yang dinamakan Jamaah Muslim Veteriner. Saya kaget setengah mati, karena sebelumnnya saya tidak ditanyakan atau mengikuti seleksi untuk menjadi badan pengurus harian, namun hal tersebut merupakan keputusan sepihak dari mas’ul. Saya pun makin bertanya-tanya kenapa saya yang diundang, sedangkan untuk menjadi BPH (Badan Pengurus Harian) lazimnya adalah mahasiswa angkatan kedua, sedang saya masih berstatus mahasiswa baru. Hampir 80% mahasisiwa yang diundang adalah angkatan kedua. Sedangkan yang masih berstatus mahasiswa baru adalah saya dan kedua teman saya, yakni ukhti Ayis dan ukhti Lia. Saya pun didaulat menjadi sekretaris bidang kemuslimahan. Bahkan saya tidak mengerti apa itu kemuslimahan, karena sebelumnya saya belum pernah mengikuti rohis, baik di SMA maupun SMP. Dua orang teman saya didaulat menjadi sekretaris umum dan bendahara umum. Kami juga kebingunan karena sebelumnya tidak ada konfirmasi dari mas’ul, namun tiba-tiba didaulat menjadi BPH seperti ini. Namun amanah ini akan selalu kami jaga. Kami berjanji tidak akan mengecewakan mas’ul yang sudah memilih kami, dan amanah yang beliau embankan pada kami.
Kami akan selalu berjuang untuk berada di garis depan dalam dakwah ini. Kami akan senantiasa memberikan kebermanfaatan bagi seluruh mahasiswa muslim di kampus ini.
            Hari demi hari berlalu, di kemuslimahan, saya banyak belajar dan dibimbing oleh kepala bidang kemuslimahn, yakni mbak Ria. Beliau telaten untuk mengajari saya seputar medan dakwah ini. Saya pun makin menikmati dakwah ini meskipun banyak tantangan dan hambatan. Terutama dari teman-teman yang masih ammah tentang dakwah. Tak jarang mereka sering memandang aneh penampilan saya, bahkan banyak yang sering bertanya, “kenapa sih selalu pakai rok?”, “kenapa kerudungnya lebar banget?”, “kenapa kerudungnya double?, dan sebagainya. Saya pun harus menjawab satu persatu pertanyaan mereka dengan perlahan. Mereka pun akhrinya mengerti, namun ada juga yang masih belum menerima pernyataan saya. Teman-teman SMA saya juga pernah mengolok saya tentang penampilan baru saya. Mereka kaget melihat perubahan drastic saya, mereka bahkan mengatakan penampilan baru saya terkesan kaku dan ketinggalan jaman. Namun untungnya, masih banyak juga teman dan keluarga yang masih mendukung saya. Saya jadi teringat tentang petuah dari salah satu ustadz bahwa dalam dakwah ini ada karma. Ada pejuang dakwah yang akan berjuang habis-habisan, ada yang mendukung, namun juga ada yang akan hanya menjadi penonton. Semua orang dalam dakwah ini berada dalam porsi masing-masing.
            Di kemuslimahan saya belajar banyak tentang pembinaan khsusus muslimah. Hingga akhirnya di tahun kepengurusan Jamaah Muslima Veteriner (JMV) berikutnya, saya terpilih menjadi kepala bidang kemuslimahan periode 2012. Mas’ulah JMV, ukhti Lailia memberikan amanah tersebut kepada saya, karena berpikir saya sudah belajar banyak tentang kemuslimahan, dan juga memiliki pengalaman yang tidak sedikit. Tanpa banyak pertimbangan saya pun menerima amanah tersebut. Akan ada banyak tantangan berikutnya ketika saya menjadi kabid kemuslimahan. Namun, berkat sekretaris bidang dan staff-staff saya di kemuslimahan, ukhti izza, dek faiz, dek murti, dan dek ita, semuanya terasa ringan. Mereka banyak membantu saya di bidang ini untuk menyelasikan proker-proker kemuslimahan seperti Kajian khusus muslimah, festival kemuslimahan, dan lain-lain. Mereka juga bukan sekedar partner dalam JMV ini, tapi mereka sudah  saya anggap seperti saudara sendiri. Kebersamaan dan kedekatan kami lebih dari sekedar partner dalam organisasi.
            Saya pun teringat dengan nasihat dari senior, bahwa dalam dakwah ini kita juga perlu mewarnai orang lain. Masuk dalam organisasi lain untuk nantinya menebarkan misi dakwah yang telah saya emban. Akhirnya saya pun masuk di organisasi keprofesian bernama IMAKAHI (Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia). Di organisasi ini anggotanya sangat heterogen, sangat berbeda dengan anggota JMV yang sudah paham tentang arti kaffah dalam Islam. Sekali lagi saya mendapat banyak rintangan dalam menjalankan misi dakwah ini. Ketika terkadang rapat Imakahi harus berbarengan dengan liqo’ dan sebagainya. Maka ketika ijin tidak mengikuti rapat pun saya harus memutar otak untuk menyampaikan bahwa saya ada liqo’, dan itu lebih penting dari rapat apapun.
            Hari demi hari saya lalui bersama anggota-anggota imakahi semakin seru, karena sedikit demi sedikit mereka mulai mempertimbangkan kehadiran saya, mereka mulai menghormati saya, dengan tidak mengajak berjabat tangan, dan mulai mengerti kenapa saya harus pakai rok dan jilbab lebar. Dan tidak hanya itu saja, yang makin membuat saya senang, adalah banyak teman-teman akhwat di FKH akhirnya banyak yang mulai memakai kerudung.
            Alhamdulilahirobbil alamin, banyak tantangan dan rintangan dalam dakwah ini. Tak jarang bahkan kita dicaci, dimaki, diremehkan oleh yang lain. Namun kesemua itu adalah proses panjang untuk kita mencium wangi syurga di akhirat kelak. Dan di dalam dakwah, saya banyak belajar tentang apa itu saudara, apa itu teman, apa itu pengorbanan, dan apa itu kerjasama. Dan yang membuat kita makin terharu adalah ketika teman-teman kita yang sebelumnya ammah ikut merasakan dan mencintai dakwah ini. Sungguh luar biasa pengorbanan teman-teman dalam barisan dakwah ini. Bahkan diantara pemuda-pemudi di umur mereka yang berfoya-foya, bersenang-senang, atau bahkan hanya menuntut ilmu ketika di kampus, tapi aktivis-aktivis dakwah ini mereka senantiasa mengorbankan waktu, energy, pikiran yang mereka punya untuk bekerja keras memperjuangkan agama mereka. Tak banyak yang bisa seperti itu, dan untuk itu mereka tidak dibayar sepeser pun. Namun insya Allah, semua amalan yang mereka lakukan akan dicatat sebagai amalan ahli syurga. Amin ya robbal alamin.



BIODATA PENULIS
Nama lengkap : Reni Nanda Rizkika
Angkatan         : 2010
Jurusan            : Kedokteran Hewan
FB                    : Reni Nanda Rizkika
Twitter             : @reninanda
Amanah           : Kepala Bidang Kemuslimahan Jama’ah Muslim Veteriner Fakultas Kedokteran                              Hewan Universitas Airlangga

No comments:

Post a Comment