Wednesday, November 14, 2012

Enjoy Life VII ( Aku dan LDK 23)



           Duarrr!! Suara petir terdengar sangat keras. Pagi ini hujan begitu deras. Dari jendela kamar kupandangi langit begitu gelap menyelimuti tanah Indralaya. Gemuruh angin berhembus kencang memaksa pohon-pohon menyibakkan ranting-rantingnya. Si ulat kecil yang baru berumur satu minggu harus rela kehilangan rumahnya. Terbang tersapu angin entah kemana.
            Setengah jam aku menunggu, akhirnya hujan pun reda. Kulangkahkan kaki menuju kampus perjuangan. Kampus dimana kugantukan impian ayah dan ibu. Kampus dimana aku bersama kawan-kawan berpadu dalam satu Lembaga Dakwah Kampus menanamkan nilai-nilai Islami.
            Kami sadari bahwasanya 2 SKS mata kuliah Agama Islam takkan pernah cukup untuk menambah pengetahuan keislaman. Apalagi di kampus juga telah banyak berkembang ideologi-ideologi baru yang bernilai positif maupun negatif. Maka dari itu, agar akidah Islam tidak terkontaminasi oleh ideologi-ideologi negatif sekaligus meningkatkan wawasan Agama lslam, Kami telah menmbentuk suatu wadah khusus bagi mahasiswa yang bernama Mentoring atau Asistensi Mata Kuliah Agama Islam.
@  @  @
            Langit membiru sedia kala. Terik mentari mulai menyengat pandanganku. Sepasang merpati beterbangan lincah. Musim semi telah kembali! pikirku saat masih di dalam angkot. Tiba-tiba asap rokok dari penumpang di sebelahku melenyapkan semuanya. Walaupun dia duduk di dekat pintu, bau rokoknya tidak bisa terhindarkan karena hidungku sangat sensitif dengan asap rokok. Kesal memang. Entahlah, padahal Pemerintah sudah membuat aturan larangan merokok di tempat umum, tetapi tetap saja tidak diindahkan. Pernah aku berharap semua rokok yang sedang diisap meledak. Sama seperti kejadian beberapa bulan lalu di Bekasi agar mereka kapok dan berhenti merokok.
Sesampainya di kampus kusempatkan diri tuk salat dhuha di mushola. Tak lama kemudian Adit, kawanku di Fakultas Ekonomi sekaligus wakilku di Badan Semi Otonom Mentoring UKM Nadwah datang.
“Assalamu’alaikum.” Sapanya saat aku sedang melepas sepatu.
            “wa’alaikumussalam.” Balasku dengan senyum.
            “Mat, Kamis depan jadi kan kita rapat dengan dosen-dosen Agama Islam?” tanyanya.
“Kemarin aku sudah temui Pak Zulkifli selaku kepala dosen mata kuliah Agam Islam. Kata beliau, Insya Allah diusahakan.  Oiya, Jangan lupa kau siapkan materi-materi yang akan
kita sampaikan nanti.” kataku.
            ‘Oke Bos!” tegasnya.
            Memasuki mushola, mataku tertuju pada beberapa mahasiswa yang duduk melingkar. Ternyata mereka adalah mahasiswa baru yang sedang mengikuti kegiatan mentoring. Senang rasanya melihat mereka aktif bertanya tentang agama Islam. Semangat merasuki tubuhku. Legalitas Mentoring menjadi 1 SKS harus terlaksana tahun ini.
            Kuakui, melegalkan Mentoring menjadi 1 SKS bukanlah hal yang mudah. Butuh perencanaan yang matang dan proses yang panjang. Dukungan dari dosen-dosen agama Islam pun sangat diperlukan. Semoga agenda pembahasan Mentoring Kamis depan bersama seluruh dosen Agama Islam berjalan lancar.
@  @  @
            Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Si ulat kecil nampak lebih besar. Perlahan ia berjalan menggapai dedaunan. Waktunya untuk sarapan. Mulutnya mengunyah ujung daun sedikit demi sedikit. Sejenak ia terhenti saat melihat kupu-kupu yang melintas di atasnya.
            Benarkah aku akan menjadi seperti dia?
            Menghiasi bumi dengan warna yang indah.
            Terbang bebas, hinggap di mana saja
            Hindari gelapnya kehidupan manusia
            Jalur Indralaya-Palembang terlihat padat. Terang saja, hari ini Universitas Sriwijaya menggelar Wisuda ke-100. Di depan halaman auditorium berjejer mobil-mobil pribadi dari keluarga wisudawan dan wisudawati. Kupastikan dalam hati, tahun depan adalah giliranku! Terbayang dalam khayalan saat aku diwisuda nanti. Berdiri tegar mengenakan baju toga penuh kebanggaan dengan gelar Sarjana Ekonomi di samping kedua orang tua dan tiga adik perempuanku. Ya, kedua orang tuaku pasti bangga saat mendengar namaku, Rahmat Hidayat, S.E.
Beberapa saat kemudian handphone-ku berdering. Assalam. Kak, nanti mentoringnya dimana? Di bawah pohon samping dekanat lagi ya? SMS dari Arif, salah satu mentee-ku di FMIPA. Dia adalah ketua di kelompok mentoringnya.
            Hari ini kita di mushola saja balasku.
            Kuseka mataku yang melembab. Benar kata Ustadz Sayful, “sebelum meninggalkan kampus selayaknya ada sesuatu hal yang kita wariskan untuk dakwah ini.” Merenung sejenak, kupikirkan apa yang telah aku persembahkan untuk jalan dakwah ini ternyata belumlah ada apa-apanya. Lalu ku berjanji di dalam hati, sebelum lulus kuingin Mentoring ini sudah menjadi 1 SKS. Agar seluruh mahasiswa merasakan indahnya Mentoring. Bukan hanya ilmu yang didapat melainkan juga persaudaraan atas dasar keimanan kepada Allah Sang Maha Cinta.
@  @  @
            Mentoring dimulai. Kami semua duduk membentuk lingkaran. Arif bertugas sebagai pembawa acara. Satu per satu agenda acara dia bacakan, dari pembukaan, tilawah, tausiyah, sampai dengan materi yang akan aku sampaikan hingga akhirnya penutup.
Kumulai penyampaian materi dengan mengungkapkan rasa syukur kehadirat Allah Swt dan tak lupa besholawat atas Rasulullah Saw. “Materi kali ini bertema Ghazwul Fikri atau perang pemikiran.” Ucapku kepada para mentee. Kemudian mereka menulis semua apa yang telah aku jelaskan.
Dua jam telah berlalu dan mentoring ditutup. Jam dinding mushola menunjukkan pukul 12.10 bertanda waktu sholat dzuhur sebentar lagi. Mushola semakin ramai oleh suara langkah kaki mahasiwa yang terus berdatangan.
“Don, kali ini kau yang adzan ya…” pintaku pada Doni, salah satu mentee yang baru saja selesai mengambil wudhu.
“iya, Kak.” Sahutnya.
“Tapi ingat, adzannya nggak boleh kencang-kencang ya.” Lanjutku.
“Lho, memangnya kenapa, Kak?” tanyanya heran.
“Ya iyalah, kalau adzan itu lafadznya Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah dan seterusnya, bukannya kencaaang kencaaaaang.”
“Hahaha… kakak ini ada-ada saja.”
@  @  @
            Setelah salat dzuhur aku segera bergegas menuju gedung MPK untuk menghadiri rapat dengan dosen-dosen Agama Islam. Dengan berpakaian batik Adit menungguku di teras gedung. Bersama-sama kami masuk ke ruangan rapat. Pak Zulkifli beserta dosen yang lain menyambut kami dengan senyum. Rapat pun di mulai.
            Kami langsung memaparkan segala hal yang berkaitan tentang mentoring di Unsri. Ada beberapa poin yang kami sampaikan. Pertama, kami kembali menyampaikan latar belakang kenapa mentoring harus ada di Unsri. Kedua, kami sampaikan juga manfaat dan tujuan dari mentoring itu sendiri. Kemudian yang terakhir yaitu faktor pendukung mentoring seperti kurikulum, tenaga pengajar atau mentor, serta teknis penilaian.
            Setelah kami berpresentasi tibalah saatnya untuk para dosen memberikan tanggapan. Seperti apa yang aku harapkan, semoga program Mentoring ini didukung oleh para dosen menjadi 1 SKS.
            “Kami tetap mendukung adanya mentoring. Tetapi untuk menjadikan mentoring 1 SKS tuk saat ini masih belum bisa.” Ucap Pak Zulkifli kepada kami.
            “Belum bisa kenapa, Pak?” Tanya Adit.
            “Belum bisa karena Kami butuh keprofesionalan kalian selaku penyelenggara. Tahun kemarin saja kalian mengumpulkan sertfikat mentoring padahal saat itu UAS sudah berlangsung.” jawabnya.
            “Kalian cukup meningkatkan kinerja sehingga Kami yang disini semakin yakin dan siap mendukung pembentukan Asistensi Mata Kuliah Agama Islam 1 SKS. Untuk nilai Mentoring tetap Kami berikan tiga puluh persen dari nilai mata kuliah Agama Islam. Jangan putus asa! Karena Kami selalu mendukung kalian begitu pula Allah Azza wa jalla.” Tambahnya sembari memberikan senyuman kepada kami.
            “Kenapa sih, berbuat kebaikan saja kayaknya susah banget?! Padahal yang kita perjuangkan adalah tegaknya Dinul Islam, agama yang kita cintai.” ucap Adit sesampainya kami di mushola Fakultas Ekonomi.
            “Aku juga sedikit kecewa. Tetapi, apa yang diucapkan oleh Pak Zulkifli ada benarnya. Kita memang belum ahli dalam mengelola mentoring. Setidaknya kita telah berusaha semaksimal mungkin. Ini adalah modal kita untuk selanjutnya.” Ujarku.
 “Jangan menyerah! Kita akan tetap berjuang, terus mengevaluasi mentoring sehingga kita mampu menutup segala kekurangan-kekurangan yang ada. Dan pada akhirnya mentoring menjadi resmi 1 SKS. Ingat kawan, selama Panji Islam berkibar di muka bumi ini mentoring akan terus berjalan.”
@  @  @
            Di kegelapan malam aku kembali bersimpuh, sujud menghamba pada-Mu Yang Maha Pengasih. Tak kuasa mataku berderai. Mengalir doa-doa yang kupanjatkan di setiap air mata yang berjatuhan.
Ya Allah… Engkaulah yang mengubah malam menjadi siang, siang menjadi malam maka tunjukilah kami semua menuju jalan-Mu yang lurus
Ya Allah… Engkaulah Raja dari segala Raja maka permudahlah segala urusan-urusan kami
Ya Allah… Engkaulah Maha membolak-balikkan hati maka persatukanlah kami semua dalam naungan cinta kasih-Mu
Ya Allah… Engkaulah cahaya di atas cahaya maka terangilah kami dengan karunia iman-Mu
Si ulat kecil kini telah menghilang, bukan lenyap ataupun mati. Melainkan berubah menjadi kepompong. Menanti masa gemilang di kemudian hari. Saat cita-citanya terkabulkan. Menjadi kupu-kupu idaman.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
(Al-Imran : 110)


J SENYUM MENTORING SENYUM KITA SEMUA J
Allahu Akbar!!!


*MPK = Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian




Biodata Penulis
Nama Lengkap          : ICHWANUDIN
Angkatan                   : 2009
Jurusan                      : MATEMATIKA/FMIPA UNSRI
FB                               : Grey Fannani
Twitter                       : @Grey_Fannani
Blog                            : Grey-Fannani.blogspot.com
Amanah                     : Staff Departemen Media Muslim Center UKM NADWAH
  UNIVERSITAS SRIWIJAYA
CP                               : 081328283525


No comments:

Post a Comment