Friday, September 6, 2019

Cerita keMusyrikan KKN Desa Penari

Cerita keMusyrikan KKN Desa Penari
Cerita keMusyrikan KKN Desa Penari


Sempat baca cerita KKN penari yang sedang viral, menurut saya ada kemungkinan kisah itu benar. Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa Bangsa Jin di desa itu bisa menjadi begitu kuat dan menguasai masyarakatnya? Bukankah manusia seharusnya lebih tinggi derajatnya?

Jawabannya karena di desa itu saya lihat, Bangsa jin sudah lama disembah dan dipuja manusia. Masyarakatnya gemar merendahkan diri dihadapan Jin. Jadi Jin semakin bertambah kekuatan dan merasa besar dihadapan manusia jahil yang berbuat syirik

Coba lihat hantu di negeri-negeri Arab, tentu tidak seseram dan sebanyak jenis hantu dipulau Indonesia yang sangat bermacam-macam jenis dan bentuknya. Karena di Jawa bangsa Jin sudah sering disembah dan dipuja dengan hal klenik, kejawen dan kemistisan sehingga mereka bertambah besar.

Sejatinya Jin takut kepada manusia, apalagi jika manusia itu beriman dan hanya menyandarkan kekuatan kepada Allah, seperti setan sangat takut dengan Umar bin Khattab, sampai-sampai ketika diketahui melewati Umar suatu jalan Setan melewati jalan yang lain.

Penampakkan Jin dan gangguannya sudah ada sejak dulu, termasuk dimasa Rasulullah, tapi kita akan saksikan dimasa itu bangsa jin bertekuk lutut dan dihinakan, tapi mengapa sekarang justru banyak manusia yang bertekuk lutut kepada jin?

Jin pernah menampakkan diri dihadapan Rasulullah dengan membawa obor api dengan bermaksud menyakiti, Rasulullah kemudian menangkapnya dan hendak mengikatnya sampai pagi. Tapi tidak jadi karena teringat doa nabi Sulaiman. (Riwayat ini terdapat dalam Shahih Bukhari no 3423)

Ketika Khalid bin Walid hendak menghancurkan berhala Uzza yang selama ini disembah masyarakat Arab, muncul jin penunggu patung Uzza berbentuk wanita tua telanjang berambut acak-acakan hendak lari. Setelah itu Khalid membunuhnya. (Riwayat ini terdapat dalam Sunan An Nasa'i)

Jin juga pernah hendak mencuri harta zakat, namun tertangkap tangan oleh sahabat Abu Hurairah, beliau mengancam akan melaporkan jin itu kepada Rasulullah, ia ketakutan dan mengemis iba hingga akhirnya mengajarkan kepada Abu Hurairah ayat kursi sebagai perlindungan dari kejahatan mereka. (Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari no 2311)

Kisah jin yang mencuri ini juga populer dalam masyarakat kita dengan sebutan tuyul. Intinya, Allah telah menciptakan manusia lebih tinggi dari kebanyakan makhluk termasuk Bangsa jin.

Maka manusia tak boleh merendahkan diri kepada mereka. Semakin merendah dan menghinakan diri manusia dihadapan Jin, maka ia akan semakin besar dan berkekuatan. Merasa diatas angin untuk memperbudak manusia.

Apalagi jika manusia memohon perlindungan kepada mereka dengan mempersembahkan sesajen, tumbal dan hal-hal lain yang tergolong syirik seperti yang dilakukan oknum masyarakat desa penari dalam kisah itu, Makin senang dan angkuhlah mereka dalam memperbudak manusia.

"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat." (QS. Al-Jinn:6)

Berlindung kepada Setan, bukan dengan meminta perlindungan pula dari Syetan, itu haram bahkan syirik.

Memohonlah kepada Allah, sebab setan sejatinya lemah, tapi jika ia dipuja maka akan menjadi besar.

"Jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"(QS. Fushilat: 36)

Katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan Setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku" (QS. al-Mukminun: 97–98).

Dalam hadits dinyatakan,
"Jangan kamu mengucapkan ‘celaka setan’. Karena ketika kamu mengucapkan kalimat itu, maka setan akan membesar, hingga dia seperti seukuran rumah. Setan akan membanggakan dirinya, ‘Dia jatuh karena kekuatanku Namun ucapkanlah, ‘Bismillah’ karena jika kamu mengucapkan kalilmat ini, setan akan mengecil, hingga seperti lalat. (HR. Ahmad 21133, Abu Daud 4984) 

Ath Thawawi mensyarah (menjelaskan hadits ini):
Rasulullah melarang hal itu, karena ucapan itu akan membuat setan bangga, dia menyangka kecelakaan itu disebabkan diri setan, padahal sejatinya bukan darinya.
Namun datang dari Allah. Dan Nabi memeritahkan untuk menggantinya dengan ucapan ‘Bismillah..’ sehingga setan tidak mengganggap bahwa kecelakaan itu darinya dan dia memiliki peran dengannya" (Musykil al-Atsar, 1/346).

Di desa penari itu dan menjadi fenomena banyak masyarakat, ketika melewati tempat angker bukan berlindung kepada Allah, tapi dengan ucapan yang menjurus syirik seperti "Kulo nuwun mbah, aku wedi", atau "pang numpang lewat" dan perkataan semisal.

Jelas dengan demikian Setan semakin merasa jumawa makhluk yang selama ini Allah istimewakan bernama manusia justru malah menghinakan diri dihadapannya.

Ini seperti terjadi dalam masyarakat Arab Jahiliah pra Islam dulu, setiap mereka melewati suatu tempat angker mereka mempersembahkan sesuatu.

Atau membaca mantra-mantra syirik sebagai tolak bala', memohon perlindungan kepada penghuni tempat tersebut. Sampai Islam datang dan memurnikan tauhid. Rasulullah datang mengajarkan kita suatu doa, “Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan “a’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq” (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya)”, maka tidak ada sama sekali yang dapat memudhorotkannya sampai ia berpindah dari tempat tersebut” (HR. Muslim no. 2708). 

Jika suatu masyarakat telah dikuasai kesyirikan, jauh dari iman dan tauhid. Maka setan akan semakin besar dan berkuasa memperbudaknya. Islam menentang keras kesyirikan, dan juga wahana-wahana yang bisa jadi perantara kepadanya.

Seperti situs-situs kesyirikan, Khalifah Umar bin Khattab merobohkan pohon tempat ba'iatur ridwan karena ada indikasi mulai dikeramatkan oleh masyarakat. Sebab pemimpin yang baik memprioritaskan keselamatan akidah umat, sebab itu kunci kebahagiaan akhirat.

Aku mendengar Isa bin Yunus mengatakan, “Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat (Bai’atur ridhwan) kesetiaan di bawahnya dikenal dengan pohon Syajaratur ridhwan Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (kesyirikan) terhadap mereka.” [Al-Bida’u wan-Nahyu ‘Anha, 42. Al-I’tsih├óm, 1/346]

Itu baru berpotensi, Khalifah Umar sudah menebangnya demi menjaga tauhid umat dari keterjerumusan. Terus bagaimana jika sudah dikeramatkan? Tentu lebih darurat lagi untuk dimusnahkan. Jika disuatu masyarakat terpancang tauhid yang kokoh, setan tidak akan berdaya dan lemah seperti lalat. Tapi jika disuatu masyarakat kesyirikan merajalela, setan disembah dan dipuja maka ia akan jumawa. 

Sebab sejatinya setan itu lemah, tapi senjata terakhir setan yang lebih berbahaya drpd mereka yang ghaib adalah ketika ia berhasil menghasut setan-setan dari kalangan manusia untuk memadamkan kebenaran dan berbuat kerusakan. Ini jauh lebih berbahaya dari setan ghaib.

Seperti dimasa Rasulullah, setan menjelma menjadi seorang tua bijaksana dari tanah Najd, lalu menghasut para pemuka Quraisy yang sedang bermusyawarah untuk menemukan cara bagaimana menghadapi pengaruh beliau, setan yang menyamar itu mengusulkan agar Rasulullah dibunuh saja. Lalu atas dasar usulan itu, para pemuka Quraisy memburu Rasulullah untuk membunuhnya yang menjadi salah satu sebab beliau hijrah ke Yastrib.
Wallahua'lam bish shawab

MutiaraDabiq

Sumber: Kopas dari yang berserakan di Facebook

No comments:

Post a Comment