Malam Ke-13: Tak Ada Kesempatan Kedua

https://www.birulangit.id/
Malam Ke-13: Tak Ada Kesempatan Kedua

Oleh Dr Afrianto Daud

---

Hidup adalah diantara kenikmatan terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Kenikmatan yang wajib kita syukuri. Tak ada kenikmatan lain yang bisa menggantikan nikmat kehidupan. Ini adalah harta paling berharga yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Karena hidup adalah nikmat paling besar, dia mestilah kemudian wajib dipertahankan dan diperjuangkan untuk dan dengan harga apapun.

 

Namun hidup yang berharga ini hanyalah sekali. Islam tak mengenal reinkarnasi seperti agama lain. No second chance. Tak ada kesempatan kedua. Never. Buktinya, mereka yang sudah mati, tak pernah ada kisah kembali. Tak ada ceritanya dalam keyakinan seorang muslim mereka yang mati bisa kembali ke dunia dalam bentuk lain. Menjadi harimau, misalnya. Apalagi menjadi hantu gentayangan. Nope!

 

Bagi sebagian orang, hidup yang hanya sekali ini kadang bisa disalahpahami. Bahwa karena hanya sekali, ya sudah nikmati sepuasnya. Kapan lagi coba bisa merasakan kenikmatan dan keindahan dunia. Kapan lagi bisa menikmatinya asyiknya bunga-bunga dunia. Maka, ada yang kemudian dimabuk kenikmatan dunia itu. Sampai kemudian ‘tiba-tiba’ maut memanggilnya. Dia pergi meninggalkan kehidupan dunia selamanya. Pergi yang tak pernah kembali.

 

Namun bagi mereka yang beriman, hidup yang hanya sekali itu mestilah dimaknai sebaliknya. Bahwa karena dia hanya sekali, maka dia mesti dirawat, dijaga, dan diberdayakan sepenuhnya untuk meninggalkan jejak kebaikan. Atau kalau memakai bahasa Al-Quran, muslim yang lurus akan memaksimalkan anugerah kehidupan ini sebesar-besarnya untuk menjalani fungsi-fungsi kekhalifahan manusia di dunia. Allah SWT menggariskan dua misi utama manusia di muka bumi. Pertama sebagai hamba yang senantiasa menyembah Allah. Kedua, sebagia khalifah di bumi. (Q.S. 2:30)

Sebagai bekal manusia menjalan fungsi kekhalifahannya itu, Allah telah mentakdirkan manusia sebagai makhluk dengan sebaik-baik ciptaan (Q.S: 95:4). Berbeda dengan binatang, malaikat, tumbuhan, atau makhluk lainnya, manusia dilengkapi dengan semua potensi yang bisa dia gunakan dalam menjalankan misi kehidupannya.

 

Manusia tak hanya terdiri dari unsur fisik, tetapi juga ruh, nafsu, hati, dan akal. Ini adalah unsur yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh makhluk Allah yang lain. Dengan unsur-unsur yang lengkap ini, manusia berpotensi menjadi lebih mulia di hadapan Allah ketimbang malaikat, sekalipun. Tapi, pada sa’at yang sama dia juga bisa lebih rendah dari binatang, jika tak mampu memanfaatkan keseluruhan unsur potensi yang Allah berikan dengan benar.

 

Misi sebagai khalifah itu secara umum bisa dipahami sebagai agen-agen pembawa kebaikan bagi perkembangan peradaban manusia di bumi. Yaitu ketika manusia mampu mendayagunakan segala potensi yang Allah berikan itu secara tepat, proporsional, dan optimal. Didayagunakan untuk kebaikan dan kebermanfaatan untuk manusia dan kemanusiaan.

 

Seorang khalifah di bumi, misalnya, adalah orang yang bisa memaksimalkan fungsi akalnya. Dia terus belajar banyak hal. Mengasah pikirannya. Tanpa lelah terus melakukan olah pikir. Sampai kemudian dengan ilmu yang dia pelajari dia menyumbangkan kebaikan dan kebermanf’atan untuk orang-orang dan dunia di sekitarnya.

 

Pun begitu dengan nafsu yang dia miliki. Seorang khalifah di bumi mampu menafaatkan nafsunya di jalan yang benar. Nafsu yang benar itu misalnya terjewantah dalam keinginan dan cita-citanya yang tinggi membangun peradaban ummat manusia.

 

Mereka punya impian yang baik. Sebutlah, misalnya keinginan membangun dunia pendidikan yang lebih baik. Membangun ekonomi ummat. Mengentaskan kemiskinan. Melawan kezaliman dan ketidakadilan.

 

Mereka juga bercita-cita menjadi orang kaya. Tapi, tidak hanya sekedar kaya. Kaya yang membawa manfaat bagi kehidupan orang lain. Bukan orang kaya yang sombong seperti kisa Qarun itu. Dan seterusnya.

 

Kita bersyukur masih diberi kesempatan, ketika nafas masih dalam rongga badan kita. Maka mari jalani hidup yang hanya sekali dengan sebenar-benar hidup. Bukan seperti zombie. Yang fisiknya masih bergerak, tetap jiwanya sudah lama mati. Iman di dada kaum muslim adalah energi yang tak pernah habis yang insyaAllah akan terus mendorong mereka untuk benar-benar hidup sebelum mati.

 

Pada akhirnya, dalam hidup yang sekali ini, kita semua hanya memiliki dua pilihan. Ketika nanti kematian itu menjemput kita, apakah kita akan dikenang sebagai seorang yang memiliki sejarah atau hilang dan lenyap di telan waktu. Tanpa jejak. Tanpa kisah yang bisa dibaca dan diteruskan ke generasi berikutnya.

 

Jika gajah saja mati bisa menginggalkan gading, kita manusia tentu pantas mati dengan meninggalkan nama yang baik. Hidup yang hanya sekali itu mestilah ditulis dengan sejarah yang baik. Sejarah yang kemudian bisa dikenang dan jadi pelajaran bagi generasi setelah kita.

 

Jika almarhum Didi Kempot itu saja kemudian bisa dikenang banyak orang, terutama oleh ‘sobat ambyar’nya, atau bahkan ada yang menyebutnya dengan ‘the Godftaher of broken heart’, karena kebaikan dan keseriusannya menemani mereka yang patah hati dalam karya-karya musiknya, jadi bisa bermanfat untuk orang banyak, bagimana dengan kita?

Al faatihah untuk almarhum Didi!

---

Demikian serial #semacamkultum malam ini. Description: 🙂