Monday, May 11, 2020

Malam Ke-18: Tentang Sejarah Yang Berulang

0 comments

Oleh Dr. Afrianto Daud

--


Birulangitid-Pertanda bahwa kita masih hidup adalah tak kala mendapati sesuatu di sekitar kita terus mengalami perubahan. Waktu terus bergerak. Inti dari pergerakan waktu adalah perubahan. Tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri.

 

Berbagai kota yang sekarang ditempati manusia, misalnya, dulu bisa jadi adalah rimba belantara. Rimba yang dibuka awalnya oleh sekelompok manusia yang datang. Membuka lahan pertanian. Berladang sebagai mata pencarian. Ladang yang berubah menjadi perkampungan. Dari perkampungan yang becek dan lengang, seiring waktu makin ramai oleh manusia. Bangunannyapun makin banyak. Tak hanya rumah-rumah penduduk, belakangan dihiasi gedung-gedung pencakar langit. Belantara itu berubah menjadi kota metropolis.

 

Manusia terlahir sebagai bayi dengan kondisi fisik yang lemah. Seiring waktu dia berkembang menjadi seseorang. Menjadi anak-anak yang lincah. Menjadi remaja yang cantik dan ganteng. Bersemangat. Kemudian menjadi orang dewasa yang mapan. Bijaksana. Sampai kemudian waktu membawanya menjadi tua. Keriput. Dari sebelumnya imut-imut berubah menjadi ‘amit-amit’ Description: 😀

 

Waktu telah mengubah banyak hal, memang. Tapi, walau ada banyak yang berubah di sekitar kita, adakah yang benar-benar baru di bawah kolong langit? Adakah sesuatu yang kita lihat sekarang atau adakah peristiwa demi peristiwa yang sama sekali tak bisa direlate ke masa lalu?

 

Banyak orang berpendapat bahwa kehidupan ini, dalam batas tertentu, sesungguhnya hanyalah sejarah yang berulang. Kalaupun ada yang baru dan berbeda, perbedaan hanyalah pada dimensi waktu dan pelakunya saja. Maka hidup bisa dikatakan sebagai sejarah yang berulang dengan waktu dan pelaku yang berbeda.

 

Ada banyak sekali peristiwa yang kita lihat dan alami hari ini sesungguhnya sudah ada di masa lalu. Pandemi yang saat ini kita alami, misalnya, bukanlah kisah baru. Berabad yang lalu, manusia juga telah merasakan pengalaman pahit akibat wabah yang melanda dunia. Peristiwa yang mirip bahkan sudah terjadi sejak zaman kenabian. Adalah di zaman Rasulullah SAW, misalnya, ada wabah penyakit kusta atau lepra yang dapat menular dengan cepat dan juga menyebabkan kematian yang banyak.

 

Pada Abad ke-6, Ibnu Batutah menulis peristiwa yang mirip. Bahwa dia menemukan wabah yang kemudian dikenal dengan Black Death yang menyerang kota-kota besar dan kecil Islam, termasuk beberapa wilayah-wilayah pedalaman di Eropa dan Afrika Utara. Ada banyak kisah kematian di berbagi kota ini akibat wabah itu. Dan sekarang sejarah itu berulang.

 

Pun begitu kalau kita melihat peristiwa lain di abad ini. Ada perang yang tak henti di beberapa kawasan di dunia. Perang bukanlah kisah baru. Dia adalah sejarah yang berulang dari masa ke masa. Bisa jadi, perang akan tetap menjadi bagian kisah peradaban manusia di bumi sampai kiamat datang.

 

Jika hari ini kita menyaksikan ada pemimpin yang zalim. Sejarah juga penuh dengan kisah pemimpin yang zalim. Mulai dari kisah Namrud, Fir’aun, sampai Hitler. Jika ada yang baik dan berusaha untuk bertindak adil. Sejarah juga memberi kita kisah-kisah pemimpin yang adil. Sebutlah Khalifah Umar bin Abdul Aziz salah satu diantaranya.

 

Karena banyak kejadian yang bisa kita hubungkan ke masa lalu, sebagai ummat dari nabi terakhir kita sebenarnya diuntungkan. Karena bisa belajar dari sejarah. Kita bisa memilih mana yang terbaik untuk diri kita sendiri. Kita ingin menulis kisah kehidupan kita seperti siapa. Sudah ada semacam ‘templete’nya dalam sejarah itu.

 

Betul bahwa manusia unik dan punya kehidupan sendiri-sendiri. Tak mungkin sama dengan orang lain. Tapi, sekali lagi, berbagai kisah orang di masa lalu itu bisa kita jadikan pelajaran. Untuk kita ikuti.

 

‘Maambiak contoh ka nan sudah. Maambiak tuah ka nan manang’, begitu diantara filosofi hidup orang Minangkabau.

 

Jika engkau diberi kelebihan harta, misalnya, engkau mau dikenang sebagai Qarun yang lupa diri dan sombong kepada Allah, atau seperti Usman bin Affan, atau seperti Abdurrahman bin Auf yang tak lupa diri dengan kekayaannya. Yang bisa menempatkan hartanya hanya di telapak tangannya. Tak sampai masuk ke hatinya.

 

Jika engkau diberi kelebihan harta dan kuasa, misalnya. Engkau bisa memilih, apakah akan mengikuti sejarah nabi Sulaiman AS, yang tak hanya kaya dan berilmu, tetapi juga tawadhu dan merendahkan diri di hadapan Allah. Atau jusru memilih seperti Namrud yang sombong karena merasa lebih hebat dan lebih berkuasa. Kesombongan yang membuat dia terhina.

 

Jika engkau seorang miskin, misalnya, apakah akan menjadi seorang miskin yang tetap bersyukur sebagaimana kisah Abu Hurairah, sahabat miskin tapi sangat banyak meriwayatkan hadist, tetap bermanfaat. Atau menjadi orang miskin tapi sombong, seperti yang banyak kita saksikan di sekitar kita. Mereka yang kerjaannya gak jelas. Tinggal di gubuk derita. Tapi, bangga tak sholat. Bangga tak puasa. Bangga mabuk-mabukan.

 

Ada banyak lagi tentu pilihan-pilihan hidup kita. Intinya kita bisa memilih apakah akan menjadi orang dengan kisah kebaikan atau keburukan. Pilihannya hanya dua itu. Jika memilih menjadi orang baik, sejarah juga mengajarkan jalannya bisa jadi panjang dan berliku. Tapi, ujungngya indah. Ada surga Allah menanti. Sebaliknya, jika mau meniti jalan yang buruk. Mungkin terlihat mudah. Tak banyak tantangan. Tapi, muaranya neraka. Dari dulu sampai kiamat, pilihannya hanya dua itu.

 

Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan tentu memiliki konsekwensinya sendiri. Apa yang kita alami hari ini adalah akibat pilihan kita di masa lalu. Apa yang akan kita dapatkan nanti, adalah akibat pilihan kita hari ini.

The choice is now on you!

Demikian serial #semacamkultum malam ini.

 

No comments:

Post a Comment