Saturday, May 2, 2020

Malam Ketujuh: Karena Kita Sudah Lama 'Tergadai'

0 comments


https://www.birulangit.id/?m=1
Malam Ketujuh: Karena Kita Sudah Lama 'Tergadai'

Oleh Dr. Afrianto Daud
---

Birulangitid-Manusia terlahir dengan kecenderungan bawaan egosentris. Diantara sifat bawaan manusia adalah dia cenderung berfikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Bagaimana dirinya bisa memenuhi kebutuhannya. Mulai dari kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, dan papan, sampai pada pemenuhan kebutuhan lebih tinggi, seperti eksistensi diri (jika mengikuti tingkatan kebutuhan menurut Moslow itu). 

Sikap egosentris ini dengan mudah terlihat pada anak-anak yang belum memperoleh pendidikan yang cukup. Karenanya, tak heran jika kita sering melihat anak-anak bertengkar atau berkelahi hanya karena alasan sepele. Mereka cenderung ingin mengusai sesuatu sendiri. Mau menang sendiri. Mulai dari memperebutkan mainan sampai memperebutkan makanan. 

Jika tidak memperoleh pendidikan dan pembinaan yang cukup, dalam jangka panjang kecenderungan ego-sentris pada manusia melahirkan sikap selfish yang akut. Dia melahirkan karakter individualistis yang menjangkiti banyak orang dewasa. Mereka yang mau menang sendiri, tak peduli dengan orang lain adalah bagian dari tipe ini. Yang penting perutnya kenyang. Dirinya selamat. Tentang kepentingan orang lain. Bukan urusan dia. 

Jika manusia memiliki kecenderungan mementingkan dirinya sendiri, puasa datang sebagai cara Allah mendidik jiwa manusia agar bisa mengendalikan sifat selfish ini. Puasa adalah madrasah agar manusia bisa mengontrol hawa nafsunya. Jika nafsu dasar manusia cenderung kepada makanan, kepada lawan jenis, dan kepada aksesori keduniaan lainnya, maka puasa datang sebagai reminder bahwa ada waktunya manusia perlu mendidik dirinya untuk tidak selalu memenuhi keinginan nafsunya.

Ajaran Kanjeng Nabi yang mendorong para shoimin lebih banyak berbagi selama Ramadhan adalah bentuk lain dari bagaimana amalan puasa berperan sebagai ajang pendidikan kepada jiwa manusia. Bahwa ada waktunya kita mesti memikirkan orang lain. Memberi yang kita punya kepada sesama. Berbagi takjil, misalnya.

Tak mudah melakukan ini, karena sifat ego-sentris tadi itu. Dia perlu dibina dan dibiasakan sedemikian rupa. Sekali lagi, puasa adalah diantara jalan kita untuk belajar berbagi dan berempati dengan orang lain. Lebih dari itu, kita belajar bagaimana menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Inilah bentuk kesolehan sosial yang paripurna. Islam mengenalnya dengan sebutan ‘itsar’.

Yes. Puncak performan seorang manusia itu harusnya pada fase itu. Yaitu ketika dia bisa berbuat kebermanfatan lebih banyak pada orang lain, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW. Bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat untuk orang lain. Puasa adalah salah satu jalan kita untuk sampai ke fase ini.

Namun, kalau kita tarik lebih jauh ke belakang, sebenarnya pendidikan Allah untuk membina diri kita yang ego-sentris itu sebenarnya telah kita dapatkan jauh di awal. Saat kita bersaksi mengucapkan kalimat tauhid, membaca dua kalimat syahadat, itu sesungguhnya adalak kesaksian kita bahwa Allah adalah tujuan hidup kita. Nafsu kita dengan segala derivasinya mestilah tunduk pada semua aturan Allah dan Rasulnya. Nafsu itu tak boleh dibiarkan mengendalikan kita.

Apalagi kalau kita baca ayat-ayat Allah, maka kita akan sadar bahwa sesunggunya diri kita sudah lama ‘tergadai’. Syahadat yang kita lakukan sesungguhnya adalah bentuk ‘jual beli’ kita dengan Allah. Bahwa Allah SWT sudah lama ‘membeli’ jiwa dan harta kaum muslimin dengan balasa surga-Nya. (Baca Q.S At-taubah: 111).

Sampai di sini, hakekatnya memang kita tak pantas lagi mengikuti bawaan ego kita. Apalagi sampai menjadi budak nafsu. Keinginan manusia untuk berlomba-lomba tampil sebagai diri yang lebih dari yang lain menjadi tak relevan. Sifat angkuh, sombong, sok hebat, sok paten, dan sejenisnya yang biasanya didrive oleh self-ego itu kemudian tak lagi mendapatkan tempatnya.

Sesunggunya sholat kita, ibadah kita, hidup dan mati kita hanyalah untuk Allah SWT. Bukan untuk gaya-gayaan!

---
Demikian serial #semacamkultum malam ini. 🙂

No comments:

Post a Comment