Thursday, September 6, 2012

Enjoy Life VII (Aku dan LDK 21)


Journey To The West

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(Q.S. Muhammad: 7)

            Ini bukan mengenai biksu Tong beserta keempat muridnya, Sun Go Kong, Ti Pat Kai, Wucing dan seekor kuda yang dulunya adalah manusia, yang melakukan perjalanan ke barat untuk mengambil kitab sucinya. Bukan pula kisah seribu penderitaan cinta atau petualangan yang menghadapi 99 rintangan dan 33 cobaan. Tapi ini tentang perjuangan sekelompok mahasiswa yang mencoba memberikan yang terbaik dalam media dakwah kampus yang tengah dikembangkannya.
            Berawal dari sebuah mentoring, lahirlah sebuah karya nyata yang menginspirasi, yang menjadi titik tolak kebangkitan media dakwah kampus. Ketika itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Sebagaimana mahasiswa muslim lainnya, saya juga harus mengikuti proses mentoring yang merupakan agenda wajib dari kampus. Sebab, sebagian nilai mata kuliah agama diambil dari kegiatan ini. Awalnya memang keterpaksaan, tapi selanjutnya justru menjadi kebiasaan.
            Mentoring resmi berakhir pada semester pertama, namun saya tetap mengikuti kegiatan ini di semester selanjutnya. Dari sinilah muncul ide itu. Mentor saya berkeinginan untuk menghidupkan media kampus yang selama ini tidak kelihatan batang hidungnya. Ia merasa, peran media sangatlah penting dalam perkembangan suatu hal. Maka dari itu, ia mengajak seluruh mentenya untuk ikut serta dalam membuat gebrakan baru, lahirnya media dakwah kampus.
            Semua setuju. Beliau berperan sebagai pemimpin umum, sementara saya dijadikan pemimpin redaksinya. Awalnya saya menolak, sebab saya tidak punya pengalaman menulis. Namun karena tidak ada lagi, akhirnya saya terima amanah itu. Dari sinilah saya mulai belajar menulis, dan memimpin sebuah tim. Kami membuat sebuah zine (majalah mini) yang bernama ’Ultrassafinah’, yang bernaung di bawah Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) Teknik Perkapalan ITS Surabaya, yang bernama ’As-Safiinah’.
Ini adalah zine yang unik sebab kami menulisnya sendiri, melayoutnya sendiri, mencetaknya sendiri, dan menyebarkannya juga sendiri. Tepat saat saya menginjak semester tiga, edisi perdana mulai beredar. Lalu setiap bulannya berturut-turut menyusul edisi selanjutnya. Kami mencoba menebarkan hikmah dan renungan melalui setiap edisi yang beredar, dengan berbagai tema yang berbeda. Hal yang cukup sulit mulai terlihat pada edisi ketiga, dimana kami harus menggali informasi dari setiap ketua LDJ di ITS.
Inilah pengalaman pertama saya, juga reporter lainnya dalam mewawancarai orang lain. Kaku? Pasti. Bingung? Tentu saja. Tapi inilah proses pembelajaran menjadi seorang jurnalis yang menarik. Saat itu saya berpikir, inilah edisi yang paling menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Tapi tak masalah, sebab dalam edisi tersebut tertuang gagasan lahirnya FSLDJ (Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Jurusan) yang akhirnya direalisasikandi tahun berikutnya.
Ternyata saya salah. Edisi yang paling menguras banyak tenaga, pikiran, waktu, juga dana, bukan pada edisi ketiga. Pada edisi keempat, kami memutuskan untuk mengambil tema mengenai lembaga dakwah kampus di Indonesia. Dan untuk mewujudkannya, kami sepakat untuk mengunjungi kampus-kampus terkemuka yang ada di pulau Jawa.
            Perjalanan kami lakukan saat libur semester, mengingat banyak tempat yang harus dikunjungi. Apalagi jaraknya yang cukup jauh dan menyebar merata di pulau Jawa. Letak kampus kami yang berada di Jawa Timur, menjadikan perjalanan tertuju ke barat, menuju Jawa Tengah dan Jawa Barat. Beberapa kampus yang kami kunjungi terletak di Surabaya, Malang, Jogja, Semarang, Bogor, Bandung dan Jakarta. Inilah misi gila yang kami lakukan. Sebuah misi yang kemungkinan hanya akan dilakukan oleh dua golongan, yaitu mereka yang gila atau yang nekat. Entah kami termasuk yang mana.
Saat itu, yang berangkat menjalankan misi ini hanya 3 orang. Saya selaku pemimpin redaksi, satu orang reporter dan satunya adalah pemimpin umum. Masing-masing orang tidak pergi secara bersamaan, melainkan menuju ke kota yang menjadi bagiannya.
Berbekal doa, kamipun berangkat menuju tempat tujuan masing-masing. Segala sesuatunya harus kami siapkan sendiri. Sebab majalah ini bersifat independen, yang berati pendanaannya pun demikian. Misipun sukses, meski terseok-seok. Banyak kisah unik, lucu, mendebarkan, dan menegangkan yang mewaranai setiap pembuatan zine ini, khususnya di edisi ke empat dimana para reporter harus berpetualang. Inilah pengalaman berharga bagi kami semua, terutama saya secara pribadi.
Mungkin yang paling berat tugasnya adalah pemimpin umum yang mendapat jatah berkunjung ke Depok, ke markas besar SALAM UI. Ia sempat menginap di rumah temannya di berbagai kota yang ia singgahi, juga harus rela berdiri di depan toilet selama perjalanan menggunakan kereta. Apa lagi kalau bukan karena keretanya penuh. Wajar, kereta kelas ekonomi, yang penuh sesak dengan penumpang.
            Selama menjadi pemimpin redaksi, lalu di tahun berikutnya diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin umum, saya tidak hanya belajar bagaimana caranya menulis, tapi juga bagaimana memimpin sekaligus memikirkan sumber dana untuk menghidupi majalah ini. Sejak awal berdirinya, Ultrassafinah adalah sebuah zine independen yang dibuat oleh sekelompok orang, di bawah naungan lembaga dakwah jurusan. Mau tidak mau, selain memikirkan bagaimana zine ini bisa selesai dibuat, juga harus berpikir bagaimana caranya zine ini bisa dicetak dan disebar.
            Dana menjadi alasan utama. Media ini berawal dari sebuah ideologi akan kebangkitan dakwah bil qolam. Lalu, siapa yang mau membiayainya? Apalagi di masa perintisan, yang pasti akan susah sekali meminta lembaga lain untuk bekerja sama mengingat kita belum melakukan aksi nyata. Tapi kami percaya, sekecil apapun yang dilakukan manusia dalam berbuat kebaikan, Allah akan memberikan pertolongan.
            Terbukti, hingga saya lengser dari jabatan pemimpin umum, zine ini sudah terbit sebanyak 8 edisi, dengan oplah per edisinya minimal 500 eksemplar. Di setiap pembuatan zine ini, saya seringkali bingung jika ditanya dananya di dapat dari mana. Karena memang, saat mulai membuat setiap edisinya, seringkali dengan tidak memegang uang sepeserpun untuk dialokasikan dalam pembuatan majalah tersebut. Tapi saya yakin, pertolongan Allah pastilah datang. Maka saya di awal tidak berpikir  bagaimana caranya ini bisa terbit, tapi bagaimana caranya bisa selesai.
Dan ajaibnya, selalu saja ada dana untuk mencetak majalah yang jumlahnya tidak sedikit itu. Ketika majalah hendak selesai, biasanya dana baru datang dengan sendirinya. Entah dari pembaca yang ingin menyumbang, sponsor, hingga bapak dan ibu dosen yang juga tertarik menyisihkan sebagian dananya untuk pembuatan zine tersebut. Jika tidak ada, berarti harus menggunakan dana mandiri. Dan inipun, entah kenapa, kamis selalu saja memiliki uang lebih dimana biasanya mahasiswa harus berhemat dengan pengeluarannya.
Mungkin zine ini juga yang akhirnya menginspirasi bangkitnya media dakwah kampus di ITS. Beberapa bulan semenjak beredarnya Ultrassafinah, mulai bermunculan zine atau media lain di berbagai LDJ di ITS, termasuk lahirnya Manazine yang merupakan zine resmi hasil karya JMMI (Jamaah Masjid Manarul Ilmi), yang merupakan LDK di ITS. Beberapa kawan dari kampus lain seperti UI, IAIN Surabaya, Unesa dan Unair juga mengaku terinspirasi. Beberapa dari mereka mengontak dan ingin membuat hal serupa di kampus mereka.
Saya sadar, Allah akan memberikan pertolongannya jika hamba-Nya mau bersungguh-sungguh, utamanya dalam hal kebaikan. Bahkan sekecil apapun ikhtiar yang kita lakukan, asalkan dalam kebaikan, Allah akan menurunkan berkahnya untuk kita. Maka jangan berputus asa, jangan menyerah, dan jangan takut untuk tetap berbuat kebaikan. Allah bersama hamba-hamba-Nya yang berjuang menegakkan kalimat-Nya.



Biodata:
Nama penulis              : Satria Nova M.K.
Jurusan                        : Teknik Perkapalan ITS Surabaya
Angkatan                    : 2008
FB                               : http://facebook.com/satria.nova1
Twitter                                    : @satria_nova
No HP                         : 085655479927

No comments:

Post a Comment