Monday, December 10, 2012

Enjoy Life ( Aku dan LDK 27)


Status Aktivis Dakwah

In the beginning...
Pagi menyapaku dengan angin yang berhembus dingin seperti biasa. Membuka kelopak mata, pun aku disuguhi sebuah hawa sejuk yang menggugah segenap jiwa tuk bersemangat menyongsong hari yang cerah. Pekan ini mading kampus dipenuhi rekruitasi beberapa unit kegiatan mahasiswa (UKM) atau juga bisa disebut organisasi mahasiswa (ormawa). Sebagai mahasiswa baru, tentunya hal ini sangat menarik dan menjadi topik diskusi hangat di kelas kami.

Berdasarkan hasil pembicaraan dengan beberapa teman, ku ketahui di kelas kami ada beragam UKM yang diminati. Dari mulai unit kerohanian, olahraga, hobi bahkan ada yang sudah tertarik masuk lab walau masih tingkat pertama.

Aku menjadi salah satu diantara beberapa orang yang berminat masuk di organisasi dakwah kampus atau biasa disebut rohis. Hal yang sama terjadi pada beberapa kawan-kawanku yang sekelompok denganku ketika liqo semester lalu. Yeah, liqo’ atau mentoring memang agenda wajib mahasiswa disini ketika semester satu. Tampaknya mentor kami berhasil meyakinkan kami untuk tetap menggali ilmu agama, menyandingkannya dengan ilmu dunia yang akan kami terima ketika kuliah. Dan alhamdulillah Allah memberikan jalan untukku melangkah kesempatan di jalan ini, jalan yang takkan pernah aku sesali. Inilah jalanku.

--------------------------------------------
Aktivis dakwah, Kenapa Tidak?

Suatu ketika aku penasaran dengan seorang kawan yang ada di kelas. Dari penampilannya dia tampak menjaga dirinya, layaknya muslimah taat lainnya yang senantiasa memang diharuskan menjaga diri. Hijab ia kenakan, tutur kata dan tingkah laku ia jaga, tetapi...

"Kamu ikut rohis ya Ti?",tanyaku kepadanya pagi itu. Dosen belum datang, dan suasana kelas belum terlalu ramai. Suasana normal mungkin aku tak mampu memberanikan diri menyapanya dengan pertanyaan seperti itu.

"Hmm, nggak”, gumamnya singkat.
"Haa? Nggak?”, responku terkaget, “kenapa ngga?",tanyaku kembali. Aku terkejut mendengar jawabnya. Padahal ku duga dia anak rohis juga.

"Statusnya itu lho.”, dia terdiam sejenak, lalu ia tambahkan kata-katanya, “ Aku masih begini, masih belum ngerasa mampu. Nanti malah bikin...", kedatangan dosen di kelas kami mengalihkan perhatiannya. Percakapan kami berhenti sampai disitu. Tetapi sedikit rasa keingintahuanku terobati.

Status. Ya, alasan dia adalah status. Mungkin beberapa mahasiswa lainnya yang tidak ingin menyentuh ranah lembaga dakwah kampus (LDK) memiliki alasan yang demikian. Mereka merasa tidak cukup baik, tak pantas atau bahkan merasa belum waktunya.

Dan aku sendiri mengapa berani? Apakah aku sekarang sudah pantas?

Sekilas, percakapan singkat pagi itu membawaku terbang ke dalam kenangan lama. Ketika masa SMA, aku jauh dikatakan berani untuk ikut mengambil peran yang sama.

"Masak anak rohis nyontek? Masak anak rohis pacaran? Masak anak rohis begini begitu bla, bla, bla?", sebuah pertanyaan tajam yang pernah dilontarkan teman yang melihat anak-anak rohis di sekolah kami berlaku demikian. Sebuah pertanyaan yang saat itu membuatku terdiam, terdiam dan tampak memilih bermain aman. Aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana.

Temanku tidak salah, anak rohis yang bisa disebut aktivis dakwah sepatutnya memang menjadi role model bagi orang lain di sekitarnya. Namun...

---------------------
Memahami Kesempurnaan
Angin berhembus sejuk malam ini. Inilah Bandung, tempatku menempa diri, ditemani rerumputan yang senantiasa hijau berhias embun yang menyejukkan hati. Langit mendung, tetapi tampaknya perjalanan hari ini tak akan batal, apalagi hanya karena air.

Kamis malam, perjalanan pertamaku ke tempat ini. Sebuah tempat milik seorang ustaz yang mungkin sudah terkenal seantero Bandung. Bukan, Indonesia pun pasti mengetahui siapa beliau. Ceramahnya sempat menghiasi layar kaca ketika itu, walau kata orang popularitasnya meredup sejak kejadian itu.

“Alhamdulillah sudah sampai”, seru kak Indra, ketua LDK tempatku bernaung yang memboncengku malam itu.

“Lho kok ramai ya?”, sahutku. Kami memasuki bagian depan sebuah kompleks pondok pesantren. Tetapi sudah terlihat banyak mobil dan motor berjejalan memenuhi parkiran. Seperti memang akan ada pengajian besar.

“Iyalah. Dulu sebenarnya lebih ramai. Bahkan bisa meluber sampai ke jalan raya pengunjung ketika pengajian kamis malam”, jawab Kak Indra.

“Bukannya sejak saat itu saya sering baca berita katanya pengajian Pak Ustaz jadi sepi ya”, tukasku, “tapi masak sepinya aja gini, gimana ramainya?”, tambahku. Kak Indra hanya menjawabnya dengan tersenyum.

Malam ini aku baru menyadari satu hal. Ustadz yang satu ini memang keren. Pantas banyak yang menyukainya ketika mendengar ceramahnya di depan televisi. Namun mendengar ceramahnya langsung disini, rasanya memang berbeda. Setiap kata, dalil dan contoh sangat pas dan mudah dicerna. Sempurna. Dan mungkin inilah yang dirasakan ratusan orang lain yang menghadiri pengajiannya hingga memaksa menutup jalan raya di waktu silam.

Dalam Surat At Tin dijelaskan bahwa manusia memang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tetapi tidak ada yang mengatakan manusia itu sempurna. Yang paling sempurna adalah Allah, dan sebaik-baik panutan hanya Nabi Muhammad Saw

Mungkin jamaah yang tersisa disini menyadarinya. Bahwa sang ustaz pun manusia biasa, terkadang boleh jadi melakukan kesalahan betapapun ceramahnya mengandung nilai keislaman yang begitu mempesona. Sepertinya tidak akan pernah ada aktivis dakwah jika menunggu peran itu diambil sosok yang sempurna. Bukankah Rasulullah juga menyuruh kita menyampaikan ilmu darinya walau hanya satu ayat yang kita bisa sampaikan?

"Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan" (Ali bin Abi Thalib)

-----------------------------------
Jadi Status Itu...

Status aktivis dakwah, apakah pantas aku memilikinya? Perlahan tetapi pasti aku mulai menemukan jawabannya. Jawabannya tenggelam diantara lautan dan masuk ke dalam palung terdalam. Tidak ada. Aku mencoba mencarinya tetapi tetap tidak ada. Mengapa demikian? Entahlah. Mungkin ini bukan tentang pantas atau tidaknya kita, tetapi apakah kita telah memantaskan diri kita untuk itu. Apakah kita telah berusaha membuat diri kita pantas?

Yang jelas, bukan karena status aktivis dakwah kita harus rajin beribadah, sholat fardhu pada waktunya, shaum ketika Ramadhan tiba, membayar zakat, atau bahkan naik haji ke Baitullah. Bukan karena aktivis dakwah kita menjaga diri, mata kita, telinga kita, kaki kita, menjaga pergaulan kita, menjaga semua yang kita miliki dari hal yang diharamkan oleh-Nya. Bukan karena aktivis dakwah bukan?

Apakah lantas ketika kita tidak mengemban amanah ini, kita jadi bebas menjadi muslim yang sholatnya jarang, ibadahnya nggak karuan, perilakunya begajulan, sementara kita masih berani mengharapkan ampunannya di hari pembalasan?

Tentunya bukan karena status aktivis dakwah ini kita berdakwah. Dan bukan karena status aktivis dakwah kita menjadi muslim, namun karena kita muslim sudah seharusnya kita menjadi aktivis dakwah.

Apapun bagaimanapun, lakukan itu hanya niat untuk-Nya.

Larilah hanya menujuNya.
Meloncatlah hanya ke haribaanNya.
Walau duri merentas kaki.
Walau kerikil mencacah telapak.
Sampai engkau lelah.
Sampai engkau payah.
Sampai keringat dan darah tumpah.
Maka kekhusyu’an akan datang padamu ketika engkau beristirahat dalam shalat.
Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat.
Lalu kau pun pasrah, berserah.
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia PASTI melihatmu!
(Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah)

Biodata :
Nama lengkap             : M. Faizal Ramadhan
Nama pena                  : Raffa Muhammad
Angkatan                    : 2010
Jurusan                        : S1 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Bandung
FB                               : https://www.facebook.com/ramadhan.faizal
Twitter                                    : science_sparker
Blog  : multiply           : http://ramadhanfaizal.multiply.com/
            blogger            : http://raffachronicle.blogspot.com/
Amanah                       : Madrasah Quran Syamsul Ulum, TPA Al Ikhlas, Riset Lab Antena ITT

No comments:

Post a Comment