Enjoy Life VII ( Aku dan LDK 18) - Lifestyle, Passion and Habit

Latest

Menampilkan Lifestle Passion and Habit Penulis

Sunday, July 29, 2012

Enjoy Life VII ( Aku dan LDK 18)


Juni 2007,
            Tidak seperti teman-teman yang lain, hampir semua sibuk mondar-mandir mempersiapkan diri untuk mengikuti SNMPTN. Mulai dari ikut les, cari referensi ke alumni, hingga mencari link dari dalam agar bisa diterima masuk PTN favorit masing-masing. Keadaan tersebut sangatlah bertolak belakang dengan kondisiku yang sangat santai seakan tiada beban sama sekali, atau bahkan mungkin terlihat di mata teman-teman ku kalo aku ini ga’ ada niat sama sekali untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Memang sih pada saat itu, dalam hati sudah ku putuskan kalo aku hanya akan ikut tes USM STAN, STIES, atau PTN lain yang biaya kuliahnya Gratis, timpat tinggal gratis, pokoknya semua serba gratis deh...,he he.
            Oleh karena itu setelah aku dinyatakan lulus dengan nilai ujian nasional rata-rata 8,7 di setiap mata pelajaran yang diujikan, aku langsung berangkat ke Malang untuk mengikuti bimbingan belajar di salah satu lembaga yang memang khusus didirikan untuk menyediakan pelayanan dalam bentuk pembelajaran kepada lulusan SMA yang ingin mengikuti tes ujian saringan masuk STAN. Kurang lebih selama satu bulan aku mengikuti bimbingan tersebut, dengan harapan besar agar aku bisa diterima di STAN. Namun kenyataan berkata lain, setelah satu bulan menunggu tibalah waktunya pengumuman dan ternyata namaku tidak termasuk dalam peserta tes yang lulus. Sedih rasanya, bahkan aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, aku mencoba menenangkan diriku sendiri sembari ber-husnudzon mungkin ada kesalahan sistem, panitia kurang teliti, atau hal-hal lain yang memungkinkan namaku tidak terdeteksi komputer sehingga aku tidak termasuk dalam daftar peserta yang lulus. Di hari berikutnya aku mencoba membuka lagi website STAN, tapi sekali lagi realita berkata bahwa aku benar-benar tidak lulus. Sungguh ini sangat membuat aku terpukul sekaligus merasa bersalah karena aku sudah mengecewakan kedua orang tua ku. Mereka susah payah membiayaiku, dan mereka pun menaruh harapan besar di pundakku bahwa aku bisa. Tapi sekali lagi Allah tidak mengizinkan aku…!!!
            Pasca pupusnya harapanku masuk STAN, hidupku pun mulai tidak beraturan. Nongkrong, ngopi, dan begadang sampe’ malam menjadi kebiasaanku setiap hari. Namun Alhamdulillah pada waktu itu sholat, ngaji, serta aktivitas rohani yang lain masih tetap terjaga. Sehingga pergaulanku pun masih pada batas kewajaran.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa melupakan kegagalanku untuk menjadi mahasiswa STAN. Dalam hati aku yakin bahwa Allah pasti punya rencana lain yang jauh lebih baik dari keinginanku. Akhirnya tepat di bulan November 2007, aku memutuskan untuk hijrah ke Jakarta mencari kerja sekaligus menambah wawasan dan pengalaman. Dengan dibantu teman saudara perempuanku yang kebetulan kerja di salah satu pabrik konveksi di Cilincing Jakarta Utara, aku mulai mempersiapkan segala persyaratan administrasi yang dibutuhkan oleh seorang pelamar kerja. Sungguh mengherankan, ternyata untuk melamar kerja saja mereka para pencari kerja harus membuat surat keterangan pengalaman kerja palsu. Karena memang kebanyakan dari mereka belum berpengalaman, dan lebih dari 80% mereka adalah pendatang dari desa yang mengharapkan percikan surga Jakarta. Awalnya aku menolak untuk melakukan hal yang sama dengan mereka, namun karena teman saudaraku itu memaksa akhirnya aku bersedia membuat surat keterangan pengalaman kerja palsu.
Setelah semua administrasi lengkap, satu persatu perusahaan yang ada di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Cakung-Cilincing mulai ku datangi, dan waktu itu aku tidak sendiri, bersamaku ada ratusan pelamar lain yang mengantri untuk memasukkan surat lamaran mereka. Setelah hampir dua minggu berkeliling untuk mencari lowongan kerja dan hasilnya nihil, akhirnya aku dikenalkan oleh teman kakakku ke sejumlah orang internal perusahaan, dan dari mereka aku disarankan untuk melamar pekerjaan ke beberapa kota selain Jakarta di mana peluang diterimanya lebih besar dari pada di KBN.
Mulai dari Cikarang, Cengkareng, Bekasi, hingga Tanggerang sudah kucoba untuk ku datangi, namun lagi-lagi hasilnya tetap nihil. Kemudian aku kembali dikenalkan oleh teman kakakku kepada seseorang yang bekerja sebagai supervisor di salah satu perusahaan konveksi yang ada di Sukabumi, dan esok paginya aku pun langsung di ajak oleh orang tersebut pergi ke Sukabumi untuk melihat perusahaan konveksi di sana. Selama di Sukabumi aku diajak tinggal dengan buruh-buruh lain yang bekerja di sana yang memang rata-rata dari mereka bukanlah orang sana. Ada orang Depok, Cibadak, hingga orang Bojonegoro yang merantau mengais nafkah di kota Moci tersebut.
Selama kurang lebih satu minggu aku hidup di Sukabumi sambil mendatangi satu persatu perusahaan yang ada di sana. Namun sebelum mendapatkan jawaban dari perusahaan yang aku lamar, aku mendapat kabar buruk dari desa. Lewat telepon seluler, bibiku mengabarkan bahwa Bapak mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit. Dari kecelakaan tersebut, beliau divonis patah tulang punggung dan dikhawatirkan tidak dapat lagi bekerja, bahkan bangun dari tempat tidur. Mendapat kabar tersebut, aku mencoba tabah dan menenangkan diriku sendiri, sekali lagi aku yakin ini adalah ujian dari Allah yang kuasa akan hidup dan matiku. Esok harinya aku berpamitan kepada teman-teman buruh yang stu kontrakan denganku, sembari menjelaskan kenapa aku memutuskan untuk pulang. Memang ini semua mungkin merupakan bagian kecil dari kisah hidup yang harus aku jalani.
Setelah tiba di rumah, air mata ku hampir menetes melihat kondisi bapakku yang terbaring tanpa daya di kasur. Perban putih panjang hampir menutupi sekujur tubuh beliau. Hal itulah yang membuatku untuk memutuskan tidak akan kembali ke Jakarta dan tetap di rumah menggantikan peran beliau sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah bagi keluarga.  
            Bapakku sehari-hari berprofesi sebagai pedagang gerabah dan tukang ojek, dari dua mata pencaharian inilah aku dibesarkan dan disekolahkan. Oleh karena itu, setelah Bapak mendapatkan kecelakaan aku memutuskan untuk menggantikan peran beliau di mata pencaharian tersebut, yakni sebagai pedagang gerabah sekaligus tukang ojek. Setiap pukul 01.30 pagi aku mengantarkan Ibuku untuk berjualan ikan panggang di pasar yang jaraknya kurang lebih 30 KM dari rumah, dan kemudian ba’da subuh aku mengantarkan pelanggan bapak untuk berjualan ikan Pindang ke pasar-pasar di desa sekitar hingga pukul 10.00 pagi, setelah itu pukul 12.30, ba’da dhuhur aku berjualan gerabah hingga paling lama pukul 20.00, begitulah setiap hari aktivitasku dan sedikitpun tidak ada rasa keterpaksaan dalam diriku untuk menjalani aktivitas tersebut. Setelah beraktivitas untuk mendapatkan materi dalam bentuk uang, aku menyempatkan belajar materi serta soal-soal SNMPTN, karena memang aku sangat ingin kuliah bagaimanapun caranya asal Allah Ridlo.
            Disamping bekerja sebagai pedagang Gerabah dan tukang Ojek, aku pun juga berwira usaha dengan membuka counter hp. Dari ketiga mata pecaharian inilah aku membiayai hidupku dan keluargaku, hingga akhirnya aku pun bisa ikut bimbel khusus SNMPTN di salah satu lembaga yang cukup terkenal di kotaku. Dari sinilah aku memulai asahku untuk mewujudkan cita-citaku untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Di dalam perjalanan aku menimba ilmu di bimbel tersebut, hatiku sedikit terganggu dengan timbulnya benih-benih cinta di hati kepada seorang perempuan yang memang cantik parasnya. Sayang pada saat itu dia sudah punya pacar, dan pacarnya kebetulan adalah temanku sendiri. Namun ternyata temanku hanya mempermainkan perempuan yang aku cintai itu, aku pun menjadi iba dan merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya. Setelah dia putus dari temanku, benih-benih cinta di antara kami pun semakin tumbuh. Pada akhirnya kami pun diterima di universitas yang sama, tapi anehnya hatiku justru tidak nyaman dengan hubungan yang kami bina. Hatiku mengatakan bahwa ini salah, dan segera harus kuhentikan…!!!
            Lewat takdir Allah, aku masuk di perguruan tinggi yang sebenarnya kurang aku minati. Sedikit kecewa, namun aku yakin pasti Allah punya rencana lain buatku. Di kampus baruku ini aku tinggal di masjid bersama kakak angkatan yang notabene adalah aktivis dakwah. Aku banyak belajar dari aktifitas apa yang beliau lakukan, mulai dari adab perempuan dengan laki-laki, cara bergaul, dan banyak pengetahuan lain yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan. Pada suatu waktu akhirnya aku semakin yakin dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan perempuan yang belum halal untukku secara baik-baik. Awalnya memang sulit, tapi sekali lagi kuyakinkan diriku bahwa ini memang tidak benar. Akhirnya dengan alasan yang aku sampaikan ke dia, dia pun menerima keputusanku meskipun aku yakin itu juga sangat berat buat dia.
            Setelah peristiwa itu, aku semakin banyak belajar Islam lewat kajian-kajian yang diadakan oleh LDK atau LDF di kampusku, dan alhamdulillah sampai sekarang aku masih diberikan keistiqomahan oleh Allah untuk menetapi jalan dakwah yang penuh rahmat ini. Awalnya dulu aku menolak ajakan kakak-kakak angkatan untuk bergabung dengan SKI fakultas atau LDK universitas. Pikirku mengikuti hal-hal demikian hanya buang-buang waktu saja. Namun semua asumsi ku mulai berubah ketika setiap malam aku melihat teman-teman sefakultasku berkumpul di depan masjid. Awalnya aku mengira mereka sedang rapat, tetapi setelah aku telusuri dari seorang teman ternyata mereka sedang melaksanakan halaqoh. Iya HALAQOH..,, apa itu ??? aq sendiri pun awalnya tidak mengerti apa yang dimaksud halaqoh itu. Akhirnya rasa penasaranku membuatku terjerumus untuk bergabung dengan mereka, di suatu malam aku memutuskan ikut nimbrung dengan teman-teman yang dihalaqohi kakak angkatan yang kebetulan sekamar denganku.
               Lewat halaqoh tersebut semakin mengukukuhkan niatku untuk masuk lebih dalam di jalan dakwah tercinta ini, dan aku pun semakin bersemangat untuk mendakwahkan Islam ke teman-teman yang aku kenal. Aku yakin semua kegagalanku dulu adalah wujud cinta Allah kepada ku, lewat takdir-Nya aku bisa menikmati indah dan manisnya ukhuwah Islamiyah dalam medan juang dakwah.
            Waktu semakin berlalu, dan amanahku pun semakin bertambah. Aku yang dulunya dihalaqohi, sekarang berubah menjadi orang yang menghalaqohi. Memang amanah dakwah semakin lama semakin berat, namun dengan secercah ketulusan dan keikhlasan dalam memperjuangkan Islam, dakwah ini benar-benar begitu terasa nikmat. Saat ini aku semakin tahu bagaimana dakwah ini diperjuangkan, dikader dan mengkader adalah sebuah proses panjang yang sanggup membuat dakwah ini terus bertahan dan berkembang.
            Sekali lagi syukur tiada tara terucap sekeras-kerasnya pada sang kholik pencipta hamba. Engkaulah satu-satunya dzat maha pengasih lagi maha penyayang yang mengerti apa yang aku butuhkan, bukan keinginan kami yang engkau kabulkan tetapi memang kebutuhan kami lah yang Engkau berikan…!!! Semoga Allah menetapkan hati ini dalam naungan Islam sampai tercabutnya nyawa dari jasad fana’ ini. Amin..!!!
           





Biodata Diri
Nama                                                   : Ainun Naim
Fakultas / Jurusan                                : Ekonomi dan Bisnis / Ekonomi Pembangunan
Angkatan                                            : 2008
Nomor Hp                                           : 085655266209
Email                                                   : ainun_ie08@yahoo.com
FB / Blog                                            : http://www.facebook.com/profile.php?id=1472594358 (Ainun Naim) / http://islamainun17.blogspot.com/
Amanah Sekarang                               :
-          Ketua Dewan Kaderisasi MoSAIC (Moslem Student Association of Economic and Business Faculty) Unair Surabaya



No comments:

Post a Comment