Saturday, May 2, 2020

Malam Kelima: Antara Keinginan dan Kebutuhan

0 comments
https://www.birulangit.id/?m=1
Malam Kelima: Antara Keinginan dan Kebutuhan


Oleh: Dr. Afrianto Daud
---

Birulangitid-Pernahkah kita memiliki pengalaman saat memasuki pasar perbukaan di sore hari Ramadhan, kita seperti ingin memborong banyak hal? Semua seperti kelihatan enak untuk disantap. Mulai dari sala lauak, ondeh-ondeh, kurma, cindua, sampai kolak pisang, kita kantongi dan bawa pulang. 😋 Tapi, ketika waktu berbuka datang, tak banyak yang kita bisa habiskan. Rasa dahaga dan lapar yang kita rasakan ternyata bisa hilang hanya dengan segelas teh panas, tiga biji korma dan sepiring kecil kolak pisang itu. Badan kita sudah kembali segar dan kuat. 

Apa yang kita alami saat melihat makanan di sore hari atau saat melihat makanan di jalan yang dijajakan banyak penjual itu adalah dorongan dari dalam diri yang lebih banyak didrive oleh keinganan (nafsu). Sementara apa yang terjadi di meja makan setelah itu adalah fakta tentang batas kebutuhan kita. Puasa menyadarkan kita bahwa yang kita butuhkan dalam hidup sesungguhnya tak banyak, sangat terbatas. Sementara kenginan kita sungguh tiada batas.

Ya. Begitulah puasa memberi kita banyak pelajaran. Salah satunya tentang hakekat kebutuhan manusia dengan dunia, seperti makanan itu. Dalam bahasa para sufi, kebutuhan kita terhadap makanan sesungguhnya tak lebih dari sekedar bagaimana menguatkan tulang punggung kita agar tetap kuat bermunajat kepada Allah. Karenanya akan menjadi ironis, misalnya, jika ada manusia sampai menebar fitnah, bunuh-bunuhan untuk mencari dan menumpuk makanan. Atau meraka yang tak mau berbagi dengan orang lain, karena takut miskin. 

Berpuasa di masa pandemi seperti ini lebih jauh seharusnya bisa makin menyadarkan kita tentang mana nafsu yang tak bertepi dengan keperluan yang sangat terbatas itu. Karena sekarang manusia lebih banyak di rumah, coba sesekali tengok isi lemari pakaian kita. Apakah semua fungsional atau apakah semua terpakai? Atau apakah lebih banyak terpakai atau lebih banyak menumpuk tak tersentuh? 

Mungkin kebanyakan kita bisa melihat sendiri bahwa banyak pakaian yang kita beli itu, termasuk aksesorinya, seperti tas, sepatu, dan sejenisnya banyak yang tidak fungsional. Baik di masa sebelum Covid19, apalagi selama musim pandemi.

Itu baru bicara pakaian dengan aksesorinya. Coba juga ketika masa-masa di rumah ini, perhatikan berbagai perlengkapan dan perbotan rumah kita. Apakah semua memang benar-benar diperlukan, atau hanya sekedar pajangan tak tersentuh. Bahkan tak sempat dibersihkan. Padahal bisa saja sudah dibeli dengan harga jutaan. 

Dari dalam rumah, kita bisa refleksi ke luar rumah. Selama pandemi banyak kantor yang bekerja dari rumah. Tak ada rapat-rapat di hotel. Tidak ada perjalanan dinas. Tak ada studi banding. Apalagi sampai ke luar negeri. So far, it works quite well. Setidaknya tak terjadi keguncangan berarti dengan peniadaan kegiatan-kegiatan sejenis itu. 

Maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksi apakah kegiatan-kegiatan perjalanan dinas, rapat-rapat di hotel mewah, dan studi banding tertentu yang menghabiskan keuangan negara yang tak sedikit itu benar-benar kegiatan yang diperlukan, atau justru termasuk kategori kegiatan yang didrive oleh keinginan tak terbatas. Sebutlah keinganan untuk jalan-jalan. Keinginan untuk pelisiran, dan sejenisnya. Mari bertanya pada diri masing-masing. Jangan tanya rumput tetangga 🙂

Semoga puasa yang kita jalani selama pandemi ini makin mengasah hati dan jiwa kita. Tahu mana yang emas dan mana yang loyang. Mengerti mana yang penting dan mana yang tidak penting. Tak terjebak antara tipu daya nafsu yang tak pernah puas. 

Pada akhirnya kita seharusnya menyadari bahwa karunia Allah di dunia yang luas ini sungguh jauh lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang pada dasarnya sangat terbatas. Tapi, dunia yang luas menjadi terbatas untuk memenuhi keinginan nafsu satu manusia yang tanpa batas. 

#semacamkultum

No comments:

Post a Comment