Tuesday, July 24, 2012

Enjoy Life VII ( Aku dan LDK 16)


Refleksi Perjalanan Dakwahku

Entah apa yang terjadi. Perubahan ini sangat cepat. Aku bahkan tak tahu kapan awal mulanya. Memutuskan sesuatu benar- benar membuat berani untuk mengambil resiko. Itulah hidup. Satu hal, aku tidak pernah menyesal atas keputusan ini.
Berada di barisan ini kumulai sejak masuk bangku kuliah. Mengikuti training perekrutan pertama dari sebuah LDK dan sempat aktif sekitar 3 bulan. Namun sayangnya dalam perjalanan aku mengalami kejenuhan dan mulai perlahan menjauh selama satu bulan lebih.
Bukan. Bukan karena aku tidak senang atau tidak mendapatkan manfaat dari organisasi ini, namun aku sedikit sombong kala itu. Merasa tidak butuh untuk bergabung di sebuah organisasi dalam berdakwah dan merasa mampu berdakwah secara individu. Hingga aku benar- benar vacuum dan meninggalkan lingkaran kecilku.
Satu hal yang sangat disyukuri (walaupun kala itu jengkel), murabbi selalu menghubungiku. Menanyakan kabarku dan mengajakku untuk kembali hadir berkumpul dengan teman- teman untuk menimba ilmu. Dengan sombong, kuberikan berbagai alasan untuk tidak hadir dan. Ah, bosan rasanya selalu ditanyai baik via sms dan tidak jarang juga di telepon. Sekuat mungkin kuupayakn untuk tidak bertemu dengan kakak yang jilbab besar apalagi samapi bertegur sapa. Dan mesjid pun mulai kujauhi.
Saat- saat tidak terisinya ruhiyah lewat mentoring yang biasanya kuikuti, alhamdulillahAllah masih tetap menjagaku. Untuk ibadah- ibahada wajib tetap kulaksanakan, demikian juga untuk bebrapa amalan sunnah. Namun kusadari penurunan derajat keimanan kala itu.
Hingga satu ketika, murabbi mengirimku sebuah pesan singkat. Masih dengan bentuk yang sama seperti sebelumnya. Namun ini terasa lebih mengena, apalagi aku dengar dari yang lain bahwa ada teman baru di kelompok kami. Dengan sedikit mengurangi rasa egois dan sombong, kuhadiri mentoring dan mulai mengejar ketertinggalan. Apalagi teman- temanku yang dahulu kami sama di perekrutan, mereka kini sudah menjadi penguru LDK.
Hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk tetap memperbaiki diri da berupaya untuk memberikan manfaat untuk orang lain sebanyak- banyaknya. Hadir di setiap pertemuan dan mencoba belajar di departemen- departemen LDK. Aku sangat merasa senang dengan ukhuwah yang sangat erat. Beraneka ragam teman- teman dalam lingkaranku dan aku menemukan sosok yang luarbiasa di sana. Sosok yang hingga hari ini menjadi sahabat dekatku. Jazakillah khoir ukhti…
Hingga sang murabbi terus memberdayakanku. Di awal aku sangat khawatir dengan amanah ini, mampukah aku? Mengurus LDF yang baru saja berdiri dan menjadi sekretaris epartemen Kaderisasi. Satu amanah yang cukup berat namun aku tidak tahu ingin memberi amanah ini kepada siapa. Dengan berupaya keras, bersama sahabat seperjuangan yang lain kami merekrut dan membina adik- adik di fakultas.
Amanah bertambah- tambah. Di periode berikutnya aku ditempatkan di LDK di departemen yang sama. Sempat berontak ketika itu. Bukankah si A (sahabat dekatku) lebih layak untuk ini? Apa yang akan kulakukan di sini? Dan aku mengajak kakak seniorku untuk berdiskusi. Aku protes. Bagaimana mereka yakin padaku, sementara aku yang lebih tahu tentang diriku? Ahh, benar- benar sulit saat itu. Kusampaikan apa yang ada di hatiku yang intinya aku ingin mundur. Sahabatku lebih pantas untuk ini, demikian kukatakan.
Setelah aku selesai bicara, kakak tersebut menenangkanku.
“Dik, amanah ini bukan datang dari kakak ataupun yang lain. Amanah ini adalah amanah yang datang dari Allah. Allah lah yang menggerakkan hati kakak- kakak itu untuk memilih adik. Kalau tidak adk siapa lagi?”
“Husna (bukan nama sebenarnya)?”, jawabku.
Dengan panjang lebar kakak tersebut menjelaskan apa alasan mereka memilihku. Aku masih berat, tidak sanggup berbuat seperti yang dilakukan oleh mereka yang ada pada posisi ini sebelumnya. Akhirnya, dengan tenang dan optimis aku mengiyakan. Aku akan berbuat semampuku.

Dan mulailah aku dengan perjalananku. Semester akhir yang menuntut untuk bisa fokus kepada penulisan tugas akhir, di masa ini pula aku disibukkan dengan berbagai agenda. Aku mulai merasakan apa yang dirasakan kakak- kakak sebelumnya. Dan jujur aku merasa sangat bersalah dengan sikapku yanag kala itu terlalu egois hingga membebankan amanah ini di pundak mereka yang seharusnya mengerjakan tugas akhir.
Aku dengan kuliahku, tugas akhirku, amanah dakwahku, dan ibadahku. Keempat poin ini menemani perjalanan hidupku. Aku mulai terbiasa untuk bekerja cepat dan terarah. Masa- masa awal memang terasa sulit, namun perlahan kubiasakan diriku untuk bisa menjalankan semua amanah ini denngan baik. satu hal, aku tidak ingin menyalahkan dakwah atas apapun yang terjadi.
Nah, bagaimana dengan sahabat- sahabat seperjuanganku?
Beberapa dari mereka tetap bertahan, walau ada satu dua orang yang mundur. Tidak masalah bagiku.
Beberapa dari mereka kurang puas dengan hasil kerjaku, bukan satu hal yang membuatku surut.
Beberapa dari mereka sering mengeluh, kucoba untuk menenangkan.
Agenda- agenda dakwah menanti di depan. Tidak butuh orang- orang yang cengeng yang hanya akan merusak serangkaian semangat yang ada. Tidak ada kata berhenti, hanya istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga dan siap untuk berkarya.
Satu catatan kecil yang kubuat untuk mereka yang lelah berdakwah. Semoga menginspirasi.
Kami pun pernah seperti itu. hari- hari kami dibayangi oleh berbagai agenda; kampus, dakwah, keluarga. Bahkan hari- hari kami juga sering ditemani oleh airmata, keluh kesah, dan peluh.

Airmata yang mengalir atas perasaan yang tidak menentu akan semua agenda ini. Perasaan akan ketidakmampuan menyelesaikan amanah ini. Perasaan yang merasa tidak bisa adil untuk semuanya. Airmata yang mengalir akibat ketidakefektifannya waktu yang kami habiskan. Airmata penyesalan akan berbagai kezholiman yang kami perbuat dan rasa ketakutan yang amat sangat akan ketidak amanahan dalam urusan ini semua.

Keluh kesah yang sampai ke telinga kami dari saudara kami. Ini membuat kami seolah tak mampu lagi untuk mengeluh. Keluhan mereka menyadarkan kami bahwa kami punya kewajiban untuk membantu mereka, bukan malah membebani mereka dengan keluh kesah kami. Tidak ada yang salah dengan keluhan yang kalian berikan. Kami pun pernah mengalami itu. Tapi alhamdulillah, Allah masih memebri kami kekuatan untuk tetap berjalan dan berjuang di dakwah ini.Ttapi kami masih normal. Semua itu bisa saja terjadi pada kami suatu saat nanti. Sungguh kami butuh nasihat dan peringatan dari kalian.

Peluh yang membasahai tubuh dan pakaian ini sudah menjadi teman keseharian kami. Lelah memang. Namun ada satu kekuatan yang membuat kami tetap bisa teguh di sini. Kuat untuk menjalani semua aktivitas ini. Kami sangat senang untuk melakukan semua ini. Kekuatan yang kami peroleh tentu saja bukan kekuatan yang sembarangan. Ia berasal dari Rabb kami yang yang tentu saja tidak akan dapat disaingi oleh kekuatan manapun.

Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa kami pun pernah mengalami ini semua. Bahkan kekecewaan pun hampir muncul di setiap agenda yang kami lakukan. hingga teman2 di diskusi kelomppok juga mulai kecewa. Tapi perlahan- lahan kami bisa memahamkan mereka. Sungguh semuanya butuh proses. Kami pun sama seperti kalian. semoga tetaap istiqomah. Semoga senyum menjadi pilihan kita dalam menghadapi ini semua.  Kalau bukan kita siapa lagi???





Nama               : Nurhasanah Sidabalok
Angkatan        : 2008
Jurusan            : Pend. Bhs. Inggris
FB                   : Nurhasanah San Sidabalok/ sans_hamasa@yahoo.com
Blog                : Nurhasanah Sidabalok/ penulismudasukses.blogspot.com
Amanah           : Staf Dept. Rekrutmen dan Pembinaan Kader Unit Kegiatan Mahasiswa Islam  (UKMI) Ar- Rahman UNIMED

No comments:

Post a Comment