Friday, May 15, 2020

Malam Ke-22: Kita Merindu Pemimpin, Bukan Penguasa

0 comments


 

https://www.birulangit.id/

Oleh Dr. Afrianto Daud

---

Birulangitid-Dalam suasana duka yang mendalam segera setelah Rasulullah SAW wafat, para sahabat berkumpul untuk memusyawarahkan siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan Rasulullah. Musyawarah menjadi penting karena tidak ada wasiat khusus dari Kanjeng Nabi tentang siapa yang akan menjadi pemimpin berikutnya. Akhirnya para sahabat berbai’at kepada Abu Bakar Shiddiq, RA. Beliau menjadi khalifah pertama di masa khullafaur roshidin.

 

Cuplikan siroh di atas mengajarkan kepada kita satu hal, yaitu tentang betapa pentingnya eksistensi kepemimpinan di dalam sistem bermasyarakat di dalam Islam. Kepemimpinan tidak boleh kosong. Tidak boleh terjadi ‘vacum of power’. Agar jelas siapa yang akan didengar kata-katanya. Siapa yang akan mengarahkan ummat. Siapa yang memegang komando.

 

Saking pentingnya kepemimpinan ini, bahkan ketika tiga orang muslim dalam sebuah perjalanan, Rasulullah SAW mengajarkan agar salah seorang diantara keduanya menjadi imam safar – pimpinan perjalanan. Jika dalam travelling saja Islam mengajarakan adanya kepemimpinan, apalagi ketika bicara sistem masyarakat dan sistem bernegara. Keberadaan pemimpin tentu jauh lebih penting lagi.

 

Selain bicara pentingnya kepemimpinan, Islam juga bicara cukup detail tentang kriteria dan atau karakteristik pemimipin yang ideal. Dalam kisah kepemimpinan Thalut yang diceritakan Allah dalam Q.S 2: 246-252 itu misalnya, Allah menyebut dua syarat penting: ilmu yang luas dan fisik yang kuat.

 

Jika memakai bahasa sekarang, pemimpin mestilah mereka yang memiliki kompetensi yang cukup, menguasai permasalahan rakyatnya dengan baik, sehingga dia bisa memberikan jalan keluar untuk setiap keluhan rakyatnya. Pemimpin mestilah seorang yang knowledgable. Memiliki visi tentang mau dibawa kemana rakyat dan bangsanya ke depan.

 

Sementara fisik yang kuat tentu juga sangat penting, karena pemimpin, suka atau tidak, adalah pekerjaan berat. Dia sudah harus bangun ketika rakyat masih tertidur. Tak jarang dia masih harus terbangun ketika rakyatnya siap-siap kembali tidur.

 

Dalam Islam, kepemimpinan adalah beban. Bukan kemuliaan. Hanya mereka yang kuat fisiknya yang sanggup menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan baik. Wajar kemudian jika diantara syarat administasi menjadi pemimpin itu adalah sehat jasmani dan rohani. Karena beratnya tugas-tugas itu.

 

Mentadabburi beberapa ayat di dalam surat Al-Fatihah, adalah menarik ketika Allah bicara tentang sifat kekuasaanya (maalikiyaumiddin) – sang penguasa hari kemudian (ayat 4), Allah terlebih dahulu bicara tentang sifat ‘rahman dan rahim’ pada ayat sebelumnya. Allah adalah zat yang maha pengasih dan maha penyayang. Kasihnya yang tak pilih kasih. Sayangnya yang tiada terbilang.

 

Dari sini kita belajar bahwa idealnya seorang pemimpin sebelum dia bicara tentang kuasa yang dia miliki, dia mestilah terlebih dahulu menjalankan fungsinya mengayomi rakyatnya. Memberi kasih sayang. Memberi mereka ketenangan. Memberi makan mereka yang lapar. Memberi harap mereka yang putus asa. Memberi pekerjaan mereka yang kena PHK. Melindungi segenap tumpah darah bangsanya sebagaimana amanat konstitusi.

 

Hanya dengan terlebih dahulu menjalankan tugasnya memberi dan mengasihani inilah, seorang pemimpin layak dan berhak bicara tentang kuasa. Termasuk ketika berharap rakyat mematuhinya.

 

Bahkan jika pemimpin benar-benar telah menjalankan fungsi ‘kasih sayangnya’, kepatuhan itu akan datang dengan sendirinya. Tanpa diminta. Kepatuhan adalah konsekewensi logis dari kepercayaan rakyat pada pemimpin yang benar-benar melindungi mereka. Oleh karena itu, pemimpin haruslah memantaskan diri terlebih dahulu untuk bisa dipatuhi.

 

Fungsi melindungi, mengasih dan menyayangi inilah yang telah dicontohkan dengan sempurna oleh Rasulullah SAW semasa hidup beliau. Ada banyak sekali kisah bagaimana beliau menjalankan fungsi-fungsi ini dengan sangat baik. Bagaimana ummatnya menjadi baik selalu menjadi pikiran beliau, bahkan sampai pada detik-detik beliau meninggal itu.

 

Kata-kata ‘ummati, ummati’ yang beliau sebut saat ajal menjemput itu adalah bukti sejarah bahwa tak ada yang lebih penting dalam hidup beliau, kecuali bagaimana keselamatan ummatnya. Beliau bahkan tak menyebut anak dan keluarga beliau pada kalimat-kalimat terakhir beliau itu. Shallu ‘ala rasulillah!

 

Bagaimana dengan kualitas kepemimpinan sahabat setelah Rasulullah SAW wafat? Para khullafaur rosyidin juga mengajarkan kita kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Salah satunya bisa kita lihat dari pilihan kalimat Abu Bakar Shiddiq dalam ‘pidato politik’ segera setelah beliau dipilih berikut:

 

‘Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantaramu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah (ikutlah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah!’

 

Abu Bakar meminta kritikan jika dia keliru. Bukan justru menangkap dan membui mereka yang berusaha meluruskan.

 

Sungguh sangat banyak lagi kisah-kisah pelajaran tentang kepemimpinan ini dalam Islam yang bisa kita pelajari. Termasuk bagamana khalifah Umar Bin Khattab yang sangat khawatir jika ada ummatnya yang sakit dan kelaparan karena ketidakbecusan dia memimpin.

 

Kita merindu para pemimpin yang benar-benar menjadi pemimpin bagi ummatnya. Bukan hanya sekedar menjadi penguasa.

 

Adalah penting kepada para semua pemimpin kita saat ini kembali mengaca pada banyak kisah ini. Pada saat yang sama juga penting bagi kita semua untuk bersiap menjadi pemimpin yang baik.

Jangan lupa bahwa bicara pemimpin tidak hanya tentang mereka dengan otoritas kekuasaan yang luas, seperti pejabat publik itu, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Seperti kata Rasulullah SAW bahwa semua kita hakekatnya adalah pemimpin, dan setiap kepemimpinan akan bertanggungjawab dengan apa yang dipimpinnya.

 

Pertanggungjawaban itu bisa langsung sekarang di dunia. Apalagi nanti di akherat.

--

Demikian serial #semacamkultum malam ini.

 

No comments:

Post a Comment