Sunday, October 13, 2019

Pembentukan Karakter Generasi Milenial

Pembentukan Karakter Generasi Milenial
Pembentukan Karakter Generasi Milenial



Sebuah quotes pernah ditulis, dan berbunyi
“Jika kau “bukan siapa-siapa, maka apapun kebaikan yang keluar dari mulutmu hanya akan terdengar sebagai kentut, berlalu dan kemudian dilupakan. Namun  jika kau adalah seorang yang “digolongkan sukses” baik dari ukuran social maupun financial, maka kentut yang kau keluarkan pun akan terdengar indah dan bermakna”.



Quotes tersebut mungkin secara harfiah tidak sepolos itu, namun hal tersebut cukup menggambarkan secara implementasi. Tidak usah mencari fakta diluar, tapi cukup tanyakan pada individu masing-masing. Secara naluriah, kita akan lebih mendengarkan nasehat, bimbingan atau apapun itu istilahnya dari seseorang yang kita anggab lebih baik dan pantas memberi nasehat, baik itu secara tertulis, maupun lisan, yang mencakup semua jenis masalah kehidupan yang ada. 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut! Mencari kebaikan dari orang yang punya pengalaman, ilmu, kebijaksaaan dan pemahaman tentang suatu hal,dan kemudian  dijadikan referensi untuk kebaikan diri termasuk didalamnya media intropeksi adalah suatu langkah bijak yang harus dilakukan. Namun kadang kita sering lupa, bahwa “pemahaman” bisa datang dari siapa saja. 

Era milenial! ya sekarang kita berada pada suatu titik dimana kadang kita tidak bisa membedakan mana itu adalah kebaikan defenitif, dan kebaikan yang berasal dari pemakluman, kebiasaan, norma adat serta kebaikan yang lahir dari sesuatu yang sedang viral sekarang, yaitu kebaikan yang lahir dari “toleransi” terlepas dari siapa yang mengatakan ataupun bagaimana seorang tersebut memahami makna toleransi. 

Pergerakan informasi sekarang ini sangat dinamis, cepat serta tanpa terikat aturan ruang dan waktu. Generasi milenial yang besar dan tumbuh ditengah-tengah hal tersebut kadang kehilangan “figuritas karakter baik” yang seharusnya dapat menjadi rujukan karakter. Namun! Hal sebaliknya juga bisa terjadi, media social yang semakin bebas untuk diakses oleh siapa saja, dengan sifat pengguna yang selalu update kegiatan sehari-harinya menjadikan para followers (netizen) mengikuti hal tersebut termasuk hal-hal negative atau bersifat unfaedah. 

Para puplik figur tersebut, dapat berasal dari orang yang memang sukses secara substansial baik karena harta yang dimiliki, ilmu yang telah dibagikan, kedermawanan yang telah diberikan ataupun hal-hal baik lainnya. Namun tak jarang para figuritas tersebut berasal dan muncul karena momen. Media social dapat menjadi cara ampuh untuk terkenal dan dikenal oleh banyak orang. Karena tanpa dapat dinafikan, selain menjanjikan efek social (terkenal) namun juga menjanjikan pundi-pundi uang yang akan menebalkan kantong. Contoh nyatanya adalah maraknya selebgram yang ramai followers karena pansos, para artis dadakan hasil prank-prank unfaedah yang kadang mengabaikan norma-norma agama dan social, ataupun para figuran belakang layar penggerak berita hoaks.

Para puplik figure, baik yang positif ataupun negatif, akan memberikan dampak besar bagi pembentukan karakter generasi milenial. Sesorang bisa menjadi bersemangat, dan tergerak untuk melakukan suatu hal “hanya karna postingan” seorang yang menjadi idolanya. Dimana kadang hal tersebut sampai pada level yang lebih tinggi, dimana pandangan, sifat, karakter dan idealisme figure yang diidolakan akan semaksimal mungkin untuk ditiru dan diaplikasikan dalam kehidupan si “follower” bersangkutan, terlepas dari figure tersebut adalah figure yang seharusnya memang ditiru ataupun sebalikmya harus ditinggalkan. 





No comments:

Post a Comment