Harga TBS Sawit di Provinsi Riau Periode 30 September - 06 Oktober 2020 Mengalami Penurunan

https://www.birulangit.id/

Birulangitid-Harga TBS kelapa sawit di Provinsi Riau pada periode 30 September - 06 Oktober 2020 mengalami penurunan pada setiap kelompok umur kelapa sawit dengan jumlah penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 10 - 20 tahun sebesar Rp50,01 per Kg atau mencapai 2.43 persen dari harga minggu lalu.


Sebagaiman dikutip dari mediacenter.riau.go.id "Sehingga harga pembelian TBS petani untuk periode satu minggu kedepan naik menjadi Rp2.048,4 per Kg," kata Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran, Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau, Defris Hatmaja di Pekanbaru, Selasa (29/9/2020).

Ia menjelaskan, bahwa turunnya harga TBS periode ini dengan persentase yang sedikit disebabkan oleh terjadinya kenaikan dan penurunan harga jual CPO dan kernel dari beberapa perusahaan yang menjadi sumber data.

Yang mana, untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami penurunan harga sebesar Rp284,80 per kg, Sinar Mas Group mengalami penurunan harga sebesar Rp68,00 per Kg, PT Astra Agro mengalami kenaikan harga sebesar Rp420,00 per kg, PT Asian Agri Group mengalami kenaikan harga sebesar Rp391.07 per Kg dari harga minggu lalu, PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan harga sebesar Rp399.80 per Kg dari harga minggu lalu. Sedangkan untuk harga jual kernel, PT Astra Agro mengalami penurunan harga sebesar Rp126,36 per Kg, PT Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp18,00 per Kg dari harga minggu lalu dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan harga sebesar Rp49,23 per Kg dari minggu lalu.

Sementara dari faktor eksternal, penurunan harga TBS minggu ini karena harga CPO untuk kontrak pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatif menguat 0,8 persen ke RM 2.780 per ton. Namun dalam sepekan harga CPO telah anjlok 9,7 persen dari level tertingginya pekan lalu. "Dalam sepekan terakhir ada beberapa sentimen negatif yang membuat harga komoditas unggulan RI dan Negeri Jiran ini menukik tajam. Pertama adalah harga minyak nabati global yang terus melorot. Kedua adalah kondisi perpolitikan Malaysia yang sedang diwarnai dengan kisruh," ujarnya.