Sunday, May 24, 2020

Malam ke-29: Menuju ‘Finishing Touch’

0 comments

https://www.birulangit.id/?m=1


Oleh Dr Afrianto Daud

--
Birulangitid-Apa yang paling penting dari sebuah permainan seperti sepakbola? Apakah gocekan indah para pemain ketika membawa bola? Kecepatan lari para pemain? Atau tendangan keras atau sliding yang dilakukan secara akrobatik? Tentu bukan. Bukan itu yang paling penting.

Gocekan, tendangan, sliding, dan sebagainya itu tentu juga penting. Membuat permainan menjadi menarik untuk ditonton. Tapi, yang paling penting pada akhirnya adalah ‘finishing touch’ (sentuhan akhir) di depan gawang. Apakah gocekan indah bersemangat dari belakang itu kemudian bisa diselesaikan dengan gol indah dan kemudian menang, atau bola itu berakhir anti klimaks, tak menghasilkan apa-apa. Atau yang lebih menyedihkan malah kena kartu merah karena melakukan pelanggaran persis di depan gawang lawan. Sia-sialah segala usaha.

Ramadhan tentu bukanlah permainan sepak bola ataupun permainan lainnya. Tapi, beberapa sisi semangatnya bolehlah kita analogikan pada suasana kebatinan sebuah pertandingan sepak bola itu. 

Bahwa kita semua, Alhamdulillah, sejauh ini sudah berhasil melewati hari-hari yang cukup panjang. Memainkan ‘bola’ amal kita. Sekarang kita sedang menuju ke depan gawang. Tinggal dua malam lagi. Bisakah kita melesatkan ‘tendangan indah’ di akhir malam, dan kemudian besoknya berhak disebut sebagai ‘pemenang’?. Apakah kita berhak merayakan ‘idul fitri’ yang juga biasa dikenal sebagai hari kemenangan?

Tantangan sesungguhnya biasanya ada pada detik-detik akhir ini. Balik ke analogi pertandingan tadi, pihak lawan tentu akan berusaha keras sedemikian rupa menghambat laju bola agar tidak berbuah gol. Dalam konteks Ramadhan, kemenangan seorang shoimin tentu sangat tidak diinginkan oleh syeithan dan kawan-kawannya. Syeithan tak ingin melihat kaum muslimin meraih kemenangan. Maka, mereka pasti bersama-sama saat ini berdiri di ‘depan gawang’ menghambat laju amal baik kita.

Oleh karena itulah dulu sebelum Covid, malam-malam terakhir ini biasanya banyak kaum muslimin yang sebelumnya taraweh di masjid dan mushalla, kemudian beralih memenuhi berbagai tempat perbelanjaan. Mereka justru ‘thawaf berjama’ah’ di berbagai mal pada malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadhan yang sebenarnya adalah malam-malam terbaik.

Bahkan dalam kondisi Covid sekarangpun, tak sedikit kaum muslimin yang melakukan ritual tahunan yang sama. Ini sungguh mengkhawatirkan dan menyedihkan. Tak hanya tentang banyaknya orang yang seakan tidak peduli dengan protokol kesehatan ketika pandemi berlangsung, tetapi juga tentang bagaimana esensi puasa itu belum banyak mentransformasi kebiasaan sebagian kaum muslimin. Syeithan tentu bergembira melihat fenomena ini. 😞

Sekarang, mari balik ke diri kita wahai saudara. Alhamdulillah, kita masih punya waktu dua malam untuk fokus pada ‘gocekan terakhir’ amalan kita selama bulan penghulu segala bulan ini. Saatnya untuk fokus dan aware dengan segala godaan di penghujung permainan. Jika kita benar-benar ingin keluar sebagai pemenang – menjadi hamba yang bertakwa setelah Ramadhan sebagaimana tujuan berpuasa itu (Q.S 2:183).

Kita tidak pernah tahu masa depan. Kita juga tak pernah tahu apakah masih akan bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Apalagi saat ini kita hidup di masa-masa sulit. Ketika berita hidup dan mati adalah berita yang menghiasi hari-hari kita setiap hari. 

Menjadi ironis dan menyedihkan jika di masa-masa seperti ini kita masih menghabiskan energi atau bahkan menempatkan hidup kita dalam resiko untuk melakukan hal-hal yang tidak esensial selama Ramadhan ini. Berburu baju baru di mall-mal itu, misalnya, adalah sesuatu yang sama sekali tidak esensial. Termasuk, memaksakan diri untuk mudik, melakukan perjalanan panjang, melewati malam-malam terbaik kita di perjalanan, adalah diantara contoh amalan non-esensial lainnya.

Tinggal dua malam lagi waktu yang Allah janjikan dengan seribu satu kebaikan. Tinggal dua hari lagi waktu dimana segala amal baik akan diganjar berkali lipat. Dua malam lagi ketika do’a diijabah Allah SWT. Dua malam lagi, masa-masa meminta ampun atas segala kesalahan. Dua malam lagi, untuk lebih dekat dengan Al-Quran. Dua malam yang rasanya tak pantas kita habiskan di pusat-pusat perbelanjaan jika kita benar ingin memperoleh keberkahan.

Fokus dan awasi sliding lawan di depan gawang. Gocek ‘bola amal’mu sedemikian rupa. Abaikan segala bisikan syithan yang jadi lawan. Kemudian tendang ‘bola’mu ke gawang lawan dengan kencang. Sampai syaitan terpana, terkalahkan. Gool!

Hanya dengan kemenangan itulah engkau berhak bertakbir ‘menselebrasi’ kemenangan ketika Syawal menjelang.

Terakhir, mari kita renungkan warning Rasulullah SAW berikut ini:

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” [HR. Ahmad, dishahihkan al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani]

Tetap semangat brothers and sisters!

--
Demikian serial #semacamkultum malam ini. 🙏

No comments:

Post a Comment