Malam Ke-17: Mulai Dengan Tangisan, Akhiri Dengan Senyuman


https://www.birulangit.id/?m=1

Oleh Dr Afrianto Daud
---
Birulangitid-Tangis hampir selalu dijadikan tanda normal atau tidaknya seorang bayi yang baru saja terlahir ke dunia. Selain secara medis dijadikan indikasi berfungsinya organ tubuh sang bayi dengan baik (terutama organ pernafasan), sebagian orang juga memahami tangisan bayi itu secara filosofis. Bahwa tangisan itu bukanlah terjadi kebetulan. Tangis itu adalah bahasa yang menyampaikan banyak pesan.

Tangisan bayi itu bisa dimaknai sebagai bahasa alamiah bahwa setiap bayi mengalami keterkejutan berpindah dari alam rahim yang penuh kasih sayang ke ke dunia baru yang sangat boleh jadi penuh masalah dan tantangan. Tangis itu adalah bahasa paling genuine dari fitrah seorang manusia. Bahwa perjalanan hidup yang baru akan saja dimulai itu masih penuh dengan misteri.

Perjalanan manusia di dunia memang bukanlah jalan yang datar. Bukan pula jalan yang dipenuhi bunga di kanan kiri. Ini adalah jalan yang bisa saja terjal. Berliku. Awalnya jelas. Ujungnya belum tahu. Dunia adalah ibarat lorong gelap yang kita lewati. Tak hanya gelap awalnya, juga banyak jebakan dalam perjalanannya. Wajar jika jiwa lemah kita cemas.

Dengan kasih sayang Allah yang mengalir melalui kasih sayang orangtua, kita kemudian tumbuh menjadi seseorang. Dari yang tak bisa apa-apa, kecuali menangis itu, kemudia bisa ‘mengapa-ngapa’. Dari makhluk yang sangat lemah. Kemudian Allah kuatkan kita. Kita memulai kehidupan dengan kebodohan. Tak tahu apa-apa. Sampai Allah memberi ilmu. Dari makhluk Tuhan yang sesungguhnya miskin. Tak punya apapun. Sampa Allah memberinya rizki harta. 

Tapi ketika kita mulai mandiri secara fisik, bukan berarti kemudian kita benar-benar bisa kuat. Ada fitrah di dalam diri manusia yang terus mencari tempak bergantung yang lebih besar, lebih kuat, lebih digdaya dibanding dirinya. Fitrah itulah yang mendorong manusia mencari Tuhan Sang Pencipta. Dari dulu sampai sekarang.

Sebelum manusia mengenal agama samawi, pencarian manusia akan Tuhan ini sebagian bermuara pada penyembahan batu, pohon, berhala, dan binatang. Termasuk penyembahan pada bulan, bintang dan matahari, seperti yang dialami oleh banyak orang sebelum Ibrahim AS datang membawa wahyu ilahi.

Kisah-kisah tentang ‘pencarian Tuhan’ pada zaman dahulu maupun zaman sekarang, sekali lagi, adalah refleksi dari kecenderungan jiwa manusia yang hanif mencari sandaran yang Maha Kuat selama jalan hidupnya. Di sini kemudian manusia memerlukan guidance, semacam rambu-rambu yang akan mengarahkan jalannya di dunia. Agar kemudian manusia bisa sampai pada tujuan kehidupannya dengan baik. 

Maka bertemulah manusia dengan agama samawi. Agama yang dibawa oleh para nabi Allah. Agama yang mengesakan Allah. Membebaskan manusia dari penyembahan selain kepada-Nya. Dan setiap agama samawi itu memiliki kitab sebagai petunjuk. Kitab yang dijadikan pegangan bagi setiap pemeluknya dalam mengarungi kehidupan tadi. Agar mereka selamat dalam perjalanan. Demikianlah fungsi dari Injil, Taurat, Zabur, sampai Al-Quran.

Dalam keyakinan kaum muslimin, Al-Quran adalah mukjizat terbesar yang dianugerahkan ke-baginda Muhammad SAW – nabi terakhir. Dia adalah kitab yang tak ada keraguan kepada semua isinya (Q.S. 2:2), petunjuk bagi manusia untuk bisa membedakan mana yang haq dan yang batil (Q.S. 2: 185). Dia juga sebagai obat bagi jiwa manusia (Q.S. 17:82), sekaligus sebagai nasehat. Ujungnya, kaum muslim kemudian seharusnya menjadikan Al-Quran itu sebagai dustur – sumber hukum dan undang-undang. Berpegang teguh kepada ajaran Al-Quran adalah jalan keselamatan kita. Begitu keyakinan kita dan begitu juga yang disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhamamd SAW.

Secara kognitif, apa yang saya sebut di atas sudah jadi pengetahuan banyak kaum muslimin. Masalahnya adalah pada aspek afektif (keyakinan yang kuat di dada), dan pengamalan dalam keseharian kita (psikomotorik). Benarkah Al-Quran yang kita yakini sebagai petunjuk itu telah benar-benar menjadi pegangan kita dalam menjalani kehidupan kita? 

Ini adalah malam ketujuhbelas. Malam yang baik untuk merenung. Menanya diri tentang kedekatan kita dengan ‘buku petunjuk’ ini. Seberapa paham. Seberapa sering kita mempelajarinya. Seberapa komitmen kita menjalankan semua yang dituliskan di dalamnya. Mengamalkannya, dan seterusnya.

Kembali pada perjalanan hidup tadi. Jika dulu kita memulai hidup kita dengan tangis, sementara orang yang menyambut kita tersenyum gembira. Maka saat nanti orang menangis mengantar kita pergi, kita berharap bisa tersenyum mengakhiri kisah kehidupan kita di dunia ini. 

Berpegang teguh pada kitab Allah adalah jalan kita untuk tersenyum itu. Selain pada pengajaran yang ditinggalkan Rasulullah SAW. Ini mudah untuk dikatakan. Tapi, tak sederhana ketika diamalkan. 

Selamat menikmati malam ketujuhbelas.
--
Demikian serial #semacamkultum malam ini.