Friday, June 28, 2019

ALLAH DAN RASULNYA TELAH MEMUDAH


Oleh: Irsyad Syafar



Kalau liqo sama saya, gak hebat-hebat amat. Pertama karena memang ilmu saya masih sangat-sangat sederhana, tidak pakar fiqh apalagi ushul fiqh, tidak jago tafsir dan hadits, belum hafal Al Quran seluruhnya, apalagi Hadits-hadits Nabi saw, dan masih terbatas wawasannya. Kedua karena sunnahnya para sahabat dahulu tidaklah muluk-muluk.

Biasanya kita liqo itu membaca Al Quran sambil merapikan tajwidnya. Lalu menyetor hafalan Al Quran setengah atau satu halaman. Lalu membahas yang ringan dan sederhana dari ajaran Islam, yang membuat kita lebih baik di sisi Allah, dari ayat-ayat yang jelas dan mudah saja. Adapun yang rumit dan jelimet, itu ruangnya di tempat lain.

Menarik membaca penjelasan Ibnu Abbas tentang kandungan Al Quran yang dikutip oleh Ibnu Jarir:
وَقَالَ ابنُ جَرِيرٍ : حَدَّثَنا مُحَمَّدُ بنُ بَشَّارٍ ، حَدَّثَنا مَؤَمَّلٌ ، حَدَّثَنا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنادِ , قَالَ : قَالَ ابنُ عبَّاسٍ : " التَّفسيرُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ : وَجْهٌ تَعْرِفُهُ العَرَبُ مِنْ كَلاَمِهَا ، وَتَفْسِيرٌ لاَ يُعْذَرُ أَحَدٌ بِجَهَالَتِهِ ، وَتَفسيرٌ يَعْلَمُهُ العُلَمَاءُ ، وَتَفْسِيرٌ لاَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ اللهُ
Artinya: Ibnu Jarir Ath Thabari berkata, "Kami diceritakan oleh oleh Muhammad bin Basyar, dari Muammal, dari Sufyan, dari Az Zinad, dia berkata: Telah berkata Ibnu Abbas, "Tafsir Al quran itu terbagi 4 sisi: Sisi pertama yang dipahami orang arab dari bahasa arab. Sisi kedua yang tidak ada alasan seseorang tidak mengetahuinya. Sisi ketiga yang hanya dipahami oleh ulama. Dan sisi ke empat adalah yang hanya Allah yang mengetahuinya".

Dengan pembagian Ibnu Abbas ini, maka kandungan Al Quran itu lebih kurang ada 4 macam:
Pertama, ayat-ayat yang dipahami oleh siapa saja yang paham bahasa arab, tidak perlu penjelasan dan penafsiran. Begitu dibaca dia langsung bisa paham dan mengerti maksudnya. Masuk juga dalam kategori ini yang memahami Al Quran melalui terjemahannya.

Kedua, ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum halal dan haram yang sudah pasti di dalam Quran. Yang seharusnya setiap muslim mengetahuinya. Siapa yang membacanya dapat langsung memahaminya. Seperti ayat tentang haramnya babi, bangkai, darah, tuak, judi dan lain-lain sebagainya.

Ketiga, adalah ayat-ayat yang membutuhkan keterangan ulama untuk memahaminya. Hal itu karena adanya hal yang umum dan khusus, hal yang mutlak atau muqayyad, hal yang mansukh (telah dihapuskan) dan sebagainya.

Keempat, ayat-ayat yang Allah saja yang memahami maksud dan penjelasannya. Seperti berita-berita ghaib terkait akhirat, sorga dan neraka, juga makna huruf-huruf di awal sebagian surat Al Quran.
Dari 4 pembagian ini dapat dipahami, sebenarnya banyak sekali isi atau kandungan Al Quran yang langsung bisa dipahami oleh orang yang paham bahasa arab atau yang membaca terjemahannya. Tanpa perlu harus menjadi ulama dan pakar yang hebat segala ilmu syariah dulu untuk itu.
Dalam sebuah ayat Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Artinya: “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur`an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Kalaulah harus menjadi Lc atau MA dulu, atau selevel ulama, baru boleh mengajarkan Islam kepada orang lain, niscaya Islam takkan pernah tersebar ke pelosok-pelosok afrika, ke negara-negara Eropa, ke negeri-negeri di asia tenggara, termasuk ke penjuru nusantara.
Kalau harus fasih dulu berbahasa arab, dan paham dulu sekian ratus ayat dan hadits, tafsir ilmu tafsir, fiqh ilmu tafsir dan berbagai pendapat ulama, apa artinya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((بلِّغوا عني ولو آية، وحدِّثوا عن بني إسرائيل ولا حرَج، ومَن كذب عليَّ متعمِّدًا فليتبوَّأْ مقعدَه من النار))؛ رواه البخاري.

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahwa Nabi saw bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Ceritakanlah dari bani Israil, tak ada dosa. Siapa yang berbohong terhadapku dengan sengaja, maka dia akan menempati tempatnya d
i neraka". (HR Bukhari).

Adalah sangat mungkin bagi seorang yang sudah baligh yang bisa membaca Al Quran dan terjemahannya, lalu mengajak beberapa orang yang seusia dengannya untuk bersama-sama secara rutin membaca dan memahaminya. Kemudian berangsur-angsur mengamalkan yang mudah dipahami tersebut. Tanpa harus berfatwa atau melahirkan hukum-hukum syariat. Apalagi kalau yang diajak tersebut adalah yang lebih yunior usianya.

Para Sahabat Rasulullah saw dahulu, tanpa menjadi pakar dan ahli dulu, mereka sudah langsung berdakwah. Hari ini mereka masuk Islam, besok mereka sudah berdakwah. Mush'ab bin Umair mengislamkan hampir seluruh penduduk madinah, sementara Nabi masih di Makkah, dan ajaran Islam masih jauh dari ketuntasan.

Muadz bin Jabal dikirim ke Yaman tanpa harus menjadi ahli segalanya. Thufail bin Amru Ad Dausiy, baru masuk Islam di Makkah, lalu pulang ke Yaman mengIslamkan kaumnya. Setahun setelah itu baru mereka sebagian bisa ke Makkah bertemu Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Jadi, liqo saya sangat sederhana, ada ayat dan hadits yang dibaca, ada buku yang dipelajari. Tidak hebat-hebat amat. Jika mau betul-betul mendalam pembahasannya, maka hanya dengan kuliah sacara runut dan rapi jalannya. Kalau hanya dengan pengajian saja, juga bukanlah cara yang memadai untuk tuntas memahami Islam.

Berhentilah mempertanyakan kerja-kerja orang lain yang sedang berdakwah dan berjuang untuk Islam. Karena itu hanya kebiasaan para pengangguran.
Wallahu A'laa wa A'lam...

No comments:

Post a Comment