Wednesday, May 20, 2020

Malam Ke-26: Syukur, Kaji Lama Yang Tak Pernah Usang

0 comments

https://www.birulangit.id/?m=1


Oleh Dr Afrianto Daud

---
Birulangitid-Salah satu cara menikmati hidup adalah dengan senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sekecil apapun kenikmatan itu. Dia tentu terus pantas disyukuri. Bahkan di tengah kesulitan hidup sekalipun, tetap jauh lebih banyak nikmat Allah yang pantas kita syukuri. 

Betul bahwa saat ini kita sedang hidup di masa pandemi, misalnya. Tapi, kita bersyukur Allah masi beri kita kesempatan menghirup udaranya secara gratis. Kita masih bisa menyaksikan terbitnya matahari di pagi hari. Menyaksikan keindahan sunset di sore hari. Kita bersyukur masih bisa menikmati indahnya ciptaan Allah, berupa langitnya yang biru. Sungai-sungai yang jernih. Sawah ladang yang menghijau. Dan banyak lagi yang lain. Tak kan pernah bisa kita hitung.

Sikap penuh syukur ini kemudian yang akan menjadi awal ketenangan jiwa pada diri manusia. Kesyukuran akan memproduksi enzim Endorfin pada diri seseorang. Ini adalah enzim yang mempengaruhi kebahagian seseorang. Dengan demikian rasa syukurlah sesungguhnya yang membuat kita bahagia. Bukan sebaliknya, bahagia yang membuat kita bersyukur.

Mereka yang memiliki mentalitas syukur biasanya tidak hanya pandai berterimakasih kepada Tuhan atas begitu banyak nikmat yang tak terhitung, tetapi juga akan selalu berusaha melihat sisi baik dari sebuah peristiwa. Sepahit apapun peristiwa itu secara kasat mata. Dia pandai melihat hikmah di balik musibah. Mengambil ibrah/pelajaran dari kejadian buruk. Baginya tak ada yang sia-sia. Allah selalu baik. Dulu, sekarang dan yang akan datang.

Tentang syukur ini sebenarnya juga bukanlah hal yang baru untuk dibahas. Dia sudah sangat sering didengar, dibaca, dan bahkan diceramahkan dari mimbar ke mimbar. Tapi, dia masih tetap perlu diulang. Syukur adalah kaji lama yang tak pernah usang.

Selain karena sifat dasar manusia memang mudah lupa, juga karena kitab suci meberikan warning. Bahwa dari sekian milyar manusia yang hidup di bumi, hanya sedikit saja mereka yang pandai bersyukur (lihat Q.S 7:10 dan 67:23, misalnya).

Dengan demikian, walau terdengar sederhana, bersyukur bukanlah perkara mudah. Banyak yang lupa, atau malah tak pandai bersyukur. Ujung-ujungnya kufur nikmat. Kalau sudah sampai di sini, kita khawatir dengan peringatan Allah pada ayat yang lain, bahwa mereka yang tak pandai bersyukur, Allah ancam dengan azab yang pedih (Q.S 14:7).

Jika kita baca beberapa rumusan Allah tentang syukur ini, seharusnya semua manusia berlomba-lomba menjadi hambanya yang bersyukur. Karena syukur itu sama sekali bukanlah untuk Tuhan. Allah akan tetap menjadi zat yang Maha Kaya, walaupun tak ada yang bersyukur kepada-Nya. Syukur itu justru untuk kepentingan dan kebaikan manusia itu sendiri.

Rumus pertama, syukur adalah syarat bertambahnya nikmat. Semua manusia secara instinktif tentu berharap bertambah nikmat kepadanya. Kita berharap bertambah sehat. Bertambah rezeki. Bertambar maju karir. Bertambah banyak relasi. Bertumbuh pengaruh. Dan sebagainya. Caranya sederhana. Kamu bersyukur, maka akan aku tambah nikmatku. Demikian janji Allah SWT dalam kitab suci. Allah tak pernah mengingkari janji-Nya.

Rumus kedua, syukur itu akan kembali kepada manusia itu sendiri. Dalam ayat lain, Allah mengatakan bahwa ‘Barang siapa yang bersyukur kepadaku, sesungguhnya dia berterimakasih untuk dirinya sendiri’ (Q.S 31:12). Seperti disampaikan sebelumnya, bahwa hasil dan akibat dari syukur atau tidak itu justru berbalik kepada manusia itu sendiri. Bukan untuk orang lain.

Bagaimana kemudian kita bisa menjadi hamba yang bersyukur? Para ulama menjelaskan ada tiga rukun syukur. Syukur yang sempurna mestilah memenuhi ketiga kondisi ini. 

Pertama, bersyukur secara lisan. Biasanya dengan mengucapkan pujian kepada Allah – Alhamdulillah. Kita memuji Allah atas segala nikmat yang kita terima. Kita memuji Allah atas nikmat hidup yang kita jalani. Kita memuji Allah atas nikmat harta yang Dia berikan. Kita memuji Allah atas nikmat setiap capaian kita dalam hidup. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Kedua, bersyukur dengan hati. Inti dari bersyukur dengan hati ini adalah meyakini sedalam-dalamnya bahwa apapun yang kita peroleh adalah datang dari Allah, atas karunia Allah kepada kita. Bukan karena yang lain. Termasuk bukan karena kehebatan usaha kita, misalnya. 

Setiap capaian kita dalam hidup mesti diyakini itu karena karunia Allah. Kita tentu wajib berusaha semaksimal yang kita bisa. Namun, hampir setiap orang berusaha yang sama. Ada yang sukses ada yang tidak. Jadi, keberhasilan seseorang tak bisa hanya dipandang dari sisi usahanya sebagai manusia. Dia memperoleh sesuatu bisa jadi karena Allah lebih meredhoinya. Di sinilah, kita wajib bersyukur dengan keyakinan seperti tadi.

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan. Intinya adalah bahwa seorang hamba menggunakan segala nikmat yang dia punya sebagai jalan amal untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Beramal sebanyak-banyaknya. Seikhlas-ikhlasnya. Sebaik-baiknya. Nikmat yang dia terima kemudian berbuah menjadi amal soleh.

Ini adalah puncak kesyukuran. Bersyukur dengan lisan mungkin mudah. Apa susahya mengucapkan ‘Alhamdulillah’ seratus kali sehari, misalnya. Bahkwan burung beopun bisa dilatih mengucapkan kalimat syukur ini. Kalima itu tentu menjadi hampa makna jika tidak diikuti oleh rukun kedua dan ketiga ini.

Pada titik ini kemudian kita perlu berhenti sejenak. Bertanya pada diri sendiri. Sudah seberapa jauh kita mentransformasikan semangat syukur ini ke dalam amal-amal soleh yang membawa manfa’at? Tak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Kita memulai hidup dari seorang papa, tak punya apa-apa. Kemudian Allah karuniai kita harta. Mungkin tak sebanyak orang lain. Tapi, setidaknya kita jadi lebih kaya dibanding masa-masa awal hidup kita. Apakah harta itu telah kita syukuri sedemikian rupa, sehingga menjadi jalan kita untuk beramal soleh lebih banyak, atau justru sebaliknya melupakan kita, melenakan kita dengan aksesori dunia?

Kita memulai hidup kita dari seorang yang bodoh, tak tahu apa-apa. Kemudian Allah karuniakan kita ilmu. Walau tak sebanyak orang lain. Tapi, setidaknya kita sudah tak sebodoh di awal jalan hidup kita. Apakah ilmu yang kita miliki sudah kita syukuri sedemikian rupa, sehingga menjadi wasilah untuk kebermanfa’atan bagi banyak orang, atau justru sebaliknya, menjadi alasan kita untuk sombong, merasa lebih hebat dari orang lain?

Kita memulai hidup kita sebagai jomblo, sendirian. Kemudian Allah pertemukan kita dengan pasangan hidup. Mungkin pasangan kita tak seganteng Yusuf atau tak secantik Zulaikha. Tapi, apakah kita sudah mensyukuri pasangan hidup kita, yang salah satunya terlihat dari dampak keberadaan kita pada keluarga, tetangga dan masyarakat kita. Apakah dengan pasangan hidup itu kita semakin dekat dengan Allah SWT?

Tentu akan sangat panjang daftar yang bisa kita buat dalam merefleksi kualitas syukur kita atas begitu banyak nikmat Allah itu. Kita tak boleh bosan untuk bersyukur ini, karena pada saat yang sama Allah juga tak pernah berhenti mencurahkan berbagai karunianya kepada kita.

Semoga kita semua menjadi mereka yang sedikit itu – mereka yang pandai bersyukur. Bersyukurlah, maka engkau pasti bahagia. Kita bersyukur, Allah pasti tambah nikmat itu. Sesederhana itu rumusnya.

Wallahu a’lam.

--
Demikian seriral #semacamkultum malam ini.

No comments:

Post a Comment