Malam Ke-14: Godaan di Sepanjang Jalan


https://www.birulangit.id/?m=1
Malam Ke-14: Godaan di Sepanjang Jalan

Oleh Dr Afrianto Daud
---

Birulangitid-Ketika puluhan ribu pasukan Thalut (seseorang yang diangkat menjadi raja di masa nabi Daud AS) berangkat menuju medan tempur dengan misi besar mengalahkan Jalut, sang perkasa yang digdaya, semua pasukan diingatkan tentang dua hal. Pertama, senantiasa patuh pada perintah pimpinan. Kedua, jika nanti bertemu air dalam perjalanan, cukup minum seteguk dua teguk saja, sekedar pelepas dahaga dalam perjalanan. Tak boleh banyak. Perintah yang terdengar sederhana, tetapi tidak begitu pada kenyataannya.

Ketika pasukan ini sedang kelelahan dalam perjalanan yang panjang, mereka bertemu sungai yang yang jernih. Saat menyebrang sungai, banyak anggota pasukan yang lupa atau tidak peduli dengan perintah ini. Mereka tak hanya minum sekedar melepas dahaga sebagaimana perintah, tetapi sepuasnya. Sampai mayoritas mereka kekenyangan karena minum. Akibatnya, mayoritas mereka tak sanggup melanjutkan perjalanan. Hanya sedikit saja yang akhirnya bisa meneruskan perjalanan. Melanjutkan misi pertempuran. Sejarah mencatat bahwa dari 70 ribu pasukan, hanya tinggal 300an orang saja tetap kuat sampai ke ujung.

Pasukan yang sedikit ini akhirnya bisa mengalahkan Jalut sang perkasa. Khususnya ketika anak muda bernama Daud yang waktu itu belum menjadi nabi tampil ke depan. Dengan kecerdasannya, Daud bisa mengalahkan Jalut. Jalut tumbang karena lemparan batu Daud. Tumbangnya Daud memukul mental pasukannya. Pasukan kecil Thalut itu akhirnya bisa mengalahkan pasukan besar dengan ijin Allah.
---

Kisah di atas adalah penggalan kisah legendaris dalam sejarah yang diceritakan Allah cukup detail dalam Al-Quran (2: 246-251). Kisah ini tak hanya ditemui di dalam Al-Quran, tetapi juga dalam Bibel. Dalam versi bahasa Inggris, sejarah ini dikenal dengan kisah David and Goliat. 

Kisah Thalut dan Jalut memberi kita banyak sekali pelajaran. Salah satunya adalah tentang syarat-syarat kemenangan. Baik kemenangan dalam makna spesifik seperti dalam sebuah pertempuran dalam kisah itu. Maupun kemenangan dalam makna luas, dalam memperjuangkan setiap cita yang kita punya dalam kehidupan kita. Tentang bagaimana bisa menggapai tujuan-tujuan besar kita. 

Disiplin adalah satu kata kunci dalam proses kemenangan. Dalam konteks kisah Thalut dan Jalut, hanya pasukan yang disiplin yang akhirnya bisa bertahan sampai ke ujung perjuangan. Mereka disiplin dan patuh mendengarkan perintah pimpinan. Tidak minum kecuali hanya seteguk dua teguk saja, walau sebenarnya mereka sangat ingin melahap air sungai itu sepuas-puasnya. Disiplin inilah yang akhirnya menguatkan mereka. Sebaliknya, yang tidak disiplin justru capek karena kebanyakan minum.

Disiplin di sini juga bisa dipahami sebagai ketangguhan mereka menghadapi godaan dalam perjalanan. Siap berkorban demi mencapai misi perjalanan. Adakah godaan yang lebih besar saat kita sedang sangat kehausan selain bertemu air jernih nan segar itu? Apalagi jika air yang sangat diinginkan itu sudah ada dalam genggaman, di depan mulut, mengitari badan. Tak perlu usaha lagi untuk bisa sampai ke rongga mulut. Sungguh godaan yang tak mudah. Banyak yang gagal menghadapi godaan ini.

Kisah kedisiplinan pasukan Thalut itu bisa kita refleksi pada kehidupan kita saat ini. Hampir semua kita memiliki impian yang bisa jadi tidak sederhana. Ada yang ingin bersekolah tinggi. Ada yang ingin menjadi kaya seperti Abdurrahman bin Auf itu. Ada yang bercita-cita membangun sekolah alternatif dengan kualitas hebat. Ada yang bermimpi menjadi hafidz Quran. 

Atau impian lain yang seperti sederhana, tetapi tak juga sederhana. Sebutlah, misalnya, bermimpi agar hidup sehat, agar bisa mengurangi berat badan, mengurangi makan yang high kolesterol, dan seterusnya.

Atau dunia umumnya dan bangsa kita khususnya saat ini memiliki misi besar ‘mengalahkan’ virus bernama Corona. Ini bukan sembarang misi pertempuran.

Pada kenyataannya, banyak yang punya impian besar seperti itu. Tapi, banyak yang gagal dalam perjalanannya. Seperti gagalnya kebanyakan pasukan Thalut itu. Penyebabnya tak lain karena tidak disiplin tadi itu. Tergoda oleh rayuan di tengah jalan. Lupa dengan tujuan dan cita-cita yang sudah dirancang. 

Ada yang bercita-cita jadi sekolah doktoral sampai ke luar negeri, tetapi tergoda dengan keindahan-keindahan kecil di tengah jalan. Tak fokus belajar IELTS karena masih asyik dengan proyek-proyek lain yang lumayan. Cita-cita sekolahnya jadi bubar. 

Ada yang sangat ingin diet, mengurangi berat badan. Tapi, tak kuat menahan bau harum rendang. Atau tak kuat melihat merekahnya merah ice cream, dan godaan makanan enak lainnya. Akhirnya cita-cita diet hanyalah menjadi cerita diet yang gagal. 🙂

Balik ke misi besar kita mengalahkan Corona, kisah kemenangan Thalut atas Jalut ini mungkin relevan dijadikan sumber inspirasi. Bagaimana kepatuhan terhadap protokol umara dan ulama dan kesabaran kita menghadapi godaan selama physical distancing menjadi diantara kunci kemenangan kita. 

Mari tahan diri dari godaan di perjalanan. Termasuk godaan untuk pulang kampung atau mudik ketika lebaran mendatang. 🙂

--
Demikian serial #semacamkultum malam ini.

Terimakasih kepada ‘jama’ah’ yang telah setia membaca. 🙂 

Semoga bermanfa'at!