Wednesday, June 20, 2012

Enjoy Life VII (Aku dan LDK 3)


Kebahagiaanku, merah hidupku kini luluh seketika terciduk penat yang memenuhi kepalaku. Kini aku terperangkap dalam kerangka kelabu yang tak kunjung disinggahi tarian kuas aurora. Cobaan pelik menyergapku tiap hari, tak selaksa pun cahaya berani mengeloki hidupku kembali.
Kegalauan ini bermula dari  kehamilan tiba-tiba Ibuku pada usianya yang sudah menapaki tahun keenam dari kepala limanya. Sederhananya, ia terlalu tua untuk hamil. Namun, bukan takdir namanya kalau aku bisa menghentikannya parkir dalam hidup keluarga kami.
Siang itu aku mengantar Ibuku ke Rumah Sakit. Sampai saat Ibuku dibawa ke ruang pemeriksaan pun, tak sedikit pun yang berubah dari perasaanku. Aku memang selalu cuek dengan semua masalah, bahkan saat itu pun aku sebenarnya sangat terpaksa mengantar Ibuku ke Rumah sakit.
Namun, kemudian aku terperanjat ketika ku dengar laporan kesehatan Ibuku dari Dokter yang memeriksanya. Entah apa yang membuatku marah, emosiku membuncah seketika, saat Sang Dokter mendekatiku seraya menepuk bahuku dan berkata “ Selamat ya dek, kamu akan jadi seorang kakak tapi karena umur Ibu kamu sudah tak lazim untuk hamil jadi jagalah Ibumu dengan baik”. Sejenak kemudian aku mematung dan kemudian mendorong kursiku ke belakang dengan betisku. Aku menghambur ke luar ruangan tanpa mempedulikan dokter yang kebingungan melihat tingkahku. Bahkan, aku pun tak memperdulikan Ibuku yang sejak tadi tertunduk menahan suatu perasaan yang tak bisa ku tebak apa itu.
Betapa tidak,baru kemarin  Ayahku  tertangkap tangan melakukan korupsi dan kini ada masalah baru pula yang akan membebani keluarga kami. Ada monster kecil yang akan hadir dan menggerogoti kami melalui biaya hidupnya yang tak sedikit.
Selama ini aku yang sering membuat Orang Tuaku geram dengan perilaku barbarku, dengan Harajuku Style kesukaanku.  Namun, kali ini giliran orang tuaku yang membebani fikiranku dengan korupsi dan hamil tak terduga.
Hari-hari berikutnya menjadi begitu sulit. Diawali dengan penyitaan rumah kami, pembekuan seluruh deposit ayahku dan pemindah tanganan seluruh aset keluarga kami. Kehamilan Ibuku pun membuat semakin sulit bukan hanya bagi Ibuku tetapi juga bagiku. Aku ragu untuk melanjutkan kuliahku dalam kondisi yang carut marut seperti ini.
Sejak itu aku layaknya orang yang sedang bermimpi, aku bermimpi  tidak bisa bermimpi lagi. Hari-hari selanjutnya, aku pun tak pernah lagi menampakkan diri di kampus. Semua barang-barang berhargaku sampai baju-baju ku pun, telah habis ku jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku malu, terutama pada teman-teman ngumpulku. Tak pernah lagi kutengokkan wajahku ke arah klub malam tempat kami biasa bertengger. Bahkan untuk meliriknya saja aku sudah tak sanggup lagi.
Suatu sore yang lengang, aku sedang duduk di bangku taman dekat rumah lamaku. Kucoba merasakan desiran angin yang lembut membelai rambutku. Kurasakan semerbak udara yang menyelimuti ruang kalbuku. Sejenak kemudian aku mulai merentang-rentangkan tanganku sambil memijiti pundakku yang begitu pegal berjualan baju bekasku seharian. Sesaat itu kurasakan sedikit lelahku gugur bersama penat  beriringan.
Tak lama kemudian, sekujur tubuhku terasa lemas, betisku bergetar, kepalaku pusing tak karuan. Aku tak tau apa yang terjadi pada tubuhku sekali ini. Karena, aku belum pernah merasakan yang seperti ini. Sesaat kemudian kulongsorkan tubuhku memanjang di kursi taman. Tanganku pun seperti tak punya tenaga tuk menggenggam.
Tiba-tiba melalui mataku yang berkunang, terlihat seorang wanita berjilbab panjang menyodorkan sepotong roti padaku. Seketika aku bangkit dan terperangah, aku memelototi wajahnya yang pucat pasi. “Sakit yang kamu rasakan itu namanya lapar, kamu tentu belum pernah mengelaminya sebelum ini kan?”. Dahiku berkerenyit mendengar ucapannya, bibirnya pucat seperti orang yang kedinginan padahal jilbabnya begitu panjang menutup tubuhnya, tapi senyumnya begitu lembut dan meyakinkan. “ Makanlah, maka kemudian kamu akan merasa lebih baik”. Perlahan kulonggarkan sedikit jari-jemariku untuk kemudian menerima sodoran roti darinya.
Perlahan kugigit roti itu dan kukunyah dengan hati-hati. Roti itu pun kini memenuhi tenggorokanku, berlalu pelan menuju lambungku yang telah kelewat asam, dan kurasakan sakit yang kualami tadi telah sedikit reda. Namun, aku belum puas dengan satu gigitan roti kemudian ku lanjutkan gigitan selanjutnya dan sampai pada gigitan terakhir pun aku belum juga merasa puas. Namun, sesaat kemdian aku berdiri mematung sebab aku telah kehilangan jejak Si Pemberi roti yang sedari tadi duduk di sampingku. “ Lho? Kemana perginya wanita itu? Padahal aku belum mengucapkan Terima Kasih padanya”.  Kini hanya tinggal angin sepi yang terasa semilir menyapu guguran dedaunan, seketika hawa dingin menyerebak di sekelilingku.
Tak hentinya kupersalahkan seluruh nasib pelik dan kemalangan yang terjadi di keluargaku ini kepada Orang tuaku. Meski Ibuku semakin terseret dalam posisi yang sulit,  kekurangan asupan gizi dan sakit-sakitan, namun hatiku tak luluh olehnya. Ayahku pun terlihat semakin kurus dan tak terurus, keadaannya menyedihkan tapi aku tak tergoyahkan. Setiap peristiwa pelik yang terjadi harus ada yang dipersalahkan, dan dalam hal ini tidak mungkin aku.
Selang delapan bulan demikian, Ibuku melahirkan. Tak seperti biasanya hari itu perasaanku khawatir, bukan pada Ibu dan Adikku tapi hanya pada Ibuku, dan tak sedikit pun untuk monster kecil itu. Seorang anak laki-laki bernama Fikry, berperawakan kecil dan berparas aneh pun kemudian lahir dari rahim yang sama denganku, tubuhnya begitu mungil padahal sebenarnya tak prematurh. “Mungkin karena kekurangan gizi”, batinku.
Bertahun telah berlalu kini aku, dan kehidupanku telah berubah 180o. Aku telah berpindah profesi dari seorang yang barbar menjadi seseorang yang sederhana. Tiap hari aku duduk menghadap meja dan penggorengan di los kontrakanku yang sumpek dan bau apek. Aku kini menjadi seorang pedagang kerupuk pasir. Sementara ibuku sendiri sibuk mengurus anaknya yang tumbuh lambat. Buih-buih nestapa tak hentinya meletup di kehidupan kami yang semakin morat-marit. Bukannya menjauh, buih-buih nestapa itu kini menjadi penuh di kehidupan kami, menyisakan pedih yang membuat sembab ujung mataku tiap kali kusesali hidupku ini.
Namun, bersama dengan itu aku kini telah memiliki teman baru, seseorang yang sering memberiku sepotong roti yang sama dengan roti yang ia berikan padaku dulu. Perempuan pucat aneh berjilbab panjang yang selalu menemaniku setiap saat sulit hidupku. Dia mengajariku tentang menerima cobaan hidup dengan lapang, menerima kenyataan hidupku yang dipenuhi nelangsa kesedihan, bahkan mengajariku untuk menyayangi adikku yang ternyata autis.
Dia juga yang telah membawaku ke salah satu mesjid di dekat kontrakanku. Di sanalah aku diperkenalkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam organisasi yang menurutku aneh. LDK Gamais, begitulah sebutan organisasi itu. Kukatakan aneh karena sejak awal aku melihat hal yang tak pernah ku temui sebelumnya. Misalnya pada saat rapat mereka menggunakan tirai tebal untuk menjadi penutup atau hijab menurut sebutan mereka, sangat aneh bagiku untuk mendengarkan perkataan orang yang sama sekali tak dapat kulihat wajahnya. Seperti sedang mendengarkan cincongan radio.
            Kehidupanku kini pun telah banyak berubah. Aku telah mendapatkan pekerjaan sebagai kasir di butik muslimah milik temanku dari LDK Gamais. Aku kini lebih sering menemui ayahku di penjara, merawat Ibuku saat ia sakit dan kini pun aku mulai dapat menerima kehadiran adikku. Sederhananya, aku mulai sayang padanya.
            Meskipun tiap hari dan tiap saat aku selalu dibuat kesal olehnya tapi aku yakin kini keras hatiku telah melembut dan telah luluh olehnya. Adikku yang dulu ku anggap monster kini telah berubah menjadi adik yang telah berhasil melunakkan kukuhnya dendam dalam dadaku. Menggugurkan kebencian yang telah mengakar jauh dalam setiap inci di sudut hidupku. Kini aku mulai mengajarinya menulis dan membaca dan ternyata ia begitu mudah faham dan cerdas. Meskipun aku selalu berkata-kata kasar padanya tapi ia tetap menatapku dengan tatapan teduh yang jenaka dari wajahnya yang unik.
            Bahkan dulu aku pernah meneriakinya aneh, gila, bodoh, pun aku pernah mengatakan padanya bahwa impian terbesar dalam hidupku adalah melihatnya mati di hadapanku. Agar aku bisa melihat dengan jelas bahwa monster pengganggu dalam hidupku telah pergi untuk selamanya.
            Siang itu saat aku baru pulang dari tempat kerjaku untuk istirahat sholat dan makan. Ku lihat lap kaki yang biasanya bertuliskan Welcome berubah menjadi ‘Hepy Birday’. “ Hehehe ini pasti ulah Fikry, padahal hari ini aku nggak ulang tahun ckck mana tulisannya salah lagi hehe”. Lalu aku berlari kecil ke kamarnya untuk sedikit memberinya kejutan, tapi ia tak berada di sana. Kini aku melangkahkan kakiku menuju kamarku. Kemudian, kutemukan lagi secarik kertas yang bertuliskan ‘Selamat kak’ . Selanjutnya kutemukan lagi di meja makan kami secarik kertas yang bertuliskan ‘Semoga bahagia kak’. Kemudian di depan kamarku tertera jelas di atas carik kertas yang disambung menjadi panjang bertuliskan. “Semoga kakak bahagia hidupnya kalo fikri tidak di sini lagi, fikri cuma bisa kasi impian terbesar kakak ini karena fikri tidakk punya lain lagi selain diriku sendiri”.
            Secepat kilat kubuka tirai kamarku yang agak tebal dan panjang menjulur sehingga aku agak kesulitan untuk menyampirkannya. Namun, ketika kuliahat apa yang terjadi di dalam, lidahku tercekat, tubuhku dingin dan aku tak dapat bergerak melihat pandangan mengerikan di hadapanku.
            Adikku, senyumnya yang jenaka,sosok lugu yang dulu begitu kubenci telah menggantung dirinya (bunuh diri) demi mewujudkan impianku yang dulu tak sengaja kukatakan karena emosi yang begitu meluap-luap dalam hatiku. Aku tersungkur seketika setelah menikmati panggung jenaka yang kini telah sirna. Adikku yang dulu begitu kubenci, bahkan dipenghujung umurnya ia berniat untuk membahagiakanku, meski dengan cara yang salah.
            Padahal seminggu lagi ayahku akan bebas dari penjara. Tapi kini kepiluan kembali merundung hidupku. “Ya Allah ampuni aku, semua ini karena kata kasarku padanya”.  Ia begitu kecil dan terlalu muda untuk mengerti yang sebenarnya.
            Kini, saat kalut dan duka memayungi hidupku kembali. Hanya Allah tumpuanku. Aku tak mampu melihat mata Ibuku yang begitu sedih karena hal ini. Aku tak kuasa melihat Ayahku kehilangan semangatnya karena Fikry telah tiada. Tapi aku lebih tidak sanggup lagi menghadapi ini karena akulah yang menyebabkan adikku berinisiatif untuk bunuh diri sebagai hadiah ulang tahunku.
            Kini aku tinggal di rumah temanku si pemberi roti yang ternyata adalah seorang murobbiyah di LDK Gamais. Jiwaku yang tadinya kusut kini termanja oleh terpaan taqwa dari teman-temanku di LDK Gamais. Mereka mengajariku bersabar, mereka mengajariku tajwid setelah lama sebelum ini mereka telah berhasil membuatku kecanduan sholat dan mengaji.  Berada di organisasi ini membuatku mengerti akan esensi hidup yang tak hanya sulit namun begitu pelik jika tersentuh angin cobaan dari Sang Maha Pencipta.
            Kini, kutangguhkan pundakku tegak untuk menerima selapang-lapangnya cobaan yang ingin mengguyur kebahagiaanku yang sesaat. Kini aku yakin setiap jengkal dalam hidupku kini akan dibanjiri Rahmat yang mengalir sejak aku berkumpul bersama teman-temanku di LDK Gamais. Mereka menuntun menuju kebaikan, mereka menempatkan diri tak hanya sebagai teman tetapi juga sebagai keluarga, saudara, dan guru yang setia.
            Sejak itu,kehidupanku lebih berwarna. Andai kelabu kembali menyerebak di sekelilingku maka kukatakan ku hadapi cobaan karena Allah. Jika aku kembali dijatuhkan dalam lembah ujian, harta dan keluargaku kembali diambil maka kukatakan iman di hatiku tetap tumbuh karena Allah. Berawal dari LDK,aku dan Si Pemberi Roti.

Biodhata Penulis

Nama Lengkap   : Diah Mahastika
Nama Panggilan : Tika
Pekerjaan            : Mahasiswa
Angkatan           : 2011
Jurusan               : Farmasi
Alamat FB         : ntieck.1315@yahoo.co.id
                                    Diah Mahastiaka
Twitter               : @diahmahastika1
Blog                   : www.imajinasitika.blogspot.com
Amanah              : Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baik penciptaan-Nya, segala rahmat (bakat) yang ia ciptakan bersama dengan kita adalah rahmat yang tak boleh kita sia-siakan. Tunjukkan rahmat tersebut sekali lagi karena Allah. Agar terpeliharalah kita dalam rahmat yang murni karena-Nya.



No comments:

Post a Comment